Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Bu Sukma


__ADS_3

"Makasih, Dev." Alwi yang mengacungkan jempol kubalas dengan hal yang serupa.


Aku juga berterima kasih padanya. Entah berapa uang saku yang ia bawa, bisa-bisanya membeli dua porsi rujak cingur dan es campur yang dimakan di tempat. Belum lagi dia menambah masing-masing dua porsi menu yang sama untuk dibungkus, katanya untuk Rehan dan Bu Salma. Mungkin alasan lainnya mengapa Alwi tadi begitu murung adalah karena kelaparan. Buktinya setelah kenyang ia tampak begitu sumringah.


"Aku langsung pulang, ya, Al. Makasih traktirannya." Aku sempat melambaikan tangan kepada Alwi sebelum akhirnya kembali kulanjutkan perjalanan pulang menuju rumah.


Seperti kemarin, Bapak tengah menyiapkan motor beserta tas yang akan digunakan sebagai wadah ayamnya nanti. Rehan tampak bermain-main di halaman tanpa teman sama sekali. Adikku itu memang terlalu peka, melihat ada bungkusan yang tergantung di bagian depan motor saja dia tahu. Dia bersorak kemudian mengejarku.


"Mbak Devi! Bawa apa?"


Aku tidak menghiraukan teriakan Rehan. Rehan terus mengekoriku yang masih menuntun motor ke dalam dapur. Bapak sempat menasihati Rehan, katanya kasihan aku baru pulang sudah ditodong saja.


"Ada apa, sih, Re?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Yang dibawa Mbak Devi itu apa?"


"Motor?"


"Yang di kresek, Mbak Devi bawa jajan banyak."


"Apa, tho, Le? Mbak Devi lho cuma Bapak kasih uang saku sedikit. Pulang-pulang malah kamu mintai jajan," sergah Bapak yang juga ikut masuk ke dapur namun tujuannya untuk mengambil air minum.


"Bukan minta jajan, Pak. Itu, Rehan lihat Mbak Devi bawa banyak jajan, tuh." Rehan menunjuk bungkusan yang kutaruh di gantungan yang berada di bawah stang motor.


"Tadi Alwi yang ngasih ini. Rujak cingur sama es campur. Bapak sama Rehan makan, ya. Devi tadi sudah makan di sana sama Alwi, kok," jelasku pada Bapak dan Rehan.


"Nggak pedas, kan?" Rehan mungkin kali ini begitu waspada. Tumben, ia takut makanan pedas.


"Takut kalau pedas?" godaku.


"Takut kalau diare."


"Tenang aja, cabainya cuma satu tadi."


"Serius?"

__ADS_1


"Khusus buat kamu! Ayo, Pak. Bapak ikut makan juga, ya."


Bapak mendekati Rehan yang tengah menyantap makanan tadi. Sementara mereka makan, aku masuk ke kamar untuk mengganti baju. Seragamku ini, besok masih dikenakan lagi, masa iya baju seragam kupakai untuk aktivitas sehari-hari?


Setibanya di kamar, mood-ku terasa hancur. Beberapa hari ini hujan mendera begitu awet. Banyak pakaian yang tidak kering hingga membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi kondisi layak dilipat. Sayangnya saat ini pakaianku yang sudah kering dari jemuran mengantre untuk dilipat dan begitu banyak jumlahnya, sedangkan aku begitu bermalas-malasan.


Setelah mengganti seragam sekolah dengan kaos, kumasukkan baju-bajuku ke dalam keranjang. Aku belum berminat untuk melipat baju-baju itu bahkan menyusunnya dengan rapi di dalam lemari. Akhirnya aku memilih untuk menghampiri Rehan dan Bapak yang berada di dapur.


"Sudah habis, Re?"


Rehan mengangguk dan menunjukkan kertas minyak bungkus rujak cingur tadi sudah dalam kondisi kosong. Rehan menutup mulutnya, ia keceplosan bersendawa dengan keras di samping Bapak.


"Jangan dibiaskan sendawa kayak gitu, ya, Le." Rehan hanya mengangguk.


Rehan kemudian mengambil mangkuk untuk wadah es campurnya. Dia begitu antusias, minuman itu salah satu kesukaannya. Aku ingat dengan Rehan yang malang. Dulu ada tetangga yang memberikan sebungkus es campur. Sayangnya, baru saja minuman itu hendak dipindahkan, sudah jatuh dan pecah menyatu dengan tanah.


"Hati-hati, Re. Nanti jatuh nggak jadi minum kayak dulu, lho."


