Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Satu-satunya Pilihan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Author's POV


"G*g*rkan bayi di perutmu! Aku tidak sudi memiliki cucu dari lelaki miskin seperti Deri!"


Pagi itu suasana di rumah Pak Manto begitu memanas. Lelaki yang menjadi pemimpin keluarga dan merupakan ayah dari anak tunggal bernama Nadia tersebut sudah terperangkap amarah. Dari dalam rumahnya terdengar kegaduhan. Sementara sang istri tampak memeluk putrinya dengan air mata berderai.


"Pak, istighfar! Yang Bapak minta itu perbuatan yang dibenci Allah. Itu sama dengan membunuh," ucap Bu Harti, istri Pak Manto. Nadia masih terisak dalam pelukan Bu Harti.


Kabar mengenai kehamilan Nadia sudah terdengar dan menjadi buah bibir masyarakat sekitarnya. Pasalnya, kehamilan yang dialami Nadia terjadi karena kenakalan yang dilakukan bersama kekasihnya. Ya, Nadia yang malang, dia harus hamil di saat masih berstatus sebagai siswi kelas sepuluh di salah satu SMA.


Sebelumnya memang diketahui jika Nadia berpacaran dengan Deri yang merupakan kakak kelasnya. Sebenarnya baik Pak Manto maupun Bu Harti sudah mewanti-wanti sebab dikatakan jika Deri adalah anak yang pergaulannya begitu bebas. Nyatanya watak keras dari kedua orang tuanya tak membuat Nadia sadar dan justru merasa terkekang. Akibatnya, sering kali ia berpamitan dengan alasan jika ada kerja kelompok, padahal ia gunakan kesempatan itu untuk berkencan dengan Deri.


Banyak yang menyayangkan atas kasus Nadia. Orang-orang masih tidak bisa percaya. Nadia memilik paras yang cantik dan tubuh yang ideal. Gadis itu juga dikenal sebagai sosok yang memiliki sifat pendiam dan cukup polos. Ya, mungkin karena kepolosannya itulah sang pacar bisa bertindak sesuka hati.


Pun dengan kedua orang tua Nadia, mereka tidak kalah shock begitu mengetahui kabar itu. Bu Harti sempat jatuh pingsan beberapa kali karena tidak bisa menerima berita yang ia dapatkan. Belum lagi Pak Manto merupakan tokoh terpandang di desanya, dia kecewa, dia begitu murka.


"Nadia, Bapak memberikanmu dua pilihan. Ikuti kemauan Bapak atau kamu keluar dari rumah ini!" suara Pak Manto semakin meninggi.


"Pak, sadar! Nadia ini anakmu!" Bu Harti lagi-lagi membela anak perempuannya.


"Dia itu anak yang tidak tahu diri. Mau ditaruh dimana muka Bapak! Bikin malu saja!" Setelah semua amarah yang tidak tertahankan, kini giliran air mata mulai membasahi wajah Pak Manto.


"Pak, Ibu tahu kalau Bapak malu, Bapak kecewa. Perbuatan yang sudah dilakukan Nadia juga tidak bisa dibenarkan. Tapi sampai kapan pun Ibu tidak akan setuju dengan rencana Bapak. Menghilangkan nyawa calon bayi di perut Nadi juga tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah dosa, Pak." Bu Harti mencoba memberikan penjelasan kepada suaminya. Pak Manto bergeming, mencerna kata-kata yang dilontarkan oleh sang istri.


"Bu, Bapak sudah gagal sebagai kepala keluarga. Maafkan Bapak!" Berbeda dengan sebelumnya, kini Pak Mantu bertutur dengan nada yang begitu lemah. Ia duduk di kursi yang berada di jangkauannya dengan kondisi terisak.


"Pak, Nadia minta maaf. Ini semua salah Nadia." Pak Manto mencegah Nadia yang hendak berlutut di hadapannya.

__ADS_1


"Hati Bapak sudah hancur, Nak. Tapi Bapak akan berusaha untuk memaafkanmu. Maaf Bapak sudah tersulut emosi, Bapak khilaf." Pak Manto merengkuh tubuh Nadia beberapa saat.


Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Begitu juga bagi seorang ayah, anak perempuan laksana sekuntum bunga yang harus ia rawat. Adakalanya bunga itu akan dihinggapi oleh sang kupu-kupu. Akan tetapi, hal itu harus terjadi di waktu yang tepat.


