Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Usaha Bapak


__ADS_3

Pembahasan tentang Risa ternyata masih saja disuarakan Firman dengan penuh semangat. Aku dan Nindi yang sudah tidak tertarik sempat beberapa kali mengajak pulang. Namun, karena Alwi masih antusias dengan topik yang dibahas Firman, aku dan Nindi tidak diperkenankan untuk pulang lebih dulu.


Kalau saja tidak terdengar kumandang azan, mungkin Firman masih meneruskan ceritanya hingga petang tiba. Begitu masuk waktu Zuhur, Alwi mengajak untuk segera mengambil air wudu dan bersiap untuk berjamaah di masjid yang berada tak jauh dari warung bakso. Alwi bersama Firman bergegas ke tempat itu, sementara aku dan Nindi yang kebetulan sedang berhalangan hanya menjadi penjaga barang dua lelaki tersebut.


"Terlalu asyik bahas Risa sampai lupa waktu. Untungnya gak ada tugas dari guru," ucap Nindi menyuarakan isi hatinya.


"Tadinya aku mau langsung pulang biar bisa tidur siang," timpalku yang juga berkeluh kesah.


"Kita nanti habis UTS nggak ada libur, padahal pengen liburan." Nindi mungkin sudah sangat lelah dengan rutinitas sekolah. Sebenarnya aku juga merasa demikian, perlu liburan.


"Besok libur, Nin. Jangan lupa liburan." Kutepuk-tepuk bahu Nindi berusaha agar dia tidak lupa dengan hari Minggunya.


"Libur itu cuma sampai Minggu siang, jam empat itu udah bukan waktu libur lagi," ucap Nindi yang kusetujui. Memang kenyataannya ketika waktu sore tiba, kita seolah dipaksa untuk berpikir tidak santai lagi.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Alwi dan Firman kembali dari masjid. Kedua laki-laki itu kemudian menghampiri aku dan Nindi. Awas saja jika ada sesi kedua diskusi membahas Risa, kutinggalkan mereka tanpa permisi.


"Kalian mau lanjuti ngobrol lagi?" tanya Nindi ke Alwi dan Firman.


"Kalau mereka masih lanjut ghibah, lebih baik aku pulang dulu!" ucapku berharap Alwi dan Firman sedikit peka.


"Kita pulang habis ini. Man, besok lanjut lagi bahas Risanya." Firman hanya mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi.


"Heh, kalian mau ngapain sebenarnya? Kok, kayak seniat gitu bahas Risa?" tanyaku yang sudah sangat penasaran.


"Nggak, sih. Cuma pengen lihat sisi gelapnya Risa," jawab Alwi.


"Perasaan semua sisinya Risa gelap, deh. Apalagi hatinya, busuk!" celetuk Firman.


"Eh, udah. Yuk! Bentar lagi hujan kayaknya." Nindi menunjuk awan hitam yang tampak di langit sebelah barat.

__ADS_1


Aku tidak suka dengan cuaca beberapa hari ini yang seolah seperti mood seorang wanita. Padahal aku sedang menaruh harap pada cerah dan teriknya udara siang di waktu pagi tadi. Ah, memang aku tidak ditakdirkan untuk tidur siang kali ini. Ya, bagaimana aku bisa tidur di saat hujan sedang turun sementara Bapak dan Rehan sibuk menadahkan ember pada atap-atap yang sudah tidak layak dan wajib diganti.


Mungkin suatu saat jika aku diberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan uang dalam nominal yang besar, hal pertama yang ingin kulakukan adalah merenovasi rumah. Aku hanya ingin merubahnya menjadi dalam kondisi yang lebih baik. Semoga saja mimpi kecil itu bisa terwujud suatu saat.


"Dev, langsung pulang, kan?" tanya Alwi padaku.


"Iya, dong. Kenapa emangnya?"


"Nggak papa, kali aja kamu mau ke mana dulu gitu."


"Nggak ada, Al. Langsung pulang aku."


"Bareng, ya. Kamu di depan, deh, nanti. Kalaupun aku nyelip kamu, nggak akan sekencang Valentino Rossi." Alwi terkekeh seolah sengaja menyindir Firman. Sindiran tepat sasaran. Firman justru berdecak kemudian membuang muka.


"Kenapa, Man?" tanya Nindi.


"Nggak papa, sih. Kayak kesindir gitu rasanya, tapi sedikit." Aku, Alwi, dan Nindi hanya tertawa.


