Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Berangkat Bertemu Zaki


__ADS_3

Aroma khas dari ikan asin mengudara pagi itu. Nasi dan sayur asem sudah siap, aku hanya tinggal membuat sambal terasi. Bapak juga sudah pergi ke pasar selepas subuh tadi. Sementara itu, Rehan tampak menikmati tugasnya sebagai pemberi makan ayam.


Sudah berjalan dua hari Bapak memelihara ayam-ayam yang ukurannya belum begitu besar. Ada delapan belas ekor yang dikelompokkan menjadi dua kandang. Bapak sengaja tidak melepaskannya dari kandang yang dibuat tempo hari. Katanya, biar penyesuaian dahulu. Jika langsung dilepaskan malah takut hilang dan tidak kembali.


"Re, masih belum selesai?" teriakku sembari memasukkan bawang merah dan cabai ke dalam wajan.


"Sebentar, Mbak. Ini masih ngisi air minum!"


Tadinya aku ingin menyuruh Rehan untuk segera mandi, tapi dia masih begitu asyik dengan tugasnya. Kubiarkan saja dia sampai selesai, toh sekarang masih cukup pagi. Mungkin Rehan terlalu bahagia dengan aktivitas barunya itu, beberapa kali kupergoki dia mengajak ayam bicara. Ada-ada saja si Rehan.


"Mbak, ini punya Bapak, bukan?" Rehan menghampiri meja dan menunjuk susu jahe hangat yang baru kubuat.


"Itu punyaku. Kalau mau minum aja, Re."


"Mbak minta nggak?" Wah, tawanya seperti sengaja meledekku.


"Aku nggak ngasih ke kamu. Minum secukupnya aja, Re," jelasku.


"Aku cukupnya kalau satu gelas sampai habis. Gimana, dong, Mbak?"


"Ya, udah. Nggak aku kasih!"


Rehan tidak menganggapku, dia hanya tertawa kemudian menyeruput seperempat bagian dari isinya. Aku sudah menduga, Rehan tidak akan meminum semuanya, dia hanya ingin menggodaku. Memang kebiasaannya suka seperti itu, jahil terus!


"Udah selesai masaknya, Mbak?"


"Tinggal bikin sambel aja. Kamu mandi dulu, deh. Ini ada air panas," ucapku meminta Rehan agar segera mandi.


"Malas, Mbak. Apa nggak usah mandi?"


"Astaghfirullah, Re. Masa mandi aja malas. Kamu mau berangkat sekolah dalam keadaan kucel? Bau asem lagi!"


"Dingin, Mbak." Rehan mendekap tubuhnya.


"Kan Mbak udah bilang, itu ada air panas. Boleh dipakai buat mandi," ucapku dengan penekanan.


"Iya, iya, Mbak. Ini mau ambil ember dulu."

__ADS_1


Rehan kembali dari arah kamar mandi dengan membawa ember. Beberapa gayung air panas ia taruh di dalam benda dengan bentuk tabung itu. Aku sempat melirik Rehan yang cemberut, mungkin kesal karena pagi-pagi sudah mendapatkan hadiah omelan dariku. Biarkan saja, jika dituruti, kebiasaan tidak mandi sebelum sekolah akan terjadi. Aku bilang begitu karena pernah hampir mengalami, hehehe.


"Gak usah monyong juga bibirnya. Aku udah siapin sarapan kamu, lho."


"Iya, Mbak."


Semua makanan sudah matang. Sembari menunggu Rehan selesai mandi, aku mengambil sapu dan mulai membersihkan dapur. Aku memang tidak terbiasa menaruh sampah seperti kulit bawang atau sampah plastik langsung ke tempatnya ketika sedang memasak. Biasanya memang alas rumah yang masih berupa tanah itu kukotori, sekalian agar bersemangat untuk menyapunya.


"Mandinya cepat banget. Mandi beneran nggak?" tanyaku ketika melihat Rehan dengan kondisi tubuh dililiti handuk.


"Mandi, dong, Mbak. Wangi, nih!"


"Ah, masa?"


"Ya udah kalau nggak percaya. Mbak Devi emang suka gitu!"


"Mandi cuma berapa detik? Ya udah, deh. Aku mau mandi juga."


Segera kuambil handuk yang sengaja dibentangkan di jemuran yang berbahan dari bambu. Berbeda dengan Rehan yang merasa kedinginan dan enggan mandi, aku justru merasa gerah pagi ini. Ya, mungkin efek berada di dekat tungku.


