
Rehan menghampiriku ketika Bu Sukma pulang dengan ekspresi kesal. Bahkan aku hampir tertawa ketika wanita paruh baya itu bersikap seperti anak kecil karena berjalan menghentak-hentakkan kaki dengan keras. Persis anak kecil ketika tidak dibelikan permen ibunya.
"Besok lagi kalau keluarga Bu-Suk beli ayam jantan dikasih, ya, Pak," lirihku menasihati Bapak agar tidak tersinggung.
"Bapak kemarin juga nggak mikir sampai situ, Nduk. Kirain Bu Sukma emang benar-benar butuh ayam, makanya Bapak kasih."
"Bapak tahu sendiri, kan, Bu Sukma itu suka banget iri sama tetangga yang usahanya rame. Bapak ingat dulu Bu Sukma sampai adu domba Bu Dira sama Bu Mega."
"Yang katanya Bu Mega bilang kalau bakso dagangannya Bu Dira pakai pesugihan?" Adikku itu nyambung sekali kalau diajak ghibah.
"Nah, itu sebenarnya Bu Mega gak bilang kayak gitu. Bu Sukma ngarang cerita aja. Kasihan, gara-gara itu Bu Dira sama Bu Mega sempat saling diam. Padahal tetanggaan, kan."
"Sudahlah, Nduk, Le. Itu permasalahan sudah selesai, nggak baik mengungkitnya lagi," nasihat Bapak kepadaku dan Rehan.
"Em, maaf, Pak. Saking kesalnya sama Bu Sukma."
"Jangan dibiasakan menggunjing orang, ya. Bapak nggak pernah ngajarin, kan? Ibu dulu nggak pernah ngajarin juga, kan?" Aku dan Rehan terdiam mendengar ucapan Bapak.
"Nduk, air minumnya habis. Kalau nggak repot minta tolong rebus air di tungku, ya. Bapak habis ini mau ambil ayam soalnya."
"Oke, Pak."
"Mau masak apa? Bapak lupa beli sayuran tadi."
"Bikin nasi goreng aja, kayaknya enak," sahut Rehan.
"Ya udah, nanti malam aku buatin nasi goreng."
"Bapak berangkat dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Aku tidak makan lagi, perutku masih kenyang. Rehan masih asyik menikmati es campurnya, mungkin sudah tidak dingin lagi saat ini. Bisa-bisanya tadi menyantap es sambil ikut mengghibah.
"Kayunya agak basah, Mbak. Kata Bapak kemarin gentengnya bocor terus ngena di kayu," ucap Rehan begitu tahu aku memasukkan kayu-kayu kecil ke dalam tungku.
Pasti nanti akan sedikit kesulitan untuk menyalakan tungku. Kayu yang disediakan Bapak dalam kondisi basah. Kalaupun ada kayu di luar, kondisinya justru lebih parah.
Untung saja bapak selalu menyiapkan minyak tanah atau solar untuk mempermudah proses penyalaan tungku. Kutuangkan solar tersebut secukupnya ke kayu yang sudah berada di mulut tungku. Aku menyalakan api pada secarik kertas dan menyulutkan ke kayu.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" Hampir saja aku terjengkang karena terkejut.
"Ada apa, Mbak?"
"Tadi ngasih solarnya kebanyakan. Apinya langsung besar, Re."
"Makanya jangan banyak-banyak, Mbak. Mubazir bahan bakar juga, kan?" Yah, malah kena ceramah Rehan.
Ya mau bagaimana lagi. Kalau pakai sedikit solar, apinya hanya menyala sebentar dan sangat kecil. Nah, baru juga berhasil menyala dengan api yang besar, saat ini kayu-kayu tadi hanya tinggal kepulan asapnya saja.
Aku sampai terbatuk-batuk sebab api tidak menyala dan asap yang terbentuk sempat kuhirup. Ah, kalau sudah begini aku malas. Mau minta bantuan siapa? Rehan pasti juga tidak bisa.
"Coba pakai bilahan bambu, Mbak. Kayaknya lumayan kering itu."
"Di mana bambunya?"
"Ketimbun di bawah. Coba yang kayu mahoni itu digeser atau dipindahkan."
"Re, kamu daripada ngomong terus, mending bantu aku, deh. Dari tadi aku sibuk sendiri kamu malah enak-enakan minum es campur. Ayo bantu sini!"
"Iya, iya, Mbak. Mbak, ada mobil masuk halaman rumah kita. Aku lihat dulu siapa yang datang, ya," ucap Rehan yang kukira sedang berbohong.