Firman juga berpamitan padaku dan Alwi. Seperginya Firman, Alwi juga mengajakku untuk segera bersiap pulang. Aku mengangguk, tidak ada banyak pekerjaan yang perlu kulakukan, aku hanya tinggal memunguti beberapa sampah yang ada karena ulahku.


Aku menyusul Alwi yang sudah berada di tempat parkir. Dia baik hati sekali, bahkan sepeda motorku yang semula terhimpit beberapa kendaraan yang lain sudah ia keluarkan. Aku tersenyum sebagai ungkapan terima kasih, namun Alwi sibuk melihat ke arah jalan seraya memasang helm ke kepalanya.


"Makasih, Al. Baik banget," ucapku yang langsung naik ke motor.


"Santai aja, emang aku biasanya gitu, kan? Udah cakep, suka menolong lagi!" Alwi dengan bangga menepuk pundaknya, aku pun tertawa.


"Nunggu siapa? Ayo jalan!"


Astaghfirullah, bisa-bisanya aku menunggu Alwi. Aku lupa jika aturannya aku yang berjalan terlebih dahulu. Segera kunyalakan mesin motorku kemudian dengan perlahan melaju melewati jalan besar.

__ADS_1


Beberapa kali kuperhatikan spion kanan kiriku. Hm, itupun sekadar memastikan Alwi masih ada di belakangku. Ya, sebenarnya aku tidak perlu khawatir. Kalaupun aku meninggalkannya, dia tidak perlu bersusah payah untuk bisa mendekatiku.


Kudengar Alwi menekan klaksonnya. Di pertigaan yang mengarah pada gang kecil menuju rumahnya, aku berpisah dengan lelaki itu. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa pulang bersama Alwi, meskipun dengan suasana yang jauh berbeda dengan waktu pulang naik sepeda. Mau tidak mau, siap tidak siap, keberadaan teknologi pasti akan merubah hidup kita. Memang membantu kemudahan di berbagai aspek kehidupan, tapi di sisi lain muncul juga dampak buruknya.


Begitu tiba di halaman rumah, kulihat sebuah motor dengan tas khusus dari bahan goni yang berada di boncengan. Tas tersebut biasanya digunakan untuk mempermudah dalam proses pembawaan barang. Aku tidak tahu pasti apa isi dari tas tersebut, tetapi sepertinya berisi ayam yang masih hidup.


"Ayam siapa, Pak?" tanyaku ketika Bapak keluar dari dapur. Aku sudah mengintip isinya dan sudah kupastikan jika itu ayam.


"Ayam pesanan Pak Budi, mau Bapak antar sekarang," jawab Bapak.


Segera kuparkirkan motorku dan bergegas untuk kembali menghampiri Bapak. Ada rasa penasaran yang ingin kuketahui jawabannya. Dari mana Bapak dapat ayam sebanyak itu? Ada sekitar 15 ekor.


"Ayam dari mana, Pak? Kok, banyak banget?" tanyaku.


Bapak sepertinya sangat kelelahan. Beliau duduk asal di teras sembari menyeruput es teh yang sudah ada sejak aku tiba tadi. Aku berani bertanya karena bisa membaca situasi, saat ini Bapak masih bersantai.


"Ini Bapak dapat dari tetangga yang punya ayam. Coba-coba tanya tadi. Kan, di sini banyak juga yang pelihara ayam. Lumayan juga dijual lagi dapat untung sedikit," jelas Bapak.


"Ayam sebanyak itu buat apa, Pak?"


"Pak Budi punya restoran di kota. Salah satu menunya ayam kampung. Bapak dapat tawaran, disuruh bantu cariin."


"Oh, begitu. Lumayan juga, Pak dapat uang sedikit-sedikit."


"Rencananya nanti Bapak juga mau jualan di pasar. Kalau Bapak sambil pelihara ayam, kamu mau bantu urusin?" tanya Bapak yang sepertinya menaruh penuh harap.


"Pasti siap, dong, Pak. Nanti aku bantu, deh."


"Bagus kalau begitu. InsyaAllah nanti ada modal untuk cari bibit ayam kampung. Besok Bapak usahakan."

__ADS_1


Semoga saja setelah ini akan ada kabar baik mengenai rencana Bapak. Aku siap membantu nantinya. Dan, pastinya Rehan jika mendengar ini akan sangat antusias.


__ADS_2