Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Ulah Risa


__ADS_3

Aku dan Alwi berjalan melewati bagian depan ruang guru. Sebenarnya aku sedikit cemas, apa laporan yang sudah dituduhkan Risa kepadaku dan Alwi. Masa iya gara-gara merasa malu di sampai tega melapor di guru BK.


"Santai aja, Dev. Kan, ada aku. Kita hadapi bareng-bareng, jangan takut!"


Aku dan Alwi berhenti di dekat pintu ruang BK. Aku hanya tersenyum untuk meyakinkan diri dan Alwi. Kami tidak sepenuhnya salah, jadi tidak perlu takut.


"Kamu yang laporin kita ke Bu Irma?"


Risa yang baru keluar dari ruang BK hanya menyeringai ketika mendapat pertanyaan itu dari Alwi. Dasar perempuan licik!


"Kita salah apa, lho, Ris? Bisa-bisanya kamu ngadu ke Bu Irma," ucapku.


"Tenang aja, kalian akan dapat kejutan." Risa mendorong bahuku.


"Makasih kejutannya, Ris. Sebenarnya nggak perlu repot-repot," celetuk Alwi.


"Kalian nggak perlu bilang makasih, ini hadiah karena kalian udah berani mempermalukan seorang Risa. Oke, aku nggak ada waktu lama untuk nanggapin kalian, bye!" Risa melenggang pergi dari hadapan kami. Aku menghela napas berat.


"Ayo, Dev!" Aku mengangguk menanggapi ajakan Alwi.


"Assalamualaikum," ucapku dan Alwi bersamaan.


"Waalaikum salam."


Bu Irma mempersilahkan aku dan Alwi untuk duduk. Senyum ramah guru BK tersebut justru tidak bisa membuat tenang. Aku terus saja menunduk menanti Bu Irma yang masih merapikan mejanya.


"Kalian tahu kenapa Ibu panggil?" tanya Bu Irma.


"Pasti Risa yang lapor, kan, Bu?" Alwi justru bertanya.


"Ya. Kalian jualan di kelas?"


Oh, jadi ini masalahnya. Bahkan aku tidak tahu jika ada larangan untuk berjualan di kelas.


"Iya, Bu. Sambil bantu orang tua," jawab Alwi.


"Itu bagus. Tapi tadi Ibu perhatikan di depan kelas kalian banyak sampah berserakan bekas makanan yang kalian jual."


"Jadi kita nggak boleh jualan di kelas, Bu?" tanya Alwi.


Baru saja aku merasa senang sebab bisa membantu Bapak dengan berjualan. Hanya gara-gara ulah Risa aku tidak bisa lagi berjualan.

__ADS_1


"Boleh, kok. Tapi kalian harus selalu mengingatkan teman-teman untuk tidak membuang sampah sembarang," ucap Bu Irma.


"Ibu cuma mau mengingatkan, Ibu juga tidak melarang berjualan karena dulu sewaktu sekolah juga sering berjualan dan tidak ada peraturan larangan berjualan di kelas. Boleh, asal dilakukan di luar jam pelajaran," jelas Bu Irma.


"Terima kasih, Bu. Selanjutnya akan kami ajak teman-teman untuk membuang sampah pada tempatnya," ucap Alwi. Ya, sedari tadi hanya Alwi yang menjadi juru bicara, aku lebih memilih untuk diam.


"Baik, setelah ini kalian masih ada ujian, kan? Silahkan kembali ke kelas."


"Iya, Bu. Kami pamit dulu." Alwi mencium punggung tangan Bu Irma. Setelahnya, aku pun melakukan hal yang sama.


"Assalamualaikum, Bu," ucapku dan Alwi sebelum meninggalkan ruang BK.


Aku sudah merasa lega, ternyata hanya dapat peringatan. Untung saja ada Alwi, kalau tidak mungkin aku sudah ketakutan lebih dulu.


"Benar, kan, Dev. Kita itu nggak salah. Jadi nggak usah takut," ucap Alwi dalam perjalan menuju kelas.


"Syukurlah, Al. Pikiranku saja yang tidak bisa untuk berprasangka baik. Sudah takut duluan."


"Harusnya kamu berterima kasih padaku, aku dari tadi yang ngomong terus. Kamu cuma diam aja." Alwi tertawa.


"Ya udah, makasih, Al," ucapku.


"Yang ikhlas, Dev." Sepertinya Alwi sengaja menggodaku.