"Nggak, kok, Mbak. Orangnya udah keluar dari mobil terus mau ke sini."
Aku yang dari tadi sibuk dengan posisi jongkok, akhirnya berdiri untuk memastikan ucapan Rehan.
"Ini kebakaran atau apa, sih? Banyak banget asapnya. Assalamualaikum!" Aduh, itu suara Bu Salma. Ada perlu apa lagi datang ke sini.
"Waalaikum salam. Bu Salma langsung ke rumah aja, jangan di dapur. Dapurnya kotor!" cegahku sambil mencium tangan Bu Salma.
"Ibu pengen juga lihat dapur Mbak Devi. Masa nggak boleh?"
"Rehan, saliman dulu sama Bu Salma!" perintahku pada Rehan yang hanya mematung tadinya. Dia menuruti ucapanku.
"Sama siapa aja ke sini, Bu?"
"Alwi sama papanya. Mereka lagi nurunin bunga-bunga."
Aku langsung berlari ke depan rumah. Sisi belakang mobil yang tidak tampak dari dapur membuatku penasaran. Ternyata ada Pak Herman dan Alwi yang sedang menurunkan sekitar sepuluh pot tanaman dari rumahnya.
__ADS_1
"Segitu cukup nggak, Mbak?" Bu Salma sudah berdiri di sampingku.
"Banyak banget, Bu. Satu atau dua pot aja sebenarnya cukup."
"Ya, Ibu bingung kamu sukanya bunga yang mana. Makanya Ibu bawakan semua."
"Terima kasih, Bu."
"Tadi pagi Ibu kan sudah pulang. Kalau habis dari sekolah mampir dulu. Mas Alwi paling nggak ngingetin Mbak Devi tadi." Aku hanya tertawa. Aku saja juga lupa.
"Nih, Dev. Bunga spesial permintaan kamu," celetuk Alwi yang tampak kesal. Kukira tadi di rumah ia menjadi bulan-bulanan mamanya.
"Makasih, Al. Baik banget, deh. Bentar aku buatin minum."
Aku izin untuk kembali ke dapur. Rehan masih ada di sana, aku menyuruhnya untuk membeli es batu dan roti. Mungkin es teh manis cukup menarik di siang ini. Meskipun hanya beberapa pot, aku yakin Alwi dan Pak Herman merasakan penat memindahkan tanaman itu.
Wah, ternyata Rehan sudah berhasil menyalakan tungku tadi. Dia juga sudah meletakkan dua panci yang berdampingan untuk merebus air. Kukira dia hanya diam menikmati es, ternyata bisa diandalkan juga.
Tak lama kemudian teh yang kubuat sudah siap. Es batu dan roti yang dibelikan Rehan pun sudah ada. Aku meminta Rehan untuk membawanya keluar agar menjadi suguhan. Tumben Rehan tidak banyak protes dan langsung menuruti permintaanku.
"Mbak Devi kenapa harus repot-repot, ayo ikut ngobrol di luar."
Bu Salma menenteng tas besar kemudian menaruhnya di atas meja. Aku tidak tahu juga apa yang beliau bawa, yang jelas tampak beberapa kardus yang biasanya digunakan sebagai wadah makanan.
"Belum masak, kan? Ini Ibu bawa sedikit makanan." Bu Salma menyusun kotak-kotak tadi. Total ada tiga kotak di sana.
"Ibu minta Devi biar nggak repot-repot, tapi Ibu sendiri malah repot-repot bawa makanan," selorohku pada Bu Salma karena merasa sungkan.
"Ini ayam panggang, kotak ini isinya lauk lainnya, terus ini kue-kue sisa tadi pagi. Tapi masih layak, kok. Sayang kalau di rumah nggak ada yang makan," jelas Bu Salma menunjuk tiap kotak.
"Ayam yang dari Bapak?" Refleks aku bertanya begitu, penasaran saja.
"Iya, dua ekor dimasak semua. Emang Pak Herman kalau ada kemauan suka gitu, minta langsung diturutin."
"Ya udah, makasih, ya, Bu. Ini rotinya biar aku bawa sekalian di luar, ya."
"Iya, nggak papa."
Aku dan Bu Salma kembali ke teras untuk ikut mengobrol di sana. Kami hanya mengobrol ringan dan kadang diiringi candaan. Tak berselang lama Bapak juga pulang. Pak Herman semakin betah jika ada Bapak. Sementara itu kulihat Alwi yang mulai bosan, kasian sekali.
__ADS_1