Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Foto Bareng


__ADS_3

Minggu pagi yang tidak tenang. Sejak kemarin sore, suara sound system di rumah Bu Darmi masih saja bergemuruh. Bahkan hingga malam tiba, putaran musik dangdut koplo semakin menjadi. Bahkan saking kerasnya bunyi yang ditimbulkan, sempat terasa seperti gempa bumi.


Hal semacam ini memang dianggap wajar di desa. Masyarakat juga memakluminya sebab acara seperti pernikahan tidak selalu diadakan oleh si tuan rumah. Pengalihan jalan ketika resepsi pernikahan pun seolah bukan hal yang aneh lagi. Selagi ada rambu peringatan dan arahan jalan pintas lainnya, hal itu tidak akan menjadi masalah.


"Bangun jam berapa tadi, Nduk?" tanya Bapak yang baru selesai memberi makan ayam.


"Jam tiga Devi udah bangun, Pak. Suara musiknya ganggu banget!" selorohku seraya mengangkat berbagai perabot yang kugunakan untuk memasak tadi. Meskipun diliputi rasa kesal, aku merasa senang karena masakan sudah siap lebih awal dari biasanya.


"Bapak sendiri juga sebal. Niat mau istirahat malah jadi begadang. Harusnya kalau malam mbok yo volumenya dikurangi. Bukan cuma kita, yang lain juga perlu istirahat," ucap Bapak menyampaikan kekesalannya.


"Bapak mau ke pasar hari ini?" tanya Rehan yang masih dalam kondisi muka bantal. Tuan muda baru bangun. Setelah salat Subuh tadi Rehan masih sempat melanjutkan tidurnya.


"Nggak, Le. Hari ini libur dulu, mau rewang di rumah Bu Darmi. Masa tetangga repot mau jualan juga," jawab Bapak dengan terkekeh.


Rehan kemudian mengambil pakan ayam yang semula dipegang oleh Bapak. Indukan ayam yang anaknya baru menetas tidak luput untuk diberi pakan dan minuman. Rehan begitu telaten merawat ayam-ayam tersebut. Ia tampak berbincang-bincang dengan Bapak, sementara aku meninggalkan mereka dan melaksanakan aktivitas mencuci piring.


"Mbak Devi, ada yang nyari!" teriak Rehan dari dalam.


"Siapa?"


"Bu Dina."


Ada apa Bu Dina mencariku? Bu Dina adalah adik ipar dari Bu Darmi. Dia bahkan jarang bertandang ke rumah ini karena bertempat tinggal di luar kota. Aku rasa hal ini berkaitan dengan acara pernikahan Mbak Eka.


"Masih nyuci, Mbak?"


Aku terkejut, ternyata Bu Dina sampai menghampiriku yang sedang melakukan aktivitas mencuci piring yang kulakukan di luar rumah. Berarti ada hal penting yang hendak ia sampaikan. Aku segera membilas tanganku dan mendatangi Bu Dina, tidak enak jika ia menunggu lama.


"Ada apa, Bu?" tanyaku.


"Bisa jadi domas Mbak Ika? Soalnya yang awalnya mau jadi domas tidak bisa ke sini. Bisa, ya, Mbak?" Bu Dina bahkan memberikan amplop memaksa aku untuk menuruti permintaannya.


"Bukannya nggak mau, Bu. Bukannya Bu Riris sudah dapat anak buat jadi domas. Nanti beliau marah kalau saya tiba-tiba ikut," ungkapku mengingat sikap Bu Riris yang tidak suka denganku.


"Ah, jangan takut. Biarin aja dia kayak gitu. Nanti kalau dia marah, Ibu marahin balik."


"Mau, ya, Nduk? Ayo buruan ke sana bareng Ibu." Bu Dina menarik tanganku untuk segera mengikutinya, buru-buru sekali.

__ADS_1


"Saya belum mandi, Bu."


"Ya udah, mandi sebentar."


"Sebenarnya ada cucian piring juga, Bu. Harus sekarang banget?"


"Harusnya sekarang. Ya udah, nggak papa kalau mau nyuci piring dulu. Ibu tunggu di sini, ya?"


"Ibu pulang aja. Nanti Devi pasti ke sana, kok."


"Ibu tunggu di sini aja. Takut kalau kamu bohong."


