
"Ibu pulang?"
Ibu tersenyum untuk sesaat seraya mengelus puncak kepalaku. Mendadak aku cemberut dibuatnya. Kapan aku seperti teman-temanku, selalu dijaga dan diawasi oleh ibunya dari luar kelas. Sedari awal masuk TK, terhitung baru tiga kali Ibu menemaniku sekolah. Selebihnya, Ibu selalu pulang dan akan menjemput di waktu pembelajaran selesai.
"Salim dulu, Nduk." Ibu mengulurkan tangan kanannya. Semarah-marahnya aku dengan Ibu, tetap saja kuikuti perintahnya.
"Jangan cemberut, Nduk! Ibu nanti ke sini lagi, kok. Kamu tahu sendiri Ibu masih repot di rumah," ucap Ibu berusaha menghiburku.
"Iya, Bu."
"Ibu pulang, ya? Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Sebenarnya aku benci bersekolah. Di tempat ini aku tidak bisa bermain dengan nyaman. Kurasa lebih baik jika di rumah saja bersama Rehan. Ah, lagi-lagi Ibu memaksaku. Katanya aku harus sekolah biar pintar.
"Devi, ayo masuk ke kelas, Nak!"
Ibu Reni, salah satu guru di TK ini yang paling kusukai. Dia tidak galak dan selalu berusaha mengajakku agar mau bermain dengan teman yang lainnya.
"Selamat pagi semuanya," ucap Bu Reni begitu lantang di depan kelas.
Aku sudah duduk rapi di bangkuku. TK ini memiliki model meja yang berbentuk bulat di mana setiap meja berisi sekitar 4-5 siswa yang duduk melingkarinya. Aku duduk satu kelompok dengan empat teman. Ada Luna, Ayuni, Heru, dan Alwi. Aku tahu dan sudah hafal dengan nama masing-masing. Akan tetapi, untuk bersosialisasi dengan mereka, aku masih belum berani.
"Seperti biasa, hari Sabtu waktunya kita berolahraga dan setelah itu kita bersama-sama memakan bekal kita. Semuanya membawa bekal hari ini?" tanya Ibu Reni lagi.
"Bawa, Bu!" jawab para siswa serempak.
"Baik. Sekarang kita ke lapangan dulu untuk melakukan olahraga senam. Mana semangatmu?"
"Ini semangatku!"
"Mana semangatmu?"
"Ini semangatku!"
Ibu Reni selalu mengawali pembelajaran dengan bersemangat, aku menyukainya. Mungkin begitu juga dengan perasaan siswa lainnya. Kondisi kelas selalu ramai di tangan Ibu Reni. Dia mengajarkan untuk bertepuk tangan dan bernyanyi.
"Kalian anak-anak pintar. Sekarang, silahkan keluar kelas dengan tertib dan baris untuk senam ceria!"
****
Senam telah selesai dan para siswa dipersilahkan untuk memasuki kelas. Ibu Reni menyuruh untuk duduk di kursi masing-masing dengan kondisi kaki lurus. Katanya, setelah olahraga tidak baik jika kaki dilipat, dapat menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, para siswa meluruskan kaki.
"Ibu tunggu di luar, ya?"
"Nggak mau." Alwi menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik kuat ujung pakaian milik ibunya. Ah, dia anak laki-laki yang cengeng. Sering sekali dia manja seperti ini.
__ADS_1
"Tuh, teman-teman aja nggak minta ditunggu ibunya, lho."
"Ibu di sini aja," lirih Alwi.
"Ibu kamu di mana, Nduk?" Aku mendongak, merasa ibu Alwi tengah berbicara denganku.
"Ibu kamu mana?" tanya ibu Alwi sekali lagi dengan arah pandangan kepadaku.
"Ibu di rumah, di rumah repot," jawabku.
"Oh, hebat Mbak Devi. Dia malah nggak minta ditunggu ibunya. Masa Alwi nggak malu?" Alwi lagi-lagi menggeleng menanggapi ibunya.
"Bu Reni, saya izin di sini, ya. Alwi nggak mau ditinggal," ucap ibu Alwi ketika Ibu Reni datang.
"Oh, iya, boleh, Bu."
"Sekarang waktunya kita makan bekal, ya. Silahkan bekalnya dikeluarkan!" ucap Ibu Reni memerintahkan para siswa.
