
"Kalian nggak jajan?" tanya Bapak selepas menghitung uang hasil penjualan sayuran tadi. Aku dan Rehan kompak menggeleng.
"Lho, kenapa?" tanya Bapak lagi.
"Udah keburu malas mau jajan di sana, Pak. Soalnya penjualnya galak," sergah Rehan yang sepertinya memendam rasa kesal.
"Ya udah, jajan di warung yang lain aja. Nih! Buat berdua, ya."
Rehan tampak bahagia menyambut uang pemberian Bapak. Dia kemudian pamit menuju warung Mbak Siti yang memang khusus menjual aneka jajanan. Wajar jika Rehan merasa sangat senang, hasil kerjanya memetik dan menjual sayur akhirnya terbayar.
"Eh, airnya habis, ya, Pak?"
Kulihat Bapak yang tertipu dengan teko alumunium di atas meja. Begitu benda itu untuk dituangkan isinya ke dalam cangkir, ternyata hanya ada beberapa tetes dari dalamnya. Pagi tadi sebenarnya masih tersedia air minum di teko itu. Namun, aku memindahkan isinya ke dalam botol yang biasa dibawa ke ladang.
"Maaf, Pak. Tadi habis ngisi botol buat ke ladang dan tadi lupa nggak ngisi teko."
"Nggak papa," jawab Bapak yang membuka tutup teko dan tampak hendak mengisinya.
Buru-buru aku menyerobot teko yang berada di hadapan Bapak tersebut. Teko tersebut biasanya diisi dengan air minum yang memang disediakan dari hasil rebusan sendiri. Baiknya, hal itu dapat menghemat pengeluaran, di lain sisi terkadang terdapat aroma dan rasa khas tungku kayu saat meminumnya.
"Ini, Pak, kalau mau minum," ucapku sembari meletakkan kembali teko minuman ke atas meja.
"Iya, Nduk. Besok udah mulai masuk sekolah, ya?" tanya Bapak sembari meneguk air minum.
"Iya, Pak." jawabku.
"Rehan juga masuk?" tanya Bapak lagi.
"Iya, Pak."
Tidak ada percakapan lagi di antara aku dan Bapak. Sering kali berakhir dengan seperti ini, sunyi! Dulu sewaktu masih kecil kurasa Bapak tidak sependiam ini. Entah hanya perasaanku saja atau memang begini adanya, semenjak aku beranjak remaja, jarang sekali aku bergurau dengan Bapak. Jangankan bergurau, untuk bisa berbincang-bincang saja sulit untuk mendapatkan topik. Terlebih ketika Ibu sudah meninggal dunia, aku merasa kesepian ketika di rumah.
"Mbak ... ada air panas?"
Rehan kembali dari warung dengan berlari. Di tangan kanannya terdapat dua bungkus jajan yang baru dibeli.
"Ada di termos. Itu apa, Re?" jajanan yang dibawa Rehan tampak asing bagiku.
"Mie seduh, Mbak. Kemarin aku lihat Arka makan ini kayak enak banget gitu," jelas Rehan bersemangat.
__ADS_1
"Beli dua? yang satu berarti buat aku?"
Rehan yang sedang menyiapkan mangkok kecil dan sendok terlihat sedikit cemberut ketika kuajukan pertanyaan tersebut. Awas saja jika pelit seperti itu.
"Dimakan berdua, ya. Sama Mbak Devi," lerai Bapak.
Bapak kemudian meninggalkanku bersama Rehan. Aroma lezat dari mie tercium ketika Rehan menuangkan air panas ke dalam mangkok. Rehan masih menunggu sembari mengaduk-aduk makanan dengan bentuk keriting itu.
"Mbak, jadi minta?" tanya Rehan.
"Oh, pasti. Enak nggak?" Kuraih sendok yang tersedia dan memasukkan satu suapan ke dalam mulut. Enak juga.
"Lho, udah, Mbak?" tanya Rehan ketika aku beranjak dari sampingnya.
"Udah, mau nyuci sepatu dulu. Besok udah masuk sekolah, lho, Re."
"Iya, Mbak. Aku ingat, kok."
****
Senin pagi yang begitu cerah. Hangat cahaya matahari menerobos melalui dinding anyaman bambu. Aku bangun sebelum subuh untuk memasak, mencuci, dan membereskan rumah. Sebenarnya bukan hal yang berat, aku sudah terbiasa melakukannya setiap hari bahkan ketika waktu libur kemarin.