Aku segera masuk ke kamar mandi dan mengguyurkan air ke badan. Ternyata lumayan dingin, tapi benar-benar terasa segar. Tidak berbeda jauh dengan Rehan, kali ini pun aku juga mandi dengan waktu yang tidak lama. Ternyata terasa dingin juga.


"Nanggung banget makan sambal kayak gitu. Gini lho!" satu sendok penuh sambal terasi kutaruh di atas nasi yang masih tampak uapnya. Hahaha, sepertinya aku sombong sekali.


"Sakit perut baru tahu rasa!" Rehan memutar bola matanya, dialah yang sebenarnya sering merasakan penyakit itu.


Makan pagi yang begitu nikmat. Ah, kasihan sekali Rehan tidak tahu betapa nikmatnya menyantap sambal dan ikan asin. Aku berusaha membuatnya tergiur, namun sepertinya Rehan tidak peduli. Setelah menyelesaikannya, aku dan Rehan segera bergegas untuk berangkat sekolah. Kami hanya tinggal memakai kaos kaki dan sepatu.


Rehan bergerak lambat, dia memakai kaos kaki saja perlu waktu yang lama. Aku yang sudah siap beberapa kali berdecak, kenapa lama sekali. Kalau saja Bapak ada di rumah, mungkin sudah berangkat duluan aku tadi. Berhubung Bapak tidak ada, maka aku sekalian mengantarkan Rehan.


"Sabar, dong, Mbak! Orang lagi nali sepatu malah disuruh cepat-cepat!"


"Udah siang, nih!"


"Baru jam enam lebih seperempat, lho, Mbak. Lagian jam segini di sekolahku masih sepi," ucap Rehan yang tampak sebal.


"Nanti aku yang telat!"

__ADS_1


"Makanya naik motor jangan lelet, biar cepat sampai."


"Udah belum, sih?"


"Udah, udah. Ayo!"


Mungkin bagi mayoritas orang waktu seperti itu masih sangat pagi. Akan tetapi, aku yang terbiasa berangkat lebih awal menganggap sudah terlalu siang. Benar juga yang diucapkan Rehan, memang aku yang terlalu pelan melajukan motor. Tapi memang menyenangkan seperti itu, bisa menikmati udara pagi yang kadang masih berselimut kabut.


"Belajar yang rajin." Rehan mencium punggung tanganku. Memang mudah menasihati orang, padahal aku sendiri tidak bisa jadi anak yang rajin di sekolah.


Rehan memasuki halaman sekolah yang masih sangat sepi. Kasihan juga jika ia harus terus-menerus berangkat bersamaku. Ya, kalau dia mau berangkat agak siang silahkan saja, biar naik sepeda sendiri.


Aku menukar gigi motor menjadi nomor dua dan perlahan meninggalkan sekolah Rehan. Mungkin kondisi sekolahku saat ini juga belum banyak siswa yang datang. Jalanan pun masih sangat lengang hingga aku bisa sesuka hati memilih jalan, bahkan bisa di sisi kanan.


Aku tidak sadar ada kendaraan dari arah belakang dengan kecepatan sedang. Dari kaca spion aku bisa melihatnya, ternyata Zaki. Dia sempat menyalakan klasonnya hingga akhirnya menyalipku.


"Berangkat pagi amat, Dev?" Zaki kini berada di sampingku. Dia menyelaraskan posisi menjadi sejajar denganku.


"Emang biasanya jam segini udah berangkat."


"Oh, gitu. Lama gak keliatan, Dev." Basa-basi apa lagi ini?


"Iya."


"Dev, kabar baik, kan?"


"Iya. Ada apa, sih, Zak?"


"Nggak papa, tanya aja."


"Kasih jalan buat yang lain. Jangan kayak gini," ucapku meminta agar Zaki tidak menggunakan jalan bagian tengah, dari arah depan ada mobil yang sedang berjalan.


"Iya, Dev."


Aku menambah kecepatan hingga berada beberapa meter di depan Zaki. Setelah kejadian waktu itu aku benar-benar sebal setiap melihat wajahnya. Rupanya dia masih mau menampakkan diri.


Jalanan masih tampak begitu sepi. Untuk pertama kalinya kuberanikan diri mengendarai motor dengan kecepatan 60 km/jam. Menurutku itu sudah cukup kencang.

__ADS_1


Zaki sudah tidak lagi terlihat di belakangku. Tapi aku masih berjaga-jaga dengan kecepatan yang sama. Untung saja aku masih diberikan keselamatan. Kalau saja tidak bertemu Zaki, mungkin aku tidak akan senekat itu.


__ADS_2