Author's POV end


***


Sore hari sekitar pukul tiga, aku baru pulang sekolah dan tiba di rumah. Di semester genap, memang ada bimbingan belajar untuk kelas sembilan sebagai persiapan menghadapi Ujian Nasional. Rasa senang dan sedih memang terkadang berkecamuk, senang karena setelah ini masuk ke bangku SMA, sementara sedih karena harus berpisah dengan teman-teman.


Mobil bak terbuka milik Mas Ovi sudah terparkir di halaman. Mas Ovi memang sering bertandang ke rumah, sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu. Jangan berpikir dia hanya modus berkedok bisnis dengan Bapak. Aku yakin kedatangannya murni untuk membahas hewan ternak dan teman-temannya.


"Nduk, itu kamu?" tanya Bapak begitu mendengar suara pintu yang kubuka.


"Nggeh, Pak. Ini Devi, ada apa?"


"Iya, Pak. Nanti Devi nyusul."


Selepas berganti pakaian, aku bergegas menuju ruang tamu. Mas Ovi yang tampak baru menyesap kopinya kemudian tersenyum begitu menyadari kehadiranku. Dia menyapaku untuk sesaat kemudian memintaku untuk duduk bergabung.


"Pulangnya sekarang sore terus, Dev?" tanya Mas Ovi.


"Iya. Ada apa, Mas?"


"Serius itu emang dari sekolah pulang jam segitu atau kamu memang main?" tanya Mas Ovi lagi seolah menyelidiki.


"Iya. Aku ada bimbingan untuk beberapa pelajaran Ujian Nasional. Masa iya aku main sampai sore." Aku tertawa, curiga sekali denganku.


"Ya takut aja, Dev. Kamu tahu kasus yang lagi jadi omongan desa sini kan?" Aku mengambil satu biskuit yang disajikan di meja. Mungkin terlihat kurang sopan, aku melakukan hal tersebut juga tidak kepada sembarang tamu. Kalau tamunya Mas Ovi tidak masalah.

__ADS_1


"Apaan?" tanyaku menatap Bapak dan Mas Ovi bergantian.


"Oh, Nadia?" tebakku karena memang berita tentang gadis itu yang kini tengah ramai diperbincangkan.


"Iya, Nduk," jawab Bapak.


"Aku dengar dari orang-orang, sih. Kasihan Nadia, padahal dia itu baik banget sama aku pas SD dulu," ucapku.


"Kamu tahu, kan, Dev? Anak perempuan saat ini berada dalam bahaya. Jangankan anak yang tidak memiliki orang tua, seorang Nadia yang notabene berasal dari keluarga terpandang dan selalu mendapat perhatian bapak ibunya saja bisa mengalami kejadian miris seperti itu," jelas Mas Ovi. Ya, mungkin Bapak juga khawatir dengan keadaanku.


"Oh, jadi Mas Ovi mikir, mentang-mentang Devi nggak punya Ibu terus Devi pergaulannya bebas?" tanyaku berusaha menebak isi pikiran Mas Ovi.


"Bukan begitu, Dev. Ya, bisa dibilang begitu, sih. Aku khawatir kamu terpengaruh dengan kondisi luar. Kamu polos soalnya."


"Nduk, sebenarnya itu juga alasan Bapak meminta kamu untuk di pesantren. Bapak merasa belum mampu untuk mendidik kamu. Setidaknya kalau di pesantren kamu bisa dibatasi dari hubungan dengan lawan jenis. Ya, sebenarnya semua itu tergantung pada pribadi masing-masing. Tapi, Bapak masih tidak rela misalkan kamu melanjutkan di sekolah umum," terang Bapak panjang lebar.


"Mau, ya, Dev. Nanti kalau kamu mau, sebelum mondok aku ajak jalan-jalan, deh. Sekeluarga, sama Pak Basir dan Rehan juga," ucap Mas Ovi berusaha membujukku, memangnya aku anak kecil?


"Eh, kenapa Mas Ovi malah yang repot-repot, sih? Iya, Devi mau, kok, lanjutin di pesantren." Aku sudah ikhlas? Belum! Tapi Bapak menjadi alasanku. Melanjutkan ke pesantren adalah satu-satunya pilihan.


"Aku itu bantu Pak Basir. Kirain bakal susah bujuk kamu, ternyata nurut juga. Oke, berarti minggu depan daftar ke sana, ya!"


"Ke sana? Di pondok yang sama kayak Mbak Eva?"


"Iya, minggu depan sudah mulai pendaftaran sekalian ambil kain seragam. Nanti aku antar, biar Pak Basir sama Rehan sekalian ikut."


"Kenapa cepat sekali? Aku belum siap-siap, lho."


"Masih ada waktu satu minggu, cukup untuk mempersiapkan semuanya."

__ADS_1


__ADS_2