Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Daftar di Pesantren


__ADS_3

"Nanti Senin barengan aja, ya, Nin?" ajak Alwi setelah mie ayamnya habis. Dia beralih menyeruput es tehnya yang tinggal setengah.


"Boleh. Hari Senin nanti bukannya masih ada pelajaran kita?"


"Ada izin khusus bagi yang mau ikut tes. Jadi tenang aja. Devi gimana?"


Aku masih tenang mengunyah makananku. Nindi dan Alwi pun tampak menunggu jawaban atas pertanyaan tadi. Baik, jangan langsung dijawab agar terkesan misterius.


"Eh, malah ngang-ngong ngang-ngong," celetuk Alwi saat aku dengan santainya menambah suapan mie ayam ke mulutku.


"Bentar," elakku.


"Em, maksud kamu gimana, Al? Gimana apanya?" tanyaku pura-pura memperjelas pertanyaannya tadi.


"Kamu kan nggak berani bawa motor di jalan raya, nanti berangkatnya gimana?" Kali ini ganti Nindi yang menjelaskan.


"Diantar Mas Ovi."


"Eh, kenapa harus Mas Ovi?" Alwi sepertinya merasa heran.


"Mas Ovi siapa?" Nindi yang tidak tahu Mas Ovi sepertinya bingung.


"Tetanggaku."


"Maksudnya gimana, Dev? Kan, kamu bisa nebeng Firman atau yang lainnya," timpal Alwi.


"Ya, nanti Mas Ovi yang ngantar pakai mobil. Bapak sekalian ikut sama Rehan."


"Kenapa harus sama Pak Basir? Kamu bisa juga sama yang--"


"Aku nggak ke SMA 1," ucapku memotong perkataan Alwi.


"Hah? Kamu gak becanda, Dev?" tanya Nindi yang tidak yakin.


"Iya, aku nggak becanda. Aku mau melanjutkan ke pesantren."


"Lho, itu jadi? Aku cuma rencana," sergah Alwi yang ternyata ingat dengan ucapanku waktu itu.


"Aku ikut saran dari Bapak, Al, Nin. Doakan aku, ya!"


"Kita bakal merasa kehilangan banget, dong. Kirain bakal bisa satu SMA," ucap Nindi begitu kecewa.

__ADS_1


"Kita kan nggak harus satu sekolah. Kalau ada waktu pasti kita bisa sama-sama kumpul lagi, kan? Tenang aja, aku juga ada waktu libur kali meskipun di pesantren. Janji nanti main bareng kalian, deh." Aku berusaha menghibur sahabatku tersebut, juga berusaha menghibur diriku.


"Ya udah, kalau itu pilihan kamu, semoga diperlancar segala urusan. Aku selalu dukung kamu, Dev!" Alwi menepuk bahuku kemudian mengangkat kepalan tangannya memberiku semangat.


"Bakalan sedih banget aku. Jauh dari orang-orang yang aku sayang."


"Aduh, aduh, sini peluk." Nindi menghampiriku dan kami berpelukan.


"Mau ikutan juga, boleh?" lirih Alwi dengan senyum nakal, dia sedang bercanda.


"Mau ditimpuk pakai kaleng krupuk?" tanya Nindi yang langsung melirik tajam ke arah kekasihnya itu.


"Becanda, Nindi sayang." Aku tertawa.


***


Beberapa hari kemudian


Semenjak dua hari yang lalu Bapak tampak sibuk daripada aku. Segala berkas sebagai syarat pendaftaran masuk pesantren justru dipersiapkan oleh beliau. Bapak terlalu bersemangat, menyambut antusias niat mulia anaknya yang beberapa bulan lagi tidak akan tinggal lagi di rumah karena harus bermukim di pesantren.


"Nduk, siap-siap pakai baju rapi sama berjilbab," ucap Bapak ketika aku asyik menonton acara Minggu pagi.


"Foto. Kamu belum foto, bisa nggak hasil fotonya langsung jadi?"


"Bisa kayaknya, Pak."


"Ya udah, segera siap-siap, ya."


"Rehan ikut juga, Pak?"


"Dia lagi main, pasti nggak tahu juga kalau kita pergi. Nggak papa ditinggal."


"Ya udah, deh."


Waktu semakin berlanjut. Sore hari pun setelah mengurus ayam-ayamnya, Bapak kembali berkutik dengan beberapa lembar dalam map kertas berwarna merah yang sedari kemarin di atas meja. Aku bahkan tidak tahu apa saja isinya, Bapak terlihat sangat sibuk.