"Sama-sama Devi yang jelek!" Aku hanya berdecak, malas terus menerus meladeni Alwi.


Aku dan Alwi tiba di kelas. Aku langsung fokus pada Risa yang tengah duduk di bangkunya. Dia juga sempat melirik sinis ke arahku, mungkin dia pikir aku dan Alwi mendapat hukuman.


"Gimana, kenapa kalian dipanggil Bu Irma?" tanya Firman.


"Nggak papa, kok," jawab Alwi.


"Teman-teman, kalian puas-puasin beli dagangan Devi sama Alwi. Besok mereka udah nggak jualan lagi," ucap Risa memberi pengumuman kepada teman-teman di kelas.


"Lho, beneran, Dev? Kenapa?" tanya Dila yang sepertinya juga penasaran.


"Yah, padahal aku mau pesan, lho, Dev," ucap Oliv.


"Kata siapa aku nggak jualan?"


"Kita tetap jualan, kok, teman-teman. Tadi Bu Irma cuma mempermasalahkan sampah yang kita buang secara sembarangan. Setelah ini, tolong, ya, buang sampah pada tempatnya. Ini juga demi kenyamanan kita saat belajar," jelas Alwi.

__ADS_1


"Hah, kalian masih dibolehin jualan?" Risa sepertinya sangat tidak percaya.


"Masih boleh, kok. Kamu mau pesan, Ris?" Alwi memang suka meledek.


"Lho, kok, masih dibolehin, sih? Kan, aku minta Bu Irma biar kalian berhenti jualan," ujar Risa.


"Yang kita lakukan tidak melanggar peraturan, kok, Ris. Kamu sebenarnya berniat memutus rizki orang? Kenapa setega itu melapor ke Bu Irma?" tanya Alwi.


"Ah, udah, ah. Malas!"


Aku menatap Alwi dan tersenyum. Dia kelihatan begitu puas sekali bisa memberi pelajaran kepada Risa. Kasihan, dia jadi malu dua kali.


"Daripada sibuk ngurusin orang, lebih baik belajar, Ris. Biar nggak susah payah buat nyontek lagi," saran Alwi kepada Risa.


"Diam kamu! Merasa paling benar, padahal juga sama aja. Mungkin kalau nggak ada Nindi kamu juga nggak bisa!"


Risa mulai ngelantur, beginilah ketika kalah berargumen. Sibuk mencari kesalahan, bahkan mengaitkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada hubungannya.


"Hei, aku sama Nindi cuma belajar bareng, nggak contekan," timpal Alwi.


"Alwi, udah, ah. Kamu ladenin dia nggak akan ada habisnya. Mending nggak usah ditanggapi," ucapku.


Aku bergegas duduk di kursiku. Saking repotnya menyimak perdebatan Alwi dan Risa, hingga tidak sempat duduk.


"Sama aja itu, intinya kamu juga curang!"


"Terserah kamu, Ris. Risa memang maha benar, benar-benar song*ngnya." Aku dan Nindi saling menatap kemudian berusaha menahan tawa. Mulut Alwi kenapa pedas jika berbicara dengan Risa.


"Diam! Jangan sembarang kalau ngomong!"


"Itu nggak sembarangan, itu fakta."


Bel tanda masuk menghentikan perdebatan itu. Syukurlah, telingaku merasa tersiksa jika hal itu terus saja dilakukan.


Tak berselang lama Pak Fatih datang. Beliau adalah guru senior yang mengampu pelajaran agama. Pertemuan sebelumnya sudah diberitahu jika untuk ujian adalah dengan membaca Alquran.


Kalau untuk mengaji, aku tidak ada masalah. Yang kutakutkan jika nanti ada pertanyaan seputar tajwid. Untuk penerapannya sudah bisa, namun jika ditanya mengenai penjelasan hukum bacaan, mungkin aku sedikit lupa.


Pak Fatih memanggil tiga nama untuk setiap kloternya. Tiga orang yang dipanggil menghadap beliau dan mengaji sesuai ayat yang diminta.


Untung saja aku tidak mendapat giliran yang pertama. Aku bisa memanfaatkan hal tersebut untuk belajar terlebih dahulu.

__ADS_1


Sambil menunggu giliran untuk maju, aku becanda bersama Nindi. Menunggu ternyata membosankan juga. Aku berharap namaku tidak disebut di urutan terakhir.


Maaf ya, kalau bab ini kurang menarik. Terima kasih untuk yang sudah mampir.


__ADS_2