Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Ke Tempat Wisata


__ADS_3

Bapak dan aku dari awal memang mengajak untuk langsung pulang. Akan tetapi, Mas Ovi lebih setuju dengan Rehan yang menyarankan untuk pergi ke tempat wisata. Mas Ovi mengatakan jika tempat yang akan dituju adalah Telaga Sarangan. Aku pun hanya pasrah, menolak juga tidak bisa sebab menurut apa kata sang pengemudi.


"Atau kita ke tempat yang lain aja? Kayaknya kurang mendukung cuacanya," ucap Mas Ovi di tengah perjalanan. Ya, langit di luar sana terlihat begitu gelap dan menunjukkan tanda-tanda akan segera turun hujan.


"Langsung pulang aja, Mas," jawab Bapak.


"Jangan langsung pulang. Ke kolam renang aja.Yang dekat-dekat rumah aja. Gimana Pak Basir?"


"Iya, boleh, Mas."


Terserah, deh, Mas Ovi, mau ke manapun juga tidak apa. Apalagi kalau segera pulang, aku akan lebih setuju. Akan tetapi, hal itu sepertinya tidak mungkin.


"Eh, kenapa?" tanyaku begitu sadar Mas Ovi seolah menunggu jawaban dariku yang tampak dari pantulan spion di atasnya.


"Ke kolam renang aja gimana?" Mas Ovi bertanya kepadaku.


"Aku ngikut aja."


"Ya udah kalau gitu. Berangkat!"


Masih butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk tiba di tempat tujuan. Bapak yang duduk di sebelah Mas Ovi pun masih asyik mengobrol. Rehan yang duduk di sampingku sudah tidur dengan lelap.


Tak ada teman bicara, aku hanya melihat pemandangan yang disuguhkan selama perjalanan. Kebetulan jalan yang dilalui adalah jalanan pedesaan di pegunungan yang kanan kirinya terdapat kebun jagung. Bukit-bukit yang tampak juga sayang sekali untuk dilewatkan. Dari dulu aku memang suka dengan apapun berbau alam.


"Lama-lama kamu nanti tidur, Dev," ucap Mas Ovi yang lagi-lagi melirikku dari spion.


"Nggak, dong! Pemandangannya bagus, nggak mungkin aku tidur!"


"Masa?"


"Iya, dong!"


Mas Ovi tak lagi menanggapiku, dia fokus dengan kemudinya. Bapak pun sepertinya sudah lelah dan mengantuk, aku beberapa kali mendapatinya menguap. Sementara itu, aku kembali menyibukkan diri dengan melakukan aktifitas yang sama dengan sebelumnya.


Bau tak sedap seketika mengganggu indera penciumanku. Di bagian tanjakan bukit terdapat beberapa bangunan yang mirip gubuk. Aku menduga itu adalah kandang ayam yang sengaja ditaruh jauh dari pemukiman warga.


"Kamu belum mandi, ya, Dev?" ledek Mas Ovi yang turut mengendus bau tak sedap tadi.


"Enak aja, ini bukan aku, ya."


"Terus siapa? Masa aku yang ganteng gini belum mandi." Mas Ovi tertawa.


"Ini bau kandang ayam, kan?" tanyaku.


"Iya, kenapa? Baunya enak?"


"Bikin mau muntah!" protesku.


"Padahal dulu waktu masih kecil sering mainan kotoran ayam, kan?" ledek Mas Ovi lagi.

__ADS_1


"Mas Ovi, kan? Iya, aku percaya, kok!"


"Bukan aku, kamu!"


"Iya, iya, aku!"


"Pasrah banget. Kalau berdebat suka mengalah, ya?"


"Ya, dong. Biar nggak ribet!"


Sering kali aku mematikan topik pembicaraan. Biarkan saja, siapa suruh tadi meledekku. Lagipula lebih baik saat ini Mas Ovi diam, kan? Dia harus fokus dengan kemudinya.


"Mbak, bangun. Udah sampai!" Rehan menepuh bahuku. Ah, enak saja aku disuruh bangun, aku saja tidak tidur, hanya sedikit mengantuk.


"Aku dari tadi lihat jalanan, Re. Mana ada aku tidur," elakku.


"Nggak tidur? Iya, nggak tidur, kok. Tadi yang mendengkur itu juga aku, Re. Bukan Mbak Devi." Mas Ovi yang muncul karena membukakan pintu untukku membuatku kesal. Apa iya aku memang tidur bahkan sampai mendengkur?


"Emang tadi aku beneran tidur?" tanyaku.


"Iya, bentar kalau nggak percaya." Mas Ovi mengeluarkan handphone-nya.


"Nih!" Mas Ovi begitu puas menunjukkan foto aku sedang tidur dengan kepala miring bersandar kaca.


"Siapa yang fotoin?"


"Iya, iya, aku tidur!"


"Ini kita jadi nggak, sih?" protes Rehan yang sudah berada di luar mobil. Dari tadi sepertinya dia menyimak perdebatanku dengan Mas Ovi.


"Iya jadi, dong. Ayo kita duluan, Mbak Devi kayaknya nggak mau. Dia lebih milih tidur, tuh. Yuk, Pak!" Mas Ovi sepertinya sengaja memancing emosiku. Aku ditinggalkan begitu saja di tempat parkir. Segera kukejar mereka meskipun rasanya masih begitu lemas efek bangun tidur.


Aku berdiri di belakang tiga laki-laki yang mengisi hariku sedari pagi tadi. Mas Ovi tampak berbicara dengan petugas penjaga loket untuk membeli tiket masuk kolam renang. Terlihat kondisi sekitar kolam renang yang sepi, bagus! Itu artinya malah lebih leluasa untuk bermain di dalamnya nanti.


"Kalau masih ngantuk nanti aku ceburin ke kolam renang, lho!" ancam Mas Ovi yang sudah selesai bertransaksi dan menyadari aku yang tengah menguap.


"Nggak ngantuk, kok. Beneran!" Kubuka mata selebar-lebarnya.


"Ya udah, ayo kita renang!"


Aku masih mengekor Mas Ovi yang tampak sibuk mencari saung yang dapat digunakan untuk menaruh barang-barang bawaan. Kondisi kolam renang yang sepi pengunjung membuat beberapa saung masih kosong. Sebuah bangunan yang berbahan kayu dengan model rumah panggung menjadi pilihan Mas Ovi, dia meletakkan tasnya di saung nomor tujuh.


"Pak Basir mari renang, Pak!" ajak Mas Ovi pada Bapak sembari melepas kaosnya. Aku yang semula memerhatikan karena dia tengah berbicara seketika membuang pandang. Bisa-bisanya tanpa permisi.


"Sudah lama nggak renang. Sebenarnya juga nggak terlalu bisa, sih!"


"Nggak papa, Pak. Main-main air aja. Tuh, kayak Rehan!"


Aku menatap arah jari Mas Ovi menunjuk. Adikku tersebut memang tadi langsung masuk ke kolam renang tanpa menanggalkan bajunya. Rehan begitu bahagia. Dia melambaikan tangannya begitu menyadari aku sedang melihatnya. Awas saja jika nanti membuat mobil Mas Ovi basah.

__ADS_1


"Devi nunggu barang-barang dulu? Aku sama Pak Basir mau ke kolam nggak papa?" tanya Mas Ovi.


"Iya, aku di sini aja!"


Kuperhatikan Mas Ovi yang tampak begitu berpengalaman dalam berenang. Dia bahkan sempat berbicara kepada Bapak seolah tengah menjelaskan teknik untuk berenang. Sesekali aku ikut tersenyum kala orang-orang yang berharga di dalam hidupku tersebut tampak bahagia. Ternyata kebahagiaan mereka sesederhana ini.


Seorang yang melintas tampak membawa nampan berisi gorengan dan mie di dalam cup. Padahal aku tidak beraktivitas apapun, tapi rasanya perutku sangat ingin diisi. Ternyata di sisi selatan terdapat beberapa penjual yang salah satunya menyediakan berbagai makanan khas tempat wisata. Aku ingin mengunjunginya, tapi tidak bisa meninggalkan barang-barang di sini.


"Mbak, kayaknya beli mie enak, ya!" Rehan menghampiriku, ternyata saat ini keinginanku sama dengannya.


"Kamu mau dibeliin?" Rehan mengangguk.


"Kamu tunggu di sini mau? Aku beliin!"


"Ya udah, Rehan tungguin, deh!"


Aku segera ke kantin dan membelikan empat cup mie instan dan beberapa biji gorengan. Sekembalinya ke saung, ada juga Bapak dan Mas Ovi yang sudah selesai dari aktivitas mereka. Rehan berseru melihatku membawakan makanan yang ia minta.


"Belinya banyak banget, Dev," ucap Mas Ovi.


"Kan empat orang, aku beli sesuai jumlah orangnya, dong!"


"Minumannya tapi gak beli, soalnya nggak bisa bawa," imbuhku.


"Bapak beliin. Tunggu sebentar, ya."


Bapak akhirnya pergi menuju ke kantin. Rehan yang sedari tadi ngidam mie pun hanya memakan beberapa suapan dan kembali masuk ke kolam renang. Di saung hanya tinggal aku dan Mas Ovi, tapi dia sibuk dengan handphone-nya dan aku sibuk dengan urusan perut.


"Eh, enak banget. Mau juga, dong!" ucap Mas Ovi. Aku hanya menunjuk dua cup bagiannya dan Bapak.


"Aduh!" rintih Mas Ovi sembari meletakkan ponselnya.


"Kenapa, Mas?"


"Kram tanganku, padahal lagi pengen makan. Boleh minta suap?" pinta Mas Ovi.


Yang tadi pasti hanya akal-akalannya saja. Akan tetapi, melihat ekspresinya yang tampak benar-benar sakit membuatku tak tega. Segera kuletakkan makananku dan mengambil milik Mas Ovi.


"Ayo makan dulu. Buka mulutnya!"


Mas Ovi mengikuti perintahku. Dia membuka mulut dan mengipas satu suapan yang tadi, aku lupa kalau mie-nya masih panas.


"Maaf, Mas. Aku lupa."


"Iya, nggak papa."


Akhirnya aku menyendokkan lagi dan meminta Mas Ovi untuk meniupnya sendiri. Ya kali aku yang melakukannya, bisa-bisanya nanti ada kandungan zat gizi lain yang ikut di dalamnya. Hap, Mas Ovi begitu bersemangat melahapnya.


"Wah, mesranya. Bapak jadi pengen juga!" Aduh, Bapak kenapa datang tidak bilang-bilang.

__ADS_1


__ADS_2