"Lagi apa, Pak?" Kuhampiri Bapak yang tampak fokus membaca tiap lembarnya. Rabun dekat yang ia derita membuat penglihatannya harus ditolong dengan kacamata.


"Baca ini, Nduk. Takut kalau ada persyaratan yang kelewat."


"Emang syaratnya apa aja, Pak?"

__ADS_1


"Fotokopi beberapa surat tentang data pribadi sama foto ukuran 3×4, tapi ini udah lengkap semua, kok."


"Bapak semua yang nyiapin, hehehe." Aku menyengir karena sungkan.


"Nggak papa, Nduk. Bapak tahu kabar kamu mau ke pesantren aja sudah bahagia banget. Semoga betah di sana, ya, Nduk."


"Aamiin, doakan Devi biar bisa terus buat Bapak sama Rehan bangga, ya."


"Iya, Nduk."


***


Senin pagi yang dinanti akhirnya tiba. Pukul enam, aku, Bapak, dan Rehan sudah bersiap di ruang tamu. Bahkan dari jam setengah tiga Bapak sudah mulai menyalakan tungku di dapur dan melakukan persiapan untuk pergi daftar ke pesantren. Semua pekerjaan sudah beres, tinggal menunggu mobil Mas Ovi.


Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Rehan langsung menyusul untuk memastikan siapa yang datang. Sebenarnya tanpa kepo pun sudah tahu siapa yang akan datang, pasti Mas Ovi.


"Pak, Mbak Devi, Mas Ovi sudah datang!" seru Rehan.


"Iya, Le. Biar Mas Ovi ke sini dulu, barangkali mau ngopi," ucap Bapak di ambang pintu.


"Oh, ya udah. Mas Ovi, ayo masuk dulu kita bikin kopi!" ajak Rehan.


Setelah menerima tawaran untuk dibuatkan kopi, Mas Ovi masuk rumah. Mau tidak mau, aku juga yang akhirnya repot. Mas Ovi mulai menyeruput dan menghabiskannya dalam waktu yang singkat.


Agar waktu tidak semakin terulur, Mas Ovi langsung menata beberapa perlengkapan yang akan dibawa ke pesantren. Setelah itu dia membukakan pintu di samping kemudi untukku, so sweet sekali, seperti tuan putri saja. Untung saja Mas Ovi membawa mobil lain, kukira menggunakan mobil bak terbuka seperti biasanya.


"Pak Basir sama Rehan di tengah aja, ya. Bismillah kita berangkat."


Dua jam perjalanan sudah tertempuh. Akhirnya tiba juga di pesantren dengan warna dominan hijau untuk setiap gedungnya. Masih cukup sepi, mungkin belum banyak yang tahu jika sekarang hari pertama untuk pendaftaran.


Mas Ovi lantas mengikuti petunjuk dari tukang parkir untuk menaruh mobilnya di halaman belakang. Rehan tampak tertidur pulas dengan tubuh bersandar ke Bapak.


"Re, kita sudah sampai, lho!" ucapku pada Rehan, adikku itu tampak mengerjap.


Aku keluar dari mobil dan memperhatikan gedung yang saat ini mengepung tempat parkir. Semua gedung berwarna hijau dengan rata-rata berlantai empat, namun ada juga yang berlantai tiga atau lima.


Kulihat beberapa santriwati tampak hilir mudik, sepertinya sekarang adalah waktu istirahat. Ada juga yang langsung menuju kantin dan pulang dengan membawa makanan ringan seperti cilok dan donat. Mereka sepertinya kelaparan, bahkan mereka rela berdesak-desakan di kantin demi memperoleh makanan untuk mengganjal perut. Aku tidak bisa membayangkan kondisiku nantinya.


Bapak baru saja berbincang-bincang dengan Mas Ovi. Sesaat kemudian Bapak mengajakku untuk segera ke tempat untuk daftar ulang. Beberapa kali berpapasan dengan santriwati yang hampir semuanya bersikap ramah, namun aku tidak berani menyapanya kembali. Rasanya minder, yang lain memakai rok sopan dan berjilbab, sementara aku pakai celana kulot meskipun dengan kondisi yang juga berjilbab.


Padahal baru juga pendaftaran, tapi ternyata hatiku begitu berat. Bagaimana nanti ketika Bapak dan Rehan mengantarkannya? Aku harus kuat. Semoga hatiku bisa berdamai seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


__ADS_2