
Tak terasa sudah seminggu berlalu dan ujian tengah semester berjalan dengan lancar. Hari ini hanya ada satu mata pelajaran yang diujikan dan pukul sepuluh pagi sudah waktunya pulang. Jangan tanya bagaimana perasaan aku dan teman-teman sekelas, sudah pasti sangat bahagia.
Sebagian besar teman memilih langsung pulang, namun ada juga yang masih di kelas sekadar untuk mengobrol bersama. Aku rencananya juga mau langsung pulang, lumayan bisa untuk istirahat. Ternyata aku sangat merindukan tidur siang.
"Kalian mau kemana?" tanyaku begitu Alwi menghampiri Nindi. Sepertinya mereka ada rencana pergi ke suatu tempat.
"Nggak ada, sih. Kita cuma mau bareng jalan ke parkirannya. Aku bawa motor sendiri," jelas Nindi.
"Tapi kayaknya seru kalau kita ke warung bakso sebentar," ucap Alwi mengutarakan idenya.
"Seru, sih. Tapi aku lagi nggak bawa uang," jawab Nindi.
"Tenang aja kalau masalah itu, aku bayar. Kamu ikut juga, ya, Dev!" Alwi juga mengajakku.
"Eh, nggak usah repot-repot, Al. Aku mau langsung pulang, kok. Lagian nggak enak juga jadi obat nyamuk." Aku tertawa seraya menyenggol bahu Nindi.
"Bentar." Alwi kembali ke bangkunya dan menghampiri Firman. Sepertinya dia tengah membujuk Firman untuk ikut juga.
"Gimana? Oke?" Firman hanya mengacungkan ibu jarinya, setelah itu Alwi datang lagi kepadaku dan Nindi.
"Kita berempat, aku, Nindi, Devi, sama Firman."
"Ya udah, deh. Tadinya aku mau langsung pulang, lho!"
"Pulang nanti habis dari makan bakso. Ya udah, sekarang aja, yuk!"
Kami berempat langsung bergegas untuk mengambil sepeda motor di tempat parkir. Alwi memberi tahu nama warung yang hendak dikunjungi. Kamu berempat mengendarai motor sendiri-sendiri.
"Nanti jangan kencang-kencang, ya. Aku nggak bisa ngejar soalnya," ucapku saat bersiap untuk berangkat.
"Kamu di depan kalau gitu," ucap Alwi.
"Aku belum tahu warungnya."
"Ya udah, aku yang di depan kalau gitu," ucap Firman.
Perlahan aku mengikuti kemana Firman berjalan. Mungkin menurutnya kecepatan motornya sudah begitu pelan. Akan tetapi, menurutku itu sangat kencang. Aku berusaha menyesuaikan, kutambah kecepatan motor dari biasanya.
Firman menyalakan lampu sein dan sesaat kemudian dia membelokkan motornya. Aku merasa sedikit lega. Untung saja sudah sampai, mungkin jika masih jauh bisa-bisa aku ketakutan ditambah masuk angin.
"Kenapa cepat banget, sih, Man?" protesku begitu turun dari motor.
"Itu pelan banget, lho, Dev. Kamunya aja yang lelet kalau naik motor." Kesal juga, diprotes malah ngatain.
Tak berselang lama Nindi dan Alwi datang. Meraka menghampiriku dan Firman yang duduk di bangku panjang yang tersedia di dekat tempat parkir.
"Katanya takut kencang, Dev," ucap Alwi.
__ADS_1
"Iya, aku ngikutin si Firman, nih. Disuruh pelan malah ngebut."
"Aku aja heran, katanya minta pelan, kok, malah ninggalin kita," imbuh Nindi.
"Tuh, Man, bukan cuma aku yang bilang terlalu cepat. Dikasih tahu malah ngatain." Firman tertawa kemudian meminta maaf kepadaku.
"Langsung masuk aja, yuk. Kalian mau bakso atau mie ayam?" tawar Alwi kepada aku, Nindi, dan Firman.
Karena Alwi memilih bakso, kami bertiga menyesuaikan saja. Sengaja minta diseragamkan agar tidak susah-susah ketika memesan. Toh, yang dimakan nantinya adalah hasil traktiran Alwi.
Alwi mendatangi penjual untuk memesan. Nindi mengajakku dan Firman untuk segera masuk ke warung. Tempat yang tersedia berupa lesehan, menurutku itu sangat baik.
Alwi menimbrung dan duduk di samping Firman. Sembari menunggu pesanan, kami berbincang-bincang. Alwi yang memulai, dia menjadikan Risa sebagai topik pembicaraan.
"Risa itu agak ngeselin, sih. Baru juga SMP tapi penampilannya udah kayak tante-tante." Firman menggeleng, dia mungkin sudah mengetahui sisi buruk Risa.
"Tahu dari mana, Man?" tanyaku memancingnya.
