Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Yang Terjadi Selanjutnya?


__ADS_3

"Untuk pelajaran hari ini kita sudahi dulu. Tugasnya ada di halaman 56. Maaf harus Ibu tinggal karena ada urusan mendadak. Silahkan gunakan waktu yang tersisa untuk persiapan BBI."


Kuperhatikan jam dinding, waktu selesai untuk pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya masih 20 menit lagi. Ya, ini adalah momen yang paling kusuka, disambut ramah oleh perut yang sedari tadi sudah kelaparan. Mungkin saat ini Allah sayang padaku, mendengar doaku yang sedari tadi merintih karena tidak sempat makan ketika istirahat tadi.


"Buruan makan, nanti tiba-tiba udah ada gurunya panik lagi," celetuk Nindi yang mungkin bosan karena aku terus mengeluh kelaparan padanya saat pelajaran tadi.


Baik, sekarang sudah sepi karena guru sudah keluar kelas. Aku segera mengeluarkan kotak bekal yang sudah dipersiapkan di waktu pagi-pagi buta. Nasi bersama tumis daun singkong plus tempe goreng terlihat begitu lezat. Ya, pernah kudengar, lauk yang paling enak adalah ketika kita lapar.


"Lahap banget, Dev. Lapar apa doyan?" Alwi yang baru datang langsung berkomentar. Aku hanya melirik sinis ke arahnya. Apa lagi yang akan ia lakukan selain apel kepada gadisnya?


"Dia itu kelaparan, Al. Kejar waktu juga, takut tiba-tiba masuk lagi," ucap Nindi.


"Benar, tuh, yang dibilang Nindi," imbuhku seraya memasukkan kotak bekal yang sudah kosong.


Tak butuh waktu lama, makanan tadi tandas habis olehku. Hahaha, rasanya seolah tidak mengunyah makanan. Eh, tapi memang tadi sengaja membawa nasi dengan porsi sedikit. Untung saja dapat mengganjal perutku.


"Astaga, itu makanan dikunyah apa digiling? Cepat banget habisnya?" Nindi saja sampai heran.


"Aku udah terlanjur lapar. Makanannya kayak berasa masuk gitu aja dan langsung bersarang nyaman di perutku. Jangan nakal lagi, ya, cacing!" Aku berbicara layaknya ibu hamil seraya menatap dan mengelus perut. Aku tertawa melihat ekspresi kedua temanku yang sedang terheran-heran.


"Dasar aneh!" cela Alwi.


"Emang, baru sadar? Mau ngapain ke sini? Dilarang pacaran di sini atau kalian traktir aku mie ayam!" ancamku kepada keduanya.


"Eh, jadi tukang malak sekarang, ya," sergah Nindi.


"Ya, iya, nanti pulang sekolah aku beliin. Ini, jadinya mau gimana? Hari Senin ada try out dari SMA 1. Hasil dari tesnya nanti juga digunakan buat pertimbangan bisa masuk ke sana atau nggak," jelas Alwi seraya menunjukan lembaran berisi formulir.


"Lho, kok, aku nggak tahu?" protes Nindi.


"Tadi kalian masih di perpustakaan waktu aku ngasih pengumuman ini. Teman-teman udah tahu, tinggal kalian aja."


"Oh, gitu. Terus gimana?" tanyaku.


"Nanti isi dulu formulirnya. Terakhir hari Jumat dikumpulkan ke ruang BK. Hari Seninnya kita dapat izin pergi ikut tesnya. Kalian isi, ya!" Alwi memberikan masing-masing satu lembar kepadaku dan Nindi.

__ADS_1


Nindi yang memang memiliki keinginan dan juga mendapat dukungan dari orang tua begitu bersemangat mengisi formulir tersebut. Andai saja keinginanku bisa terwujud, mungkin akan kulakukan hal yang sama dengan Nindi. Setelah membaca sekilas tulisan di kertas tersebut, kuletakkan kembali benda tipis berbentuk persegi panjang itu ke atas meja.


"Lho, kenapa nggak diisi, Dev?" tanya Alwi.


"Nanti, paling bentar lagi udah masuk," jawabku pada Alwi.


"Oh, oke deh."


Tak berselang lama kegiatan Bimbingan Belajar Intensif (BBI) dimulai. Jadwal hari ini adalah IPA, Pak Sigit sudah datang dan kelas menjadi hening. Penyampaian materi untuk IPA sudah selesai dan hanya tinggal pembahasan soal-soal Ujian Nasional tahun sebelumnya.


"Sekarang tanggal 16, nomor absen yang sesuai tanggal hari ini silahkan baca soal dan sekaligus dijawab," ucap Pak Sigit membuat kelas yang semula tepi hingga terdengar kasak-kusuk.


