
"Ya udah, aku kasih tahu arahnya kalau gitu," ucapku siap menjadi pemandu jalan Mas Ovi menuju rumah Bu Salma.
"Aku udah lumayan tahu arah-arahnya, sih. Cuma belum tahu pas rumahnya."
"Oh, ya udah. Nanti aku kasih tahu."
Seketika tidak ada pembahasan lain, hening. Aku hanya menatap ke arah luar karena tidak mau mengganggu Mas Ovi. Mas Ovi mulai menyalakan radionya, bagus daripada senyap. Aku melirik Mas Ovi sebentar, padahal sudah bertemu saluran yang jernih, masih saja dia mencari-cari yang lain.
"Ada apa, Dev?" tanya Mas Ovi.
"Nyari apa? Perasaan tadi udah ketemu yang bagus." Mas Ovi tidak mempedulikanku dan asyik mencari saluran yang ia inginkan.
"Nah, ini bagus!" seru Mas Ovi begitu menjumpai saluran dengan tema kajian Islam yang menyajikan ceramah seorang ustaz.
"Kalau aku udah ngantuk dulu, Mas. Untung nanti nggak perjalan jauh," sergahku karena kurang setuju dengan saluran yang dipilih Mas Ovi saat ini.
"Ini isinya kebaikan, lho, Dev!"
"Tapi bikin ngantuk, Bapak kadang juga mutar itu kalau di rumah, pas siang lagi. Cocok buat tidur." Aku tertawa.
"Wajar kalau kita mengerjakan kebaikan itu selalu ada gangguan, setan lagi berusaha menggoda. Padahal kalau diresapi benar-benar bikin hati tenang." Mas Ovi tersenyum simpul membuatku merasa malu. Pantas jika Bapak menginginkan aku masuk pesantren, aku saja susah untuk diajarkan ikut dalam kebaikan.
"Kayaknya setan yang menggoda aku banyak, deh, Mas," celetukku.
"Kenapa bisa bilang gitu?"
"Dengar ceramah aja ngantuk, apalagi waktu ditawarin ke pesantren, aku nggak mau. Padahal itu kan buat kebaikan juga."
"Bukan gitu, Dev. Itu memang kamu belum siap. Adakalanya semua itu perlu untuk dipaksa. Paksa, paksa, akhirnya terbiasa. Kamu harus semangat, aku bakal dukung kamu!" Mas Ovi mengusap ujung kepalaku.
Bagaimana aku bisa menolak untuk tidak mengaguminya. Perlakuannya kepadaku benar-benar lembut dan sangat tulus. Aku merasa memiliki sosok kakak ketika dekat Mas Ovi.
"Aku nyaman kalau di dekat Mas Ovi. Kayak punya kakak. Kalau sama Rehan berantem mulu!" ungkapku tiba-tiba.
"Hmm, kakak? Ya, sesayang itu aku sama kamu, Dev. Padahal kita lama nggak ketemu, ya. Nggak tahu, bisa nyaman gini." Mas Ovi tertawa lagi aku juga demikian.
__ADS_1
"Eh, Mas, rumah Bu Salma depan itu belok kiri, ya." kutunjuk gang yang berada sekitar 20 meter di depan, Mas Ovi mengangguk.
Mobil yang membawaku dari rumah Bu Darmi kini belok kiri memasuki sebuah gang. Mobil yang dikendarai Mas Ovi berhenti tepat di depan rumah yang sangat familiar bagiku. Bu Salma sudah menanti di teras, dia kemudian menghampiri aku dan Mas Ovi. Aku turun dan segera menyalami Bu Salma.
"Lho, ada Mbak Devi! Ini mau ambil pesanan Bu Darmi, kan?"
"Iya, Bu." Mas Ovi turut menyalami Bu Salma dan memberikan nota pembelian yang dititipkan Bu Darmi tadi.
"Itu yang ada di teras punya Bu Darmi semua. Semuanya sudah sesuai pesanan, untuk bonusnya yang pakai tali warna merah." Bu Salma menunjuk salah satu kardus dengan ciri-ciri khusus menggunakan tali berbeda warna dengan yang lain.
"Langsung saya taruh ke mobil, ya, Bu?" Bu Salma mengangguk dan Mas Ovi pun segera memindahkan beberapa kardus di teras Bu Salma ke bagian bak mobil.
"Aku bantu biar cepat selesai." Baru berniat mengangkat, Mas Ovi sudah melarangku terlebih dahulu.
"Kamu duduk aja, ini biar aku yang angkat. Nanti kamu capek."
"Ini beratnya juga nggak seberapa, Mas. Nggak akan capek," jawabku sambil tersenyum.
Mas Ovi yang sempat melarang akhirnya tidak lagi protes. Aku membantunya dengan menenteng dua kardus. Bu Salma sepertinya masih repot di dapur, dia berpamitan meninggalkan aku dan Mas Ovi. Tumben Alwi tidak muncul, mungkin masih tidur siang atau jangan-jangan belum pulang.
"Mbak Devi, ini nanti dibawa pulang, ya. Yang satu buat masnya." Bu Salma menaruh dua kotak di atas meja. Baik sekali, kan?
"Nggak, Mbak. Masih sisa banyak, rencananya juga mau dibagi-bagi ke tetangga. Ya sudah, ya, Ibu mau ke dapur lagi. Maaf nggak bisa bantu," ucap Bu Salma.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini terima kasih untuk pemberiannya tadi," sahut Mas Ovi.
"Si Alwi udah tahu mamanya lagu sibuk malah belum pulang, Mbak. Emang ada tugas apa, sih?" tanya Bu Salma kepadaku.
"Oh, belum pulang? Seingatku nggak ada tugas, Bu. Mungkin ada keperluan lain."
"Oh, ya udah. Silahkan lanjut lagi kalau gitu."
Dasar Alwi, pamit mengerjakan tugas, padahal sedang bersama Nindi. Eh, tapi aku tidak tahu juga, sih. Barangkali dia dan Nindi memang sedang belajar berdua.
***
__ADS_1
Aku dan Mas Ovi sudah kembali ke rumah Bu Darmi. Tiba di sana kardus-kardus tadi langsung diserbu para pemuda yang sedari tadi mencari kegiatan yang dapat dilakukan. Aku segera kembali ke tempat Mbak Eva tadi.
Setibanya di dapur tidak kutemukan Mbak Eva. Ibu-ibu yang ada di situ pun juga tampak bersantai tanpa mengerjakan apapun. Mereka mengobrol dan menikmati beberapa camilan yang tersedia di sana. Mungkin untuk saat ini memang sudah habis untuk pekerjaan seperti mengupas dan mengiris bahan makanan, hanya tinggal memasak yang hanya dikerjakan oleh ibu-ibu tertentu.
"Dev, ngapain?" tanya Mbak Eva yang tiba-tiba ada di belakangku. Padahal aku sedang mencarinya.
"Dari mana, Mbak?" Kulihat di tangannya ada kertas dengan dominasi warna hijau.
"Itu apa?" tanyaku lagi, pertanyaan tadi saja belum di jawab.
"Brosur pesantrenku. Ini buat kamu, Pak Basir dulu yang minta."
"Ya udah, terima kasih, Mbak."
Brosur pemberian Mbak Eva tidak lekas kubaca. Jangankan untuk membaca, menerimanya saja sebenarnya aku enggan. Hanya saja aku masih tahu cara menghargai, lebih baik menerima karena Mbak Eva tampak begitu ikhlas menyerahkannya.
"Ini nggak ada kerjaan lain lagi, ya?" tanya Mbak Eva mengamati sekelilingnya.
"Aku pas datang tadi udah kelihatan santai semua. Belum ada kerjaan kali, Mbak."
"Duduk, yuk. Di belakang rumah aja, cari angin. Di sini panas!"
Mbak Eva mengajakku berjalan di antara para ibu yang saat ini memenuhi dapur. H-1 acara pernikahan saja sudah seramai ini, mungkin besok akan lebih ramai. Biasa terjadi di lingkungan pedesaan, bahu membahu saling bekerjasama.
"Di sini, kan, sejuk!" seru Mbak Eva yang kemudian mengambil batu bata sebagai tempat duduknya.
Saat ini aku dan Mbak Eva berada di belakang rumah yang mengarah langsung pada kebun yang berisi tanaman mahoni dan beberapa pohon mangga. Angin yang bertiup sangat menolongku saat ini. Di bagian utara ada Pak Adi, lelaki yang usianya sekitar 50 tahun. Masyarakat memang sering menggunakan jasanya untuk mencuci piring di acara besar.
"Kenapa di luar, Nduk?" tanya Pak Adi kepada kami.
"Cari angin, Pak. Lagi senggang, ya?" tanya Mbak Eva yang melihat Pak Adi masih santai duduk di kursi dan menikmati kopinya.
"Baru sempat istirahat, Nduk. Tadi banyak juga yang perlu dibersihkan."
"Oh, Nggeh, Pak."
__ADS_1
Aku kemudian mengikuti Mbak Eva dengan duduk di atas batu bata. Mbak Eva menarik brosur yang tadi diberikan kepadaku. Dia kemudian menjelaskan bagian depan yang menampilkan bangunan pesantren.
"Pesantren itu penjara suci, Dev. Semua memang serba terbatas, tapi InsyaAllah kamu tidak akan sia-sia," lirih Mbak Eva yang sepertinya tahu jika aku tidak menginginkan masuk pesantren.