"Hati-hati banget ini, Mbak. Sayang banget kalau jatuh untuk kedua kalinya. Kalau jatuh aku minta beliin lagi besok." Rehan tertawa. Ah, liciknya.


"Kamu minum dulu aja, Le. Nanti kalau Bapak mau, pasti minta!"


"Enak, Pak. Sini Bapak Rehan suapin."


Aku ingin tertawa, Rehan dan Bapak terlihat romantis saat ini. Tumben Bapak menuruti kemauan anaknya. Coba kalau aku yang meminta begitu, pasti Bapak tidak menggubrisnya.


"Basir, Basir!"


Bapak seketika beranjak dari duduknya begitu mendengar suara teriakan dari luar. Aku hanya menduga orang yang berada di luar sedang memiliki masalah dengan Bapak. Bapak menyusul ke depan untuk menghampiri seseorang tadi.


"Mbak nggak penasaran sama siapa yang manggil tadi?" tanya Rehan.


"Nggak, tuh." Sebenarnya rasa kepo sudah di ubun-ubun. Akan tetapi, tidak mungkin rasanya menyusul dan ikut campur urusan Bapak dengan orang lain.


"Di dalam rumah saja, ya, Bu! Nggak enak dilihat tetangga." Bapak menarik tangan wanita yang teriak-teriak tadi. Oh, ternyata Bu Sukma dan anaknya, Mas Dito.

__ADS_1


"Kamu jual ayam yang penyakitan, kan? Ayo, jujur kamu!" Aduh, baru datang sudah ngegas saja.


"Demi Allah, Bu. Ayam yang saya jual selalu sehat. Di sini pun saya kasih vitamin secara berkala," jelas Bapak dengan ekspresi ketakutan yang begitu kentara.


"Kalau benar-benar sehat, kenapa ayam yang saya beli dari kamu tadi pagi mati?" Bu Sukma berkacak pinggang dengan raut mengerikan.


"Kemungkinan di sekitar rumah Ibu ada ayam yang kena penyakit juga. Seperti itu penularannya cepat, Bu."


Mas Dito tampak terus menunduk, mungkin dia malu punya ibu seperti Bu-Suk, maksudku Bu Sukma. Bu Sukma memang seperti itu wataknya, dia tidak tenang jika melihat tetangga berproses untuk sukses. Mungkin saat ini ia merasa tersaingi, Bu Sukma memang juga menjual ayam potong. Bisa jadi ia benci karena banyak yang membeli ayam di Bapak.


"Nggak mungkin, aku yakin yang kamu jual itu ayam yang sakit."


"Bu, udah, yuk. Mending kita pulang aja." Bu Sukma menepis tangan Mas Tito yang berusaha memegang bahunya.


"Nggak mau tahu, pokoknya harus ganti rugi."


"Ganti rugi apaan, sih, Pak?" Aku tidak bisa diam untuk kali ini.


"Ganti rugi ayam Ibu yang udah mati."


"Ibu kan udah beli, itu udah jadi milik Ibu dan bukan tanggung jawab Bapak lagi. Ya kalau emang mati, bisa jadi karena Ibu gak serius merawatnya. Jangan dipikir saya nggak tahu, ya, Bu? Ibu sengaja kan bikin rumor kayak gini terus nanti koar-koar ke warga biar dagangan Bapak gak ada yang beli? Itu, kan, tujuan Ibu?"


Bisikan apa yang membuatku berani berkata seperti itu. Bahkan Bu Sukma pun terlihat tak percaya jika aku berkata begitu. Dia pikir aku hanya bisa diam?


"Anak kecil tahu apa kamu?"


"Tahu, lah, Bu. Ibu itu memang nggak suka kalau lihat tetangga merintis usaha. Bawaannya iri terus gitu ya, Bu?"


"Apaan, sih? Makin ngelantur ngomongnya."


"Ibu yang ngelantur. Suka banget mematikan rizki orang. Sudah tua harusnya banyak berzikir, Bu. Umur nggak ada yang tahu malah banyak bertingkah. Mas Dito, Bu Sukma segera dibawa pulang."


"Ayo, Bu. Kita pulang!" Mas Dito menarik tangan Bu Sukma lagi.


"Pulang aja, Bu. Sampai kapanpun, Devi gak ikhlas kalau disuruh ganti rugi. Itu bukan urusan kita lagi."

__ADS_1


"Ya udah, ayo pulang, Dit!" Kali ini Bu Sukma mau mengajak pulang terlebih dahulu


__ADS_2