Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Oleh-oleh


__ADS_3

Pak Herman dan Alwi berpamitan karena hari sudah semakin sore. Mereka membawa dua ekor ayam yang katanya hendak dipelihara. Aku mencoba memastikan keberadaan Bapak yang berada di depan rumah. Sebab, masih terdengar suaranya yang seolah masih berbicara dengan seseorang. Apakah Mas Ovi belum pulang?


"Lho, Mas Ovi masih di sini? Aku kira sudah pulang," ucapku begitu tahu dia masih duduk dan menyeruput kopi yang kubuatkan tadi.


"Masih pengen di sini, Dev. Nggak boleh?" candanya padaku.


"Bukan gitu. Aku kira sudah pulang bareng Alwi tadi."


"Bentar, aku masih pengen tanya tentang burung-burung itu." Mas Ovi menunjuk beberapa sangkar yang tergantung dan selalu memenuhi halaman rumah. Selain memelihara ayam, Bapak juga hobi mengoleksi berbagai jenis burung. Pernah kutahu ada beberapa orang yang datang untuk membeli burung tersebut dengan harga tinggi, namun Bapak masih teguh pendirian untuk mengurusnya sendiri.


"Bapak ke kamar mandi sebentar. Kamu temenin Mas Ovi ngobrol dulu, ya. Sama Devi dulu, ya, Mas Ovi," pamit Bapak kepada Mas Ovi yang langsung menuju ke kamar mandi.


"Iya, Pak," jawab Mas Ovi.


"Emang Mas Ovi juga suka sama burung?" tanyaku basa-basi, bingung mau bahas apa.


"Nggak begitu, sih. Kalau kamu, aku suka." Mas Ovi tertawa kencang.


"Ih, apaan, sih? Gimana kabar Mbak Linda?" tanyaku menggoda Mas Ovi. Mbak Linda adalah sosok yang digosipkan dekat dengan Mas Ovi.


"Masih ingat aja kamu, Dev. Itu cuma becandaan aja, aku nggak pernah suka sama Linda, lho."


"Ah, masa?" Aku masih ingin menggoda Mas Ovi, kali ini aku pindah duduk di sampingnya.


"Serius. Dulu kita emang satu sekolah, kita sahabatan sering berangkat bareng. Makanya dikira pacaran tapi sebenarnya dia sudah ada pacar di sekolah, aku sahabatan juga sama si cowoknya. Linda sebentar lagi juga mau menikah, kok. Sama cowoknya itu. Langgeng banget dari SMP, lho."


"Yah, pasti sakit hati banget waktu Mbak Linda pacaran. Yang sabar, ya." Kuusap bahu Mas Ovi seolah berusaha menguatkannya.


"Eh, apaan, sih! Orang nggak ada apa-apa sama Linda. Atau jangan-jangan kamu yang sebenarnya sakit hati waktu Alwi dekat sama ceweknya?" Mas Ovi malah berganti meledekku.


"Eh, nggak, lho. Nggak ada kaitannya sama Alwi," elakku menyangkal fakta itu.


"Nggak usah pacaran, Dev. Kamu itu terlalu polos untuk mengenal cinta. Kalau udah gede aja pacarannya, sama suamimu!" ucap Mas Ovi dengan tatapan lurus ke arah langit.

__ADS_1


"Aku juga nggak pengen pacaran, kok. Eh, Mas, Mbak Linda kenapa bisa cantik banget gitu, ya. Kulitnya putih lagi. Pantas dulu banyak yang suka sama dia," ucapku yang masih ingin membahas teman Mas Ovi tersebut.


"Ya, bisa. Dia, kan, cewek. Kamu juga cantik, Dev."


"Jangan gitu, dong. Aku jadi malu." Aku menutup mulut dengan kedua tangan.


"Syarat cantik nggak harus putih, Dev, tapi harus perempuan!" Mas Ovi menarik hidungku hingga terasa perih. Dia tahu aku merasakan sakit, namun malah tertawa.


"Terus Mas Ovi sekarang sama siapa?"


Jarak rumahku dan Mas Ovi sebenarnya tidak dekat juga. Hanya saja dulu aku sering diajaknya bergurau ketika jajan di warungnya. Setahuku Mas Ovi memang ramah kepada semua orang, bahkan kepada anak-anak.


"Lagi sama kamu, gitu," jawab Mas Ovi begitu enteng.


"Maksudku lagi pacaran sama siapa?"