Aku mengeluarkan kotak nasi yang sudah disiapkan Ibu. Menunya tidak jauh berbeda dengan minggu lalu; nasi, mie goreng, telur dadar, dan kering tempe. Sering sekali aku mengintip bekal temanku yang membawa makanan dengan lauk ayam atau daging. Sepertinya tampak lezat sekali.
"Sebelum makan, kita harus mencuci tangan dulu. Tadi setelah senam, Ibu sudah menyuruh kalian cuci tangan, kan?"
"Sudah, Bu!"
"Selanjutnya, apa lagi yang kita lakukan sebelum makan? Siapa yang bisa jawab?" tanya Ibu Reni.
"Betul. Beri tepuk tangan untuk Mbak Sasa." Sesaat setelah Ibu Reni memerintah, riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Sasa hebat! Aku juga ingin seperti dia.
"Mari bersama-sama membaca doa!"
Bersama-sama semua siswa membaca doa sebelum makan. Setelah Ibu Reni memberi aba-aba mulai diperbolehkan untuk makan, para siswa kemampuan melahap makanan masing-masing. Aku mengintip makanan Alwi yang berada di sebelahku. Di wadahnya, hanya ada mie goreng porsi besar, ayam goreng, dan beberapa potong sayuran. Terlihat lezat sekali, dan aneh saja menurutku kenapa ibunya tidak seperti ibuku yang tetap menyertakan nasi ketika berlauk mie goreng. Kata Ibu, sebanyak apapun yang dimakan, jika tanpa nasi belum dikatakan sebagai makan.
"Aduh!" teriakku mendapati bekalku jatuh di lantai. Ah, ini pasti gara-gara aku sibuk memperhatikan makanan Alwi.
"Ada apa, Nak?" Ibu Reni menghampiriku, aku menunjuk makanan yang sudah berada di bawah. Ia kemudian membantuku membersihkan nasi yang sudah jatuh lantai.
"Lain kali lebih berhati-hati, ya, Devi. Nggak papa, ya? Ibu ada kue, Devi makan kue aja, ya?" tanya Ibu Reni berusaha menghiburku. Ia menuju bangkunya untuk mengambil sebuah wadah berisi kue.
"Ini untuk Devi, dimakan, ya?"
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama." Ibu Reni kembali lagi ke mejanya. Semua siswa yang awalnya melihat ke arahku kini kembali fokus pada makanan masing-masing.
"Jangan, Bu." Kuperhatikan Alwi merengek pada ibunya.
"Nggak papa, ini masih banyak. Ini buat Devi." Kotak bekalku kembali terisi dengan mie dan ayam goreng. Ternyata ibu Alwi mengisinya untukku.
__ADS_1
"Eh, ayo dimakan!" ucap ibu Alwi ketika melihatku masih bengong.
"Terima kasih, Bu."
"Ini buat kamu juga." Alwi baru saja membuka makanan ringan, dia mendapatkan hadiah penjepit rambut yang kemudian diberikan kepadaku.
"Lho, dikasih jajannya, Mas. Jangan cuma hadiahnya," ucap ibu Alwi.
"Nggak mau!" Alwi menyembunyikan jajannya di dalam tas.
"Terima kasih, Alwi," ucapku menerima jepit rambut darinya.
"Iya, tapi aku nggak mau ngasih jajan ke kamu!" tegasnya, sesaat kemudian sang ibu mencubit pipinya karena geram.
****
"Ih, cantiknya!"
"Eh, apaan, sih. Kamu di situ dari tadi, Re?" tanyaku yang sebenarnya sedikit malu sebab beberapa kali berpose sok imut di depan cermin.
"Aku dari tadi di belakang Mbak, lho."
"Masa?"
"Iya. Mbak lagi ngapain? Terus itu tumben pakai jepit rambut."
"Iseng aja. Ini dari aku TK, lho!"
"Oh ya?"
"Dikasih temanku."
"Siapa, Mbak?"
"Alwi."
"Siapa yang tanya?" Rehan meledekku. Dia berlari sebab tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sedikit kesal, tapi malas untuk mengejarnya.
"Ada apa kok lari-lari?" Terdengar suara Bapak yang sedang bertanya pada Rehan.
"Dikejar Mbak Devi."
"Ih, bohong, Pak! Devi, lho, diam aja!" teriakku.
"Devi, perempuan nggak baik teriak-teriak!" Bapak menasihatiku.
"Sukurin!" ucap Rehan puas!
__ADS_1
Ah, malah aku yang kena.