
Nindi datang lalu menyapaku. Dia kemudian meletakkan tas dan duduk di kursinya. Gadis itu menyadari jika aku baru mengerjakan tugas. Pasti setelah ini dia mau menginterogasiku.
"Pasti belum ngerjain tugas, ya?" Nindi tersenyum kepadaku.
"Lupa, Nin. Udah selesai, kok."
"Kan, aku udah ingetin kemarin. Malah gak didengerin," omel Nindi.
"Kemarin kamu nggak ngasih tahu," protesku karena memang merasa Nindi tidak menyinggung tugas mata pelajaran IPS.
"Kemarin itu, lho!"
"Alwi kali yang kamu kasih tahu," ucapku.
"Apa iya, ya? Masa Alwi yang aku kasih tahu?" tanya Nindi mengingat harinya kemarin.
"Iya, deh, kayaknya Alwi yang aku kasih tahu." Nindi tertawa.
"Huuu, ya gitu selalu pacarnya yang diprioritaskan," ledekku.
"Tuh, pensilmu jatuh." Nindi menunjuk ke bawah dekat kakiku.
"Wah, bisa-bisanya jatuh." Aku berjongkok untuk mengambil benda yang terbuat dari kayu itu.
Setelah mendapatkan pensilku, aku berdiri dan tanpa sengaja menyerempet Risa yang baru masuk untuk menuju bangkunya. Tatapannya langsung tajam kepadaku. Benar-benar dia membenciku.
"Maaf, Ris. Nggak sengaja."
Risa tidak menjawab. Ia lantas duduk di bangkunya dengan santai. Aku ingat sesuatu yang diberikan oleh Zaki tadi. Kalau sudah begini jadi malas untuk memberikan pada Risa.
"Risa, ada titipan untuk kamu." Kusodorkan pemberian Zaki tadi.
"Apaan, nggak sudi kalau dari kamu," tandas Risa yang langsung menghakimiku.
"Bukan dari aku, dari Zaki," ucapku setengah berbisik.
"Ha? Dari Zaki?" Risa heboh sendiri. Aku sengaja diam-diam, malah dia yang mengundang perhatian seisi kelas.
"Iya, dari Zaki buat kamu."
Risa menyerobot benda yang kubawa. Dia langsung membuka di menata di atas mejanya. Demi apa, sih? Dia sengaja ingin menunjukkan kepada semua orang jika sedang ada yang memperhatikannya? Ah, aku nggak pernah, sih.
"Dev, malah bengong!"
__ADS_1
Kalau bukan mendengar seruan Nindi, mungkin aku tidak sadar jika masih berdiri dengan memperhatikan Risa. Mungkin aku terlalu heran, ternyata ada juga orang yang seperti itu. Risa tersenyum bahagia kali ini, itu jauh lebih baik daripada ia terus berulah.
"Nggak usah kaget gitu, Dev. Kamu heran? Atau, mungkin kamu iri? Kan, Zaki itu mantan calon pacarmu." Nindi tertawa kecil.
"Ih, bukan gitu. Aku sama sekali nggak cemburu. Itu si Risa kenapa malah kayak bangga banget. Biasanya kan malu-malu kalau orang jatuh cinta," elakku.
"Emangnya kamu pernah jatuh cinta?" goda Nindi dengan berbisik.
"Eh, apaan, sih? Kenapa malah jadi nanya gitu ke aku?"
"Dev, kita itu sahabat, lho. Kamu nggak pernah cerita sama aku perihal cowok. Kamu masih normal, kan?"
"Eh, enak aja. Aku normal, dong!" tandasku tidak terima dengan pertanyaan Nindi.
"Tapi kamu nggak pernah cerita siapa cowok yang kamu suka ke aku, Dev."
"Dulu sempat suka, sekarang udah biasa aja, sih."
"Siapa, Dev? Satu kelas sama kita?" Nindi berusaha memancingku.
"Iya." Aduh, mulut ini tidak bisa dikendalikan.
"Kasih tahu, dong, Dev"
Aduh, jelas tidak mungkin kuceritakan pada Nindi jika aku sempat terbawa perasaan dengan sikap Alwi. Bisa kacau kalau aku jujur. Cari alasan apa, ya?
"Eh, ada apa namaku dibawa-bawa?" tanya Firman, si manusia yang paling tidak bisa santai.
"Eh, nggak, kok, Man. Ini cuma interogasi Devi. Katanya dia sempat naksir cowok di kelas ini," jelas Nindi tanpa menyaring sedikit pun. Aduh, parah!
"Palingan juga si Alwi," celetuk Risa dari bangkunya. Hei, kenapa dia ikut campur. Seharusnya dia mengurus saja kebahagiaannya.
"Apaan, sih. Sok tahu!" ucapku.