"Bu, Devi nggak bohong, kok. Habis ini juga langsung ke sana. Mending Ibu ke sana duluan, bukannya di sana lagi repot?"


"Repot, sih, repot. Tapi aku malas, Nduk. Semua sudah aman terkendali sama Riris. Yang ada kalau Ibu ikut campur malah Riris mencak-mencak." Jangan aku, Bu Dina yang merupakan saudara kandung juga kesal dengan sikap Bu Riris.


"Ya udah, kalau gitu Devi mandi sebentar, Bu. Maaf ya harus nungguin."


***


Hampir saja aku tidak menyangka jika gadis dengan pakaian kebaya dan rambut bersanggul yang tampak dari pantulan cermin adalah aku. The power of make up, memang baru kali ini wajahku memakai riasan. Tugasku pun sudah selesai karena memang acara temu manten sudah berakhir.


"Beda banget, ya? Aku juga heran, kenapa berubah banget. Kelihatan cantik banget, ya? Jelas, namanya juga make up."


"Iya, cantik, Dev. Tapi aku lebih suka kamu kayak biasanya. Kelihatan benar-benar santai, beda sama sekarang. Kamu cantik, tapi kelihatannya nggak nyaman." Benar, itu yang kurasakan saat ini.


"Eh, Dev, tapi boleh minta foto nggak sih?" tanya Mas Ovi kepadaku.


"Foto apa?"


"Foto berdua, di pelaminan, boleh?" Mas Ovi melunjak. Pertanyaannya yang pertama saja belum kujawab, bisa-bisanya malah request yang lain.


"Di sini aja, Mas. Aku malu mau ke sana."


"Di sini tempatnya kurang bagus, nggak usah malu."


"Nanti dilihat banyak orang, lho."

__ADS_1


"Ya, nggak papa. Mereka punya mata, kan? Fungsi mata untuk melihat."


"Tapi aku malu, Mas Ovi," ucapku karena merasa sedikit jengkel.


"Kalau Devi malu, nanti Mas Ovi tutupi, deh." Mas Ovi tertawa.


"Mau, ya, Dev? Sekali-kali biar punya foto bareng kamu," pinta Mas Ovi lagi.


"Ya udah ayo kalau mau minta foto," jawabku menyetujuinya.


"Jadi mau ditutupi?" canda Mas Ovi, aku hanya menggeleng.


Siang hari memang untuk sementara tidak ada acara. Tamu yang menghadiri resepsi juga sudah pulang. Mempelainya pun tengah istirahat, jadinya pelaminan untuk saat ini sedang tidak berpenghuni.


Aku sudah menuju ke tempat itu terlebih dahulu. Sementara Mas Ovi masih tampak berbincang-bincang dengan temannya. Mungkin ia sedang meminta tolong untuk difotokan. Sebenarnya hanya ditinggal sebentar, hanya saja kondisiku saat ini membuatku tidak nyaman.


"Maaf, ya, agak lama. Soalnya yang mau fotoin lagi ngambek." Mas Ovi tertawa.


"Ayo, buruan. Mau foto gimana dulu, nih?" tanya teman Mas Ovi yang tampak tersenyum meledek.


"Gimana enaknya, Dev?" lirih Mas Ovi, aku hanya menggeleng.


"Gimana, sih. Mau gaya foto aja bingung. Formal dulu aja, duduk berdua di sana!" teriak teman Mas Ovi mengarahkan agar duduk di singgasana pengantin.


"Satu ... dua ... tiga ...."


"Kaku banget, kalian! Lemes aja! Lagi, ya!"


"Sekarang berdiri sejajar, terus saling tatap, ya."


"Ha? Harus gitu?" tanyaku yang malu membayangkan arahan foto teman Mas Ovi, seperti pengantinnya saja.


"Nggak papa, Dev. Kayaknya bagus itu."


"Ya udah, ayo, Mas."


"Oke, kayak gitu bagus. Satu ... dua ... tiga ...."

__ADS_1


Mas Ovi meminta satu foto lagi, namun aku menolaknya karena kulihat ada Bapak yang tengah membawa nampan dengan isi gelas dan air teh di sana. Bapak pasti tidak suka jika melihatku, bukannya segera membersihkan diri malah foto-foto. Aku kemudian izin untuk kembali ke tempat merias tadi. Mas Ovi sepertinya tidak terima, teriakannya tidak kupedulikan.


__ADS_2