"Nggak ada, Dev. Aku lagi fokus di usaha aku aja. Kalaupun mau nyari cewek, aku nggak ada niat buat pacaran," jelas Mas Ovi.


"Terus?"


"Kenapa harus usia segitu?" Aku penasaran, kutatap lekat wajah bersih Mas Ovi yang di sana tampak kumis tipis. Dia semakin manis, jauh berbeda dengan Mas Ovi yang kukenal sewaktu kecil.


"Jangan kayak gitu juga lihatnya." Mas Ovi menonyor kepalaku hingga hampir terjengkang.


"Kenapa? Baru kali ini ditatap bidadari, ya?" Aku memegang pipi dengan pose sok imut seperti yang dilakukan temanku ketika ingin berfoto. Jujur aku jijik sendiri berpura-pura genit di depan lelaki.


"Kamu nggak cocok kayak gitu, Dev! Baru tahu Devi bisa kayak gini, biasanya dulu juga tomboi banget." Bahkan Mas Ovi pun heran dengan tingkahku.


"Kenapa emangnya?"


"Agak aneh aja. Kukira kamu udah berubah jadi gadis pendiam. Soalnya tadi pas di rumah Bu Darmi kamu kayak malu-malu gitu."


"Malu karena banyak cowok di sana." Aku tertawa lepas. Tidak kusangka bisa seakrab ini dengan Mas Ovi. Biasanya aku akan canggung jika dekat dengan laki-laki apalagi aku dan Mas Ovi sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


"Eh, pertanyaanku belum dijawab. Kenapa maunya nikah pas umur segitu?"


"Biar usia kamu ideal, Dev." Mas Ovi tersenyum, namun aku tidak bisa memahaminya.


"Apa hubungannya sama aku, Mas?"


"Kan, nikahnya mau sama kamu!"


Aduh, bisa-bisanya Mas Ovi menggoda gadis sepolos aku. Oh, Ya Allah, bantu aku. Aku sudah terbang terlalu jauh hanya gara-gara ucapan Mas Ovi tadi. Mas Ovi wajib tanggung jawab.


"Udah, ah. Sama Mas Ovi lama-lama aku gila!" Kutinggalkan Mas Ovi ke dalam dapur karena tampak Bapak yang sudah kembali. Sebenarnya bukan itu alasanku, aku hampir lupa jika tadi sedang memasak air.


Tiba di dalam dapur aku masih senyum-senyum sendiri. Kusalahkan diri sendiri, kenapa mudah sekali terbawa perasaan. Masih kelas sembilan, belum waktunya untuk memikirkan hal seperti itu.


Selanjutnya aku tidak berani menemui Mas Ovi. Suaranya masih terdengar asyik bercengkrama dengan Bapak. Aku heran dengan Bapak, dengan anak sendiri super pendiam, tapi dengan orang lain kenapa bisa selancar itu mengobrolnya. Aku terkadang iri, Bapak tidak pernah lagi bergurau denganku, namun bisa tertawa lepas ketika bersama yang lain.


"Dev, aku pulang dulu, ya!" teriak Mas Ovi dari pintu.


"Oh, iya, Mas. Maaf, ya, soalnya lagi masak!" jawabku beralasan. Sejujurnya aku bisa meninggal masakanku dan menemuinya sebentar. Akan tetapi, aku takut jika menemukannya namun berakhir dengan rasa canggung.


"Oke, Dev. Kapan-kapan main ke rumahku atau ke tokoku. Lokasinya dekat sama sekolahmu, kok."


"Siap, Mas!"


Suara motor Mas Ovi semakin hilang dari pendengaranku. Bagus, akhirnya dia pulang. Bapak kemudian masuk rumah dan membawa tas kain yang selanjutnya di taruh di meja.


"Apa itu, Pak?" tanyaku pada Bapak yang langsung meninggalkan tas kain tadi.


"Nggak tahu juga. Dari Mas Ovi tadi. Coba kamu lihat."


"Iya, Pak. Masih nanggung masaknya. Nanti aja aku buka."


"Iya, Bapak mau ngasih makan ayam yang di belakang rumah dulu."

__ADS_1


Kompor sudah kumatikan karena aktivitas memasak sudah selesai. Aku langsung menuju meja untuk melihat apa yang dibawakan oleh Mas Ovi kepada Bapak. Baik sekali membawakan buah tangan untuk keluargaku.


"As*m, kirain jajanan!" gerutuku ketika mengetahui isinya adalah suplemen makanan untuk ayam dan burung.


__ADS_2