Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Kejutan Ulang Tahun Nindi


__ADS_3

Alwi segera menyimpan donatnya ke dalam laci dan akan kembali mengeluarkannya ketika Nindi datang. Rencananya tidak aneh-aneh, dia memintaku untuk membawa donatnya nanti ketika Nindi datang. Benar-benar seperti babu.


Alwi juga meminta teman-teman yang lain untuk membantunya menyanyikan lagu selamat ulang tahun nantinya. Dan, jangan tanya bagaimana reaksi teman-teman. Mereka sangat mendukung, terlebih Alwi memberi tahu jika hari ini ia berniat menyatakan perasaan kepada seseorang yang menjadi dambaannya itu.


"Pokonya nanti harus berjalan lancar." Dari bangkunya, Alwi menunjuk tepat ke arahku seolah aku kunci dari keberhasilannya.


"Ya kita kan berusaha dulu. Gagal atau berhasilnya itu urusan kamu," celetukku dengan sinis.


"Kalau nanti dia nggak terima, kamu bujuk sampai dia mau," ancam Alwi.


"Kalau nggak berhasil juga?"


"Lain kali usaha lagi," lirihnya sedikit lemah.


"Bukan, Al. Itu artinya kamu nggak boleh pacaran." Ekspresi Alwi seketika berubah. Dia tidak lagi menanggapiku, dia keluar kelas.


Alwi yang mau menyatakan perasaannya, tapi kenapa justru aku yang tidak tenang, ya? Aku juga menanti-nanti kedatangan Nindi, tumben sekali dia belum juga datang padahal sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Aku curiga, sepertinya dia tidak masuk sekolah hari ini.


Aku mengeluarkan buku bacaan yang kupinjam dari perpustakaan beberapa hari yang lalu. Begitulah aku, suka sekali meminjam buku tapi terkadang sampai jatuh tempo waktu pengembalian belum juga kubaca.


"Kok, Nindi belum datang juga, ya?" Alwi menghampiriku dengan raut wajah yang tampak cemas.


"Tunggu dulu. Mungkin masih repot di rumah, belum sempat berangkat," ucapku berusaha menenangkan Alwi.


"Sepuluh menit lagi bel masuk, nggak biasanya dia belum datang." Alwi duduk di kursi Nindi. Sebentar-sebentar dia memerhatikan jam di dinding, berharap sahabat baikku itu menampakkan diri di pintu.


"Assalamualaikum, ini kelasnya Nindi?" seorang gadis dari kelas lain bertanya dengan sopan di dekat pintu.


"Iya, ada apa?" Alwi antusias, dia menghampiri gadis itu.


"Nitip surat, Nindi sakit." Gadis tadi menyerahkan amplop kepada Alwi seraya mengucapkan terima kasih.


"Sakit apa?" tanya Alwi to the point.


"Kurang tahu juga. Tadi ayahnya yang datang ke sini, di gerbang kebetulan ketemu aku, aku dititipi ini," jelasnya lagi.


"Ya udah, makasih, ya," ucap Alwi.


"Sama-sama."


Alwi menatapku dengan ekspresi menyedihkan. Aku tahu perasaannya, dia telah patah karena ekpektasi. Tapi melihatnya bersedih seperti itu justru membuatku ingin tertawa. Akan tetapi, bagaimanapun juga harus kutahan tawaku ini. Demi menghormati perasaan Alwi.

__ADS_1


"Kata Devi, itu artinya kamu nggak boleh pacaran, Al," ucap Oliv menirukan ucapanku tadi. Padahal aku berusaha untuk tidak mengucapkan kalimat itu lagi, kenapa malah Oliv yang mewakilinya.


"Eh, nggak boleh gitu, Liv. Alwi lagi sedih malah dibecandain," ucapku menasihati Oliv.


Alwi tampak tidak peduli. Amplop tadi ia taruh di atas meja guru. Setelah itu dia menuju kursinya dengan langkah berat, kasihan sekali.


"Devi, ini buat kamu!" Alwi membalikkan badan dan menaruh asal donat di meja belakangnya. Wah, rizki yang tidak terduga ini namanya.


"Beneran, Al? Nggak disuruh bayar, kan?" tanyaku.


"Nggak, itu buat kamu. Kayaknya emang benar apa yang kamu bilang, jangan pacaran dulu," lirih Alwi.


"Kayanya enak. Mau juga, dong!" Firman tampak mengincar donat dari Alwi. Tidak mau kalah, segera kusambar roti dengan bentuk bulat dan berlubang pada bagian tengahnya itu.


"Jangan pelit-pelit, dong, Dev," protes Firman.


"Siapa juga yang pelit. Aku cuma mau ambil satu aja, tapi mau aku pilih dulu," jelasku mengambil donat dengan toping keju.


"Nih, teman-teman, yang mau ambil silahkan! Satu biji dua ribu!" ucapku kemudian mendapat sorakan.


"Becanda ... becanda .... Gitu aja marah," selorohku.


Dalam hitungan detik donat itu diserbu. Beberapa teman tidak mendapat bagian. Alwi akhirnya mengeluarkan risoles yang juga sudah ia persiapkan. Aduh, semakin tidak tega aku.


***


Lima belas menit menjelang istirahat, banyak siswa yang mulai tidak bersemangat. Jam yang berada di dinding terasa seolah tidak menggerakkan jarumnya. Sesekali aku menghela napas berat, seberat otakku memahami angka-angka yang dijelaskan Bu Nuri. Jangankan masuk ke otak, memandangnya saja rasanya mataku menolak.


Aku sesekali menengok ke arah papan tulis sekadar formalitas agar terlihat sedang memerhatikan Bu Nuri. Sebenarnya aku sibuk sendiri, berkutat dengan buku dan pensil untuk membuat puisi.


"Siapa yang mau mengerjakan ke depan?" tanya Bu Nuri. Senyap dan antar siswa saling melempar pandang. Seperti jatuh cinta, aku sedang deg-degan kali ini.


"Nggak ada? Ibu tunjuk, ya?"


Pilihan yang berat kalau seperti ini. Dengan terpaksa para siswa menjawab 'iya' tawaran Bu Nuri.


"Hari ini tanggal 5, Devi. Mana Devi?"


Aku merutuki diri. Kenapa harus nomor absen lima. Ingin rasanya aku menangis, menyesal tidak menyimak penjelasan Bu Nuri dari tadi.


"Saya belum bisa, Bu," ucapku jujur.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ibu tuntun langkahnya!"


Aku heran, kenapa bisa begitu takut dengan guru sebaik Bu Nuri. Kesan matematika yang menyeramkan membuat sang guru kena imbasnya. Padahal tidak semua guru matematika menakutkan.


"Ayo, Nak. Dicoba dulu," ucap Bu Nuri lagi.


Aku beranjak dari kursi dengan rasa takut. Bukan takut, lebih tepatnya malu jika nanti tidak bisa menjawab. Kalau saja ada Nindi sekarang.


"Soalnya bagaimana, Bu?" tanyaku yang sudah siap membawa spidol.


"Ina membeli dua pensil dan satu buku dengan harga Rp. 6.500,00. Sementara itu, Ari membeli satu buku dan tiga pensil dengan harga Rp. 7.000,00. Berapa yang harus dibayar Luna jika membeli dua buku dan dua pensil?"


Kenapa panjang sekali pertanyaannya? Jangankan untuk mencari penyelesainnya, memahami soalnya saja sudah membuat otakku panas. Ya Allah, hamba mohon pertolongan-Mