Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Omongan Tetangga


__ADS_3

Menjelang hari pernikahan, kegiatan di rumah pemilik hajat mulai sibuk-sibuknya. Semenjak menginjakkan kaki di dapur, ada saja yang kukerjakan dengan Mbak Eva. Kurasa ini lebih baik daripada harus bersanding dengan ibu-ibu yang kurang akrab denganku.


"Itu Mas Ovi warung bukan, sih?" tanya Mbak Eva menunjuk ke arah luar. Aku melihat lurus ke arah yang dimaksud Mbak Eva. Eh, lelaki langsung membuang pandang, sepertinya tengah genit kepada Mbak Eva.


"Biarin aja, Mbak. Jangan dilihat terus! Dia itu lagi cari perhatian, maklum lagi lihat cewek cantik," celetukku.


"Dari tadi dia lihat kamu, lho!"


"Eh, nggak. Dia itu lagi lihat Mbak Eva. Dia juga tahu kali mana yang bening mana yang nggak." Aku tertawa mengatakan itu.


"Eh, serius. Dia lihat kamu, Dev. Kayak ada yang mau disampain."


"Oh, ya?" Sekali lagi aku menatap Mas Ovi di sana. Nah, kali ini dia tertangkap basah dan tampak salah tingkah.


"Ada apa, Mas?" tanyaku dengan satu tingkat volume lebih keras. Dia malah mendatangiku.


"Nyari siapa, Mas?" tanya seorang ibu begitu tahu Mas Ovi masuk di dapur.


"Ini nyari Devi."


"Tuh, nyari kamu beneran, kan!" Mbak Eva menyenggol lenganku.


"Nitip ini buat Pak Basir. Tadi aku udah taruh pakan ayam di rumah, tapi ininya lupa." Mas Ovi memberikan sesuatu dalam kantong kresek hitam yang berukuran besar. Apalagi ini? seingatku Bapak tidak memesan apapun lagi.


"Oke, makasih, Mas Ovi."


"Sama-sama, a-aku ke sana dulu, ya!"


"Iya. Biasa aja, Mas. Grogi lihat Mbak Eva, ya?" ledekku. Mbak Eva langsung mencubitku.


"Eh, nggak, lho. Aku sama Eva biasa aja."


"Masa? Ya udah balik sana!" Aku mengusir Mas Ovi dan dia pun kembali ke tempatnya.


"Bisa-bisanya ngomong gitu, orang aku sama Mas Ovi masih saudaraan. Yang ada Mas Ovi itu lagi PDKT sama kamu," timpal Mbak Eva yang tak terima dengan ledekanku.

__ADS_1


Di tengah candaanku dengan Mbak Evi, terdengar omongan beberapa ibu yang kurang ramah di telinga. Kedatangan Mas Ovi tadi ternyata membawa topik baru bagi mereka. Aku dan Mbak Eva saling menatap, menyimak ucapan menjatuhkan dari sebagian ibu tadi.


"Padahal di tempat kerjanya dulu udah enak, kerjanya juga dapat gaji tinggi," celetuk salah satunya.


"Kan dia juga sedang usaha di sini, Bu. Malah enak dekat sama keluarga," timpal lawan bicaranya yang lebih enak didengar.


"Tapi tau nggak, sih? Itu toko uang hasil penjualan tanah ibunya. Belum lagi hutang di bank. Sayang banget masih muda banyak hutang."


"Ya nggak papa, Bu. Bank-nya juga nggak keberatan. Siapa tahu usaha Ovi nantinya bisa maju terus kamu sebagai tetangganya bisa kecipratan."


"Ah, paling-paling bentar lagi juga gulung tikar. Ovi itu modelnya nggak konsisten kalau punya usaha. Dulu punya warung, akhirnya juga bangkrut."


"Oalah, Bu. Nasib manusia nggak ada yang tahu. Siapa tahu habis ini Ovi mau belajar dari kesalahan. Apa susahnya, tho, Bu buat berprasangka baik." Keduanya tampak mulai bersitegang.


"Ovi itu habis kerja emang kaya, kaya hutang!"


"Bu, sstt! Ada Ovi lewat." Ibu yang lain meminta untuk diam karena tiba-tiba Mas Ovi masuk ke dapur dengan membawa perabotan. Kukira dia sempat mendengarkan ungkapan tidak mengenakkan itu.