Beberapa saat kemudian belum juga ada yang menanggapi ucapan Pak Sigit. Seisi kelas saling tatap, tidak tahu sosok yang memiliki nomor absen tersebut. Aku juga tidak merasa jika itu aku, seingatku aku nomor absen 13.


"Siapa? Kalian tidak ingat nomor absen sendiri?" tanya Pak Sigit.


"Tidak, Pak!"


"Astaghfirullah, kenapa diam saja. Absen 16, Febriana Intan." Pak Sigit meneliti para siswa setelah memeriksa buku daftar hadir.


"Aduh. Ya sudah, sukarela saja. Jangan mengulur waktu!"


"Saya, Pak!" Wih, Alwi tumben rajin.


Refleks aku menepuk bahu Nindi. Dia pasti bangga, ternyata pacarnya itu berguna juga, dia penyelamat. Nindi tidak menggubrisku, dia malah menyuruhku untuk diam dan menyimak Alwi yang sedang membaca.


Kelas menjadi semakin hidup sebab Pak Sigit meminta siswa lain untuk menanggapi jawaban Alwi. Sampai selanjutnya, kegiatan pembelajaran dilakukan dengan model seperti itu. Waktu terus berjalan, akhirnya jam yang dinanti telah tiba. Setelah bersama-sama berdoa dan Pak Sigit mengucap salam, para siswa diperkenankan untuk pulang.


"Jadi mie ayamnya?" Alwi langsung menghampiriku, dia masih ingat ternyata.


"Terserah, sih. Kalau nggak mau nggak papa, mau langsung pulang aja aku. Tapi, kalau nggak keberatan, ya, mau-mau aja, sih akunya." Kugendong tas ransel dan bersiap untuk keluar kelas.


"Di warung yang kemarin gimana? Yang sama Firman itu?" tawar Alwi kepadaku.


"Nah, ide bagus, tuh. Cocok, tuh, kalau di sana! Sekalian kita ngobrol-ngobrol," timpal Nindi yang setuju pada Alwi.

__ADS_1


"Gimana, ya?" ucapku menimbang-nimbang.


"Gas aja! Aku traktir!" seru Alwi yang sebenarnya berarti memaksaku.


"Iya, deh, iya!"


***


"Buka mulut! aaa!"


Aku cemberut, membuang pandang ke arah jalan yang menampilkan beberapa pengendara yang melintas. Malas, sudah tahu begini endingnya masih saja aku mau menerima ajakan Alwi dan Nindi. Bukan hanya aku, bahkan beberapa pembeli lain juga tampak berlalu dengan tatapan heran kepada sepasang kekasih itu.


"Mau juga, Dev?" tanya Alwi menyodorkan sate usus yang merupakan sisa suapan Nindi tadi.


"Nggak, makasih! Kasih ke Nindi aja, aku kalau mau juga bisa ambil sendiri, tau!"


"Ya nggak papa kalau mau disuapin, biar kalian rukun gitu. Ini namanya belajar jadi imam yang adil." Seketika aku dan Nindi menatap tajam Alwi, apa maksudnya? Simulasi poligami?


"Eh, eh, santai aja! Aku becanda. Cewek kalau ngambek serem, ya!"


"Becandanya nggak lucu," celetuk Nindi mewakili isi hatiku.


"Eh, jangan marah, sayang. Aku nggak akan mungkin berpaling dari kamu gara-gara Devi. Ya, kita bertiga, kan, emang agak aneh gini."


"Eh, kamu aja yang aneh, Al. Aku sama Nindi, nggak!" protesku.


"Kamu paling aneh!" balas Alwi.


"Ya udah, berantem aja terus! Nanti mie ayam kalian buat aku aja. Kalian lanjutin buat berantem!" ucap Nindi dengan niat melerai aku dan Alwi. Bahkan pelayan yang mengantarkan pesanan pun menggeleng heran. Dari tadi meja kami sangat gaduh.


"Eh, ya udah. Aku mau makan aja, deh." Kuambil satu mangkuk dan menyudahi perselisihan dengan Alwi.


"Sama, aku mending ngisi perut!"


"Nah, gitu, dong. Suka lihatnya kalau akur, semoga nanti pas SMA kita bisa sekelas," ucap Nindi.

__ADS_1


Aku mengaminkan doa yang tidak akan mungkin terjadi. Tekatku sudah penuh untuk menuruti keinginan Bapak. Sebenarnya kedua sahabatku sudah tahu rencana itu. Akan tetapi, keadaan yang masih belum pasti membuat mereka mengira aku masih ingin melanjutkan ke SMA yang sama. Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kuharap persahabatan kami bertiga bisa bertahan selama-lamanya.


__ADS_2