Alwi yang sedari tadi duduk di bangkunya tampak tidak peduli kali ini. Mungkin dia sedang sakit. Biasanya jika aku tampak heboh sedikit dengan Nindi dia selalu tidak ingin ketinggalan.
"Siapa lagi kalau bukan Alwi? Kalian dulu pernah pulang bareng, kan? So sweet banget," ucap Risa menambahi argumen pendukungnya.
"Kalau pulang bareng emang artinya suka?" tanyaku.
"Tapi Alwi pernah ngasih kamu cokelat, kan?"
"Hei, Risol!" teriak Alwi begitu menyadari Risa membeberkan rahasia yang kusimpan bersama Alwi selama ini. Aduh, ternyata Risa tahu itu.
__ADS_1
"Jangan salah paham dulu, Nin," lirihku.
"Jadi benar yang dibilang Risa?" Meskipun disertai tawa kecil, aku tahu Nindi sedikit cemburu. Gawat kalau dia sampai marah.
"Aduh, aku jadi bingung gimana ceritanya."
"Romantis banget kan? Mana ngasih cokelatnya diam-diam gitu. Aku tahu karena dulu sempat mergokin. Kamu tega banget, sih, Nin. Bisa-bisanya malah pacaran sama orang yang disukai sahabat kamu," ucap Risa yang kurasa sengaja ingin memperburuk hubunganku dengan Nindi dan Alwi.
"Jadi gitu, Dev? Kenapa kamu nggak bilang?" Kutangkap ekspresi kecewa di wajah Nindi. Mungkin dia merasa tidak tega denganku. Ah, gara-gara Risa, sih.
"Aduh beneran. Aku nggak ada tuh suka sama Alwi. Itu salah paham."
"Dasar Risol, pagi-pagi udah bikin masalah! Kalau kamu nggak tahu cerita sebenarnya mending diam!" Alwi menghampiri Risa dan menggebrak meja milik gadis itu.
"Santai, dong, Al. Kaget tahu!" ucap Risa.
"Nggak peduli! Lain kali jangan kayak gitu. Yang kamu bilang itu bisa merugikan orang lain, lho!" Alwi menunjuk ke arah wajah Risa.
"Iya, iya. Maaf."
Alwi lantas duduk di kursi yang berada di depan Nindi. Ia mungkin akan meminta maaf atau sekadar meluruskan apa yang diucapkan Risa. Aku yakin Nindi sedang bersedih.
"Nin, jangan dengar ucapan Risa. Itu nggak benar," ucap Alwi.
"Bukannya begitu, Al. Aku nggak enak hati sama Devi kalau ternyata itu benar." Aku hanya menyimak pembicaraan mereka, rasanya tidak tertarik untuk menimbrung.
"Itu salah paham. Jadi ceritanya dulu itu aku niat mau ngasih cokelat ke kamu. Terus apa, Dev?" Hm, bisa-bisanya aku juga dikaitkan.
"Alwi itu ngasih cokelat diam-diam ke dalam bukuku. Mana suratnya itu gak ada keterangan kalau yang dituju itu kamu. Ya aku makan sama Rehan akhirnya," jelasku pada Nindi.
"Nah, jadi sebenarnya itu. Aku yang salah, aku yang asal taruh aja tanpa memastikan kalau itu benar buku kamu atau nggak. Maaf, ya, Nin."
"Tapi kenapa kamu nggak cerita, Dev?" tanya Nindi lagi.
"Ya, aku sungkan kalau mau cerita. Ini kan termasuk aib, harus dirahasiakan. Kasihan Alwi kalau banyak yang tahu," terangku berusaha agar kalimat yang kutata terdengar masuk akal.
"Iya juga, sih," ucap Nindi.
"Nah, sekarang kan kamu udah tahu cerita sebenarnya. Jangan marah, ya?" Alwi tersenyum.
"Siapa yang marah? Aku itu justru nggak enak hati sama Devi. Iya benar, sih kamu salah alamat. Emangnya kamu tahu gimana perasaan Devi? Yang aku permasalahkan bukan kamu ngasih cokelatnya, tapi gimana perasaan Devi. Takutnya kalau yang dibilang Risa benar kalau ternyata sebenarnya Devi memang suka kamu. Aku jadi ngerasa udah merebut kamu dari dia," jelas Nindi. Hm, aku jadi terharu. Kenapa dia bisa kepikiran sampai ke arah itu.
"Kamu nggak suka aku, kan, Dev?" cecar Alwi seketika.
__ADS_1
"Ya, pastinya nggak, dong."
Tenang saja, Nin. Rasaku kepada Alwi sudah hilang. Aku memang sempat menyukainya tapi tidak untuk sekarang. Alwi sudah menemukan orang yang tepat untuk saat ini.