"Dia itu dulu deketin Mas Arga, sepupuku yang udah SMA. Nggak tahu juga dari mana Risa punya nomornya Mas Arga. Isi pesannya juga kayak cewek penggoda gitu. Nah, saat berusaha deketin Mas Arga itu, Risa sering banget lewat depan rumah Mas Arga. Mana pakai baju kurang bahan lagi. Tetangganya Mas Arga sampai risih," jelas Firman.
"Terus mereka akhirnya jadian?" tanya Alwi.
"Nggak, Mas Arga soalnya malah jijik sama Risa. Pesannya juga nggak pernah dibalas."
"Syukur, deh, kalau gitu."
"Biar seru, Nin. Lagian si Risa sukanya jadi bahan ghibah, sih." Alwi tertawa.
"Dia nggak cuma ngedeketin Mas Arga waktu itu, dia juga--" Nindi menyenggol bahu Firman, memintanya untuk menjeda pembicaraan tentang Risa karena pelayan sudah datang membawa pesanan.
"Makasih, Mas," ucap Alwi kepada pelayan tersebut.
"Asyik banget kalau ghibah, sampai lupa kalau di tempat umum," celetuk Nindi.
"Hehehe, maaf. Makan dulu aja, deh. Nanti ghibahnya disambung lagi." Firman begitu bersemangat dengan bakso di hadapannya. Ia segera mengambil sendok dan garpu yang berada di depannya.
"Giliran makan aja nomor satu," protesku.
"Makan sambil ngobrol itu nggak baik, Dev. Jadinya mending kita makan dulu aja."
Terserah apa katamu, Man. Aku juga tidak mau lama-lama mendiamkan bakso yang masih tampak berasap itu. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah mencicipi kuahnya.
"Enak, ya. Aku baru sekali ke sini," ucapku.
"Kita udah beberapa kali, ya, Nin. Ini tempat langganan kita. Selain rasanya enak, tempatnya juga nyaman," jelas Alwi.
"Nggak usah ngobrol dulu! Makan, makan!" protes Firman yang sibuk melahap baksonya.
__ADS_1
Belum habis bakso yang kumakan, aku menyeruput es jeruk terlebih dahulu. Kali ini semoga satu gelas saja cukup. Aku harus berhati-hati agar minuman itu tidak tandas dalam sekali seruputan.
"Mau nambah es lagi, Dev?" tanya Alwi.
"Eh, nggak, kok. Ini masih banyak esku." Kutunjukkan es jeruk yang hanya berkurang kira-kira seperempat bagian.
"Ya kali aja mau nambah. Nindi sama Firman juga boleh."
"Gampang itu. Nanti kalau kurang pasti aku bilang," jawab Firman.
Tak berselang lama bakso masing-masing sama-sama habis. Firman terdengar bersendawa begitu keras, seperti tetanggaku. Aku refleks tertawa.
"Itu tandanya kenyang, Dev. Malah diketawain," protes Firman.
"Sendawanya mirip Pak Karso," ucapku.
"Pak Karso siapa? Aku nggak ikut-ikutan dia, lho."
"Tetanggaku."
"Haduh, Dev. Jadi gimana? Lanjut lagi bahas Risa?" tanya Firman.
"Gas!" Alwi begitu bersemangat menguliti Risa. Sepertinya Alwi sudah sangat kesal kepada gadis itu.
"Jadi waktu itu Risa punya Facebook, dia berteman juga sama tetanggaku namanya Mas Gilang. Mas Gilang ini udah kerja, tapi emang cakep banget. Si Risa nggak bisa santai kalau lihat yang bening dikit," jelas Firman.
"Terus Mas Gilangnya juga cerita ke kamu?"
"Iya, awalnya dia cuma tanya aku sekolah di mana gitu. Dia heran sama cewek yang iseng ngirim pesan ke dia. Kata Mas Gilang, sekolahnya kayak gak asing, makanya tanya aku."
"Terus, terus?" Alwi begitu bersemangat mengetahui kelanjutan ceritanya.
"Risa ngirim foto gitu, pakai melet lagi. Aku dikasih lihat, jijik banget."
"Tapi akhirnya mereka beneran dekat?" Wah, tumben Nindi juga penasaran.
"Nggak, sama Mas Gilang langsung diblokir. Dia risih waktu itu, lagian dia udah mau menikah."
"Gila, tuh, si Risa. Bisa-bisanya deketin calon suami orang," celetuk Alwi.
"Pulang sekarang, yuk! Sebentar lagi udah mau Zuhur, nih," ajak Nindi kepada kami.
"Baru jam sebelas, Nin," protes Firman.
"Ya, persiapan salat maksudnya."
"Nanti aja, masih asyik ghibah, nih."
__ADS_1
Nindi menatapku, dia tampak heran dengan Firman. Aku pun juga heran, baru kali ini ada lelaki suka menggunjing orang. Aku dan Nindi sebenarnya tidak begitu tertarik, tapi Alwi begitu antusias mendengar cerita Firman.