Biasanya setengah enam aku sudah mulai berangkat sebab jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh. Ada rasa lelah ketika setiap harinya harus mengayuh sepeda dengan jarak hampir tiga kilometer. Namun, mengeluh saja juga percuma. Harusnya aku lebih bersyukur karena dapat merasakan bangku pendidikan.
Setelah menempuh jarak yang lumayan menguras tenaga, aku tiba di sekolah yang masih dalam kondisi sepi. Bahkan, pintu gerbangnya masih belum dibuka namun dalam kondisi tidak terkunci.
"Sebentar, Nduk!" teriak Pak Ghani, satpam sekolah, dari posnya.
Aku sedikit terkejut, tidak tahu jika ada Pak Ghani di situ.
"Silahkan masuk," ucap Pak Ghani sembari merentangkan tangan kanannya seolah menyambut tuan putri.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Aku menuntun sepedaku ke arah selatan di mana parkir sepeda berada. Kondisi sekolah masih benar-benar sepi. Mungkin kebanyakan siswa masih terbawa suasana liburan, rasanya malas untuk melangkahkan kaki menuju sekolah.
Aku masih tidak menyangka, ternyata sekarang aku sudah kelas delapan untuk semester genap. Untuk tahun ajaran baru, biasanya ada model rolling kelas. Kelasku kebetulan termasuk kelas unggulan dan dijuluki sebagai kelas yang berisi siswa dengan kemampuan lebih baik. Ah, tapi kenyataannya tidak begitu. Otakku yang pas-pasan ternyata membuatku bisa bertahan di kelas itu, bahkan dari aku kelas tujuh. Kemungkinan nanti akan bertemu beberapa teman baru dari kelas reguler. Semoga saja mereka tidak menyebalkan.
__ADS_1
Aku sengaja memilih datang awal untuk kali ini. Tujuannya tidak lain adalah agar dapat memilih tempat duduk sesuka hati. Rencananya aku akan duduk sebangku dengan Nindi, sahabatku sejak kelas tujuh. Dulu sudah ada kesepakatan antara aku dengan Nindi untuk memilih bangku ketiga dari depan, dan sekarang aku mendapatkannya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Aku mendongak sekilas menoleh ke arah pemilik suara.
"Alwi," gumamku pelan. Dulu aku dengan Alwi sempat satu TK, tapi sepertinya dia tidak mengenaliku.
"Eh, kamu pindahan dari kelas reguler?" tanyaku basa-basi.
"Iya. Kamu juga?"
"Nggak, aku dari kelas tujuh di sini," jawabku.
"Di sini bebas pilih bangku, kan?" Alwi tampak bergegas menuju bangku paling belakang.
"Iya, sih. Tapi biasanya untuk cowok selalu disuruh di deretan paling depan," terangku.
Aku tersenyum ketika menangkap ekspresi kekecewaan Alwi. Tasnya yang semula di atas meja diambil lagi, dia beranjak menuju meja deretan depan.
"Alwi, kamu ingat aku?" tanyaku pelan.
"Devi, kan? Dulu sekolah di SD 02?"
"Iya, aku Devi. Dulu kita satu TK."
"Aku nggak ingat kalau itu. Aku waktu TK sukanya main-main aja, kok." Alwi tersenyum malu.
"Tapi justru aku baru tahu kalau kamu juga sekolah di sini, kelas unggulan lagi," ucap Alwi lagi.
"Iya, nih, Al. Nggak tahu juga kenapa bisa masuk di kelas ini, aku aja heran."
"Bisa-bisanya. Udah, ya, Dev, aku mau ke kantin dulu. Tadi belum sarapan, atau mau sekalian ikut? Aku traktir, deh."
"Nggak, makasih, Al. Kamu duluan aja."
"Oh, oke!"
Hari ini belum pelajaran efektif. Hanya perkenalan beberapa guru baru sekaligus pembuatan struktur kelas. Kesan pertama untuk teman-teman baru yang merupakan siswa pindahan dari kelas reguler cukup baik. Bahkan entah mengapa aku suka memerhatikan Alwi yang berada di barisan depanku. Sejauh ini, dia tampak pendiam dan tidak segaduh teman-teman laki-laki lainnya.
__ADS_1