Tinggal di mana pun, kita harus siap dengan segala resikonya. Hidup di desa juga tidak selalu enak. Meskipun biaya hidup di desa dianggap lebih murah dan rasa sosial yang tinggi, namun permasalahan lainnya akan tetap muncul. Apalagi jika memiliki tetangga yang super julid, bisa-bisa hidup tersiksa karena terus dikuliti mereka.


"Minta tolong apa?"


"Tadi disuruh Bu Darmi ambil pesanan kue buat isi snack. Ambilnya di rumah Bu Salma, tahu nggak?"


"Oh, tahu. Itu di rumahnya Alwi. Ya udah, ayo!" seruku begitu bersemangat. Aku merasa lebih baik ikut Mas Ovi daripada di sini membuat panas telinga karena mendengar gunjingan para ibu.


"Eh, Mbak Eva gimana, dong? Kasihan kalau kita tinggal, Mas."


"Aku di sini aja, nggak papa. Lagian mana mungkin aku mau jadi obat nyamuk buat kalian," sergah Mbak Eva diiringi tawa kecil.


"Tuh, Eva nggak papa, kok."


Aku mengekor langkah Mas Ovi. Dia sempat berpamitan dengan beberapa lelaki sebaya dengannya di luar. Lagi-lagi seperti kemarin, mereka tertawa seolah menggoda Mas Ovi.


"PDKT terus sama cewek. Lanjutkan, Ov. Besok langsung nikah aja." Lagi, sempat kudengar ucapan itu dari teman Mas Ovi. Jadi apa maksud ucapan itu sebenarnya?

__ADS_1


"Ayo, Dev. Berangkat sekarang aja." Tidak perlu juga menanyakan sesuatu yang ingin kuketahui tadi. Aku hanya mengikuti ke mana langkah Mas Ovi bermuara.


"Lho, pakai mobil?" tanyaku begitu Mas Ovi membuka pintu mobil bak terbuka yang sewaktu aku datang tadi belum terparkir di sini.


"Iya pakai mobil biar mudah bawanya. Nanti kuenya taruh di belakang aja, soalnya banyak juga pesanan Bu Darmi."


"Oke kalau gitu."


"Ya udah, ayo naik, Dev!"


Mas Ovi dengan perlahan mulai melajukan mobilnya. Ia sempat memintaku untuk mengenakan sabuk pengaman. Awalnya aku menolak, kurasa itu tidak perlu karena memang jarak yang ditempuh tidak jauh. Kalau saja Mas Ovi tidak bawel, aku tidak mau untuk memakainya.


"Nah, gitu, cowok itu suka sama cewek yang penurut. Lain kali kalau dikasih tahu jangan ngeyel terus. Pakai sabuk pengaman itu juga demi keselamatan kamu. Nasib buruk itu bisa datang kapan saja. Tugas kita itu waspada dan selalu berdoa," cerocos Mas Ovi dengan mata yang fokus ke arah depan. Ah, serasa dimarahi oleh suami. Eh, emangnya udah pernah punya suami?


"Iya, iya, maaf, Mas."


"Eh, Dev, kamu tadi tahu yang dibilang sama Bu Erni?" tanya Mas Ovi kepadaku.


"Bu Erni siapa?"


"Ibu-ibu yang ada di belakangmu. Yang paling doyan cari celah kekurangan orang. Yang tadi jelek-jelekin aku." Oh, dugaanku benar, Mas Ovi mendengar pembicaraan tadi.


"Aku nggak tahu, sih. Cuma sekilas kedengaran. Itu bukannya tetangga samping rumah Mas Ovi?"


"Iya, tapi dia julid banget. Bikin malas keluar rumah. Dia selalu ikut campur sama urusan keluargaku."


"Sabar, Mas," lirihku berusaha menenangkan Mas Ovi.


"Aku nggak menyangkal semua ucapan Bu Erni. Tapi aku tidak suka dia ngerendahin orang lain."


"Emang tadi udah firasat kalau ibu-ibu tadi itu jahat dan biang gosip, eh ternyata beneran."


"Ya emang gitu wataknya, sabar aja, Dev."


"Iya, pasti, Mas. Emang tahu rumah Bu Salma?" Mas Ovi menggeleng. Haduh.

__ADS_1


__ADS_2