Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Cemburu


__ADS_3

Aku kembali ke kelas dengan langkah lemah. Kakiku sulit sekali rasanya untuk bergerak. Pun, hatiku rasanya terlalu rapuh jika harus melihat Alwi nantinya.


Sebenarnya aku yang salah. Salah sudah tergesa-gesa membenarkan sesuatu yang belum pasti. Ini juga salah Alwi, kenapa surat cintanya harus salah alamat. Atau, minimal dia memberi nama Nindi sebagai penerimanya.


Aku sudah terbang tinggi bersama kupu-kupu sebab bunga-bunga cinta terlanjur bermekaran. Akan tetapi, dalam sekejap aku terhempas di posisi terendah bahkan terinjak-injak oleh rasa malu.


Terdengar suara riuh yang bersumber dari kelasku. Aku sendiri tidak tahu penyebabnya. Entah, pasti itu sesuatu yang luar biasa. Jarang sekali kelas unggulan bisa seramai itu.


"Ada apa, Dil?" tanyaku pada Dila yang baru keluar kelas dengan memegangi perutnya, dia tertawa.


"Itu ...." Dila tidak memberikan jawaban, dia justru menunjuk kelas.


"Apa?"


"Lihat aja sendiri." Dila berlalu begitu saja menuju arah kamar mandi. Daripada penasaran, lebih baik aku melihat sendiri apa yang sedang terjadi di kelas.


"Dari mana, Dev?" tanya Nindi begitu aku menjatuhkan tubuh di bangku sampingnya.


"Dari kamar mandi," jawabku berusaha santai, jangan sampai Nindi tahu aku baru saja menangis.


"Devi, minggir dulu, dong!" Aku bingung, Oliv menarikku ke bangkunya.


"Eh, ada apa?" tanyaku.


"Jangan ganggu orang yang lagi kasmaran," celetuk Rosyid.


"Ha? Gimana?"


"Stttt ... kamu diam di sini dulu, biar Nindi sama Alwi bicara dari hati ke hati. Kalau mereka jadian, kan, lumayan juga kita dapat PJ-nya," lirih Oliv dilanjutkan dengan tawa.


Oh, aku paham sekarang. Ternyata suara riuh tadi bersumber dari sini. Lantas, bagaimana teman-teman bisa mengetahui jika Alwi menyukai Nindi? Bukankah sewaktu salah memberikan cokelat tempo hari Alwi melakukannya secara diam-diam agar tidak ketahuan siapapun? Apakah tadi Alwi menyatakan cintanya pada Nindi?


"Tadi ada apa, sih? Kok, ramai?"


"Tadi si Alwi ngasih sesuatu gitu. Terus ada yang bilang juga kalau Alwi suka sama Nindi," jelas Oliv.


"Alwinya nembak Nindi?"


"Belum, baru masa pendekatan. Ih, gimana, sih, kamu ini? Katanya sahabatan sama Nindi, kok, malah nggak tahu?" protes Oliv kepadaku.


"Aku tadi habis dari kamar mandi."

__ADS_1


"Devi, ke sini."


Nindi melambaikan tangan ke arahku. Di sepertinya salah tingkah, mungkin antara senang dan malu. Bukankah dia sangat beruntung, seorang Alwi yang dikagumi oleh sebagian besar siswa, ternyata diam-diam menyukainya. Aku berusaha tersenyum meskipun terasa sakit. Apa aku iri kepada Nindi? Oh, jelas. Tapi, apa hakku merasa iri kepada sahabatku sendiri? Bukankah Nindi memang pantas mendapatkannya?


Beberapa kali Nindi membujikku untuk kembali ke bangku dan berbincang dengannya seperti biasa. Akan tetapi, aku memilih duduk di tempat Oliv. Tentu saja ini bukan murni kemauanku, teman-teman lain memintaku agar tidak kembali ke bangku dulu. Biar tidak menggangu Alwi dan Nindi katanya.


"Devi, ayo ke sini!"


"Nggak, ah. Nanti aku jadi obat nyamuk," candaku.


"Ayolah!"


"Nanti, kalau sudah bel masuk," jawabku asal.


Nindi tampak cemberut dan menghampiriku. Dia menarikku agar kembali ke bangku kami, tetapi Oliv menahanku. Wah, kenapa malah aku jadi bahan rebutan.


"Udahlah, Liv, aku malu," lirih Nindi memelas. Oliv dan beberapa teman lainnya tertawa, akhirnya Oliv mengabulkan permintaan Nindi.


Bel tanda masuk akhirnya berbunyi. Aku dan Nindi sudah di bangku. Dia masih tampak malu-malu. Di sisi lain, aku sudah malas untuk berbincang dengannya. Kenapa seolah aku kesal kepada Nindi?


"Alwi, penghapusmu jatuh!"


"Itu, di bawah bangku Nindi," ucap Firman.


Kulihat Nindi yang spontan menggantungkan kakinya. Ah, Firman benar-benar jahil. Sepertinya memang dia sudah merancang ini semua. Benda milik Alwi itu benar-benar berada di kaki kursi Nindi.


"Eh, ini!" Nindi memberikan penghapus hitam yang dibawanya kepada Alwi.


Suasana kelas kembali ramai dengan sorakan para siswa. Sebenarnya aku sedikit cemburu, tapi ketika melihat wajah Nindi yang tampak merona malah membuatku ingin tertawa. Dia malu-malu kucing.


"Kamu juga suka sama Alwi, kan?" bisikku pelan pada Nindi.


Nindi menatapku tajam dengan sedikit cemberut. Dia kemudian menggeleng, berusaha untuk menyangkal ucapanku. Aku tertawa, Ya Allah, sahabatku terlihat salah tingkah sekali.


Kedatangan Bu Intan seketika membuat kelas menjadi sunyi. Para siswa sudah duduk di bangku masing-masing dengan rapi. Tidak ada suara sama sekali, tatapan dari guru Bahasa Inggris itu memang terasa lebih mematikan daripada terkaman singa, begitu para siswa mengibaratkannya.


"Belum berdoa tapi gaduh sekali. Siapa ketua kelasnya?"


Tidak ada suara sedikit pun. Aku melirik ke arah Bagas yang merupakan ketua kelas. Harusnya dia berinisiatif mengangkat tangannya.


"Kenapa diam semua? Siapa ketua kelasnya?"

__ADS_1


"Sa-saya, Bu!" ucap Bagas.


"Seharusnya kamu bisa mengajak teman-temanmu mempersiapkan kelas sebelum pelajaran dimulai. Bisa-bisanya kelas segaduh itu. Ini kelas unggulan, kan?"


"I-iya, Bu."


"Ibu baru memberi peringatan kali ini, besok kalau kalian ulang lagi, ibu tidak segan-segan akan menghukum kalian. Paham?"


"Paham, Bu!"


Bu Intan yang semula berdiri, kini duduk di kursinya. Itu artinya, keadaan sudah berangsur aman. Ah, pagi ini banyak sekali kejutan yang diberikan kepadaku. Kuharap jantungku sehat, sedari tadi ia senam terus.


Bu Intan pada pertemuan kali ini menjelaskannya tentang simple present tense. Sedari tadi aku memperhatikan beliau yang menjelaskan berbagai contoh dan menuliskannya di papan tulis. Akan tetapi, kapasitas otakku yang pas-pasan rasanya ingin meledak ketika mencoba memahami penjelasan dari Bu Intan.


"Nah, ibu sudah berikan bentuk positifnya, silahkan yang mau mencoba mengerjakan bentuk negatif dan interogatif-nya. Yang bisa mengerjakan ada nilai tambahan."


Sekalipun dengan iming-iming demikian, rasanya aku tidak tertarik untuk menggerakkan badanku dan memberikan jawaban di papan. Ya, aku bukanlah siswa yang aktif di kelas. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Nindi yang rajinnya luar biasa dan selalu menjadi langganan tiga besar di kelas. Aku sendiri terkadang heran, apa yang Nindi cari dariku? Apakah dia tidak malu memiliki sahabat sepertiku?


"Kayaknya aku mau coba, Dev," lirih Nindi kepadaku.


"Ya, Nindi mau coba?"


Mungkin Bu Intan memiliki radar yang begitu kuat mendeteksi pergerakan siswanya. Buktinya, dia begitu peka ketika Ninda baru mengutarakan keinginannya. Mungkin kalau aku di posisi Nindi, sudah panik tidak karuan ketika mendengar Bu Intan mengatakan demikian. Untungnya Nindi bukanlah orang sepertiku.


"Saya mengerjakan seperti ini, Bu." Nindi tersenyum setelah menyelesaikan tugasnya.


Bu Intan tampak mengoreksi jawaban yang sudah Nindi tuliskan. Sesaat kemudian Bu Intan mengangguk-angguk kecil seraya menghadiahkan dua jempol untuk Nindi.


"Bagus, Nindi. Silahkan kembali ke bangkumu. Nilai tambahan untuk Nindi. Ada yang mau seperti Nindi?"


Nindi yang kembali menuju kursinya tampak memberikan kode kepadaku. Aku menggeleng, bukan Devi namanya jika mau mengerjakan tugas di depan kelas.


"Ayo!" Nindi mengguncang lenganku, memaksaku untuk mau ke depan.


"Nggak mau."


"Biar dapat nilai tambahan!"


"Nah, Bagas mau mengerjakan!"


Nindi tampak kecewa ketika aku tidak menerima permintaannya. Dia cemberut lagi. Aku bukan orang yang ambisius sepertimu, Nin. Kalau saja bisa, aku juga ingin sepertimu.

__ADS_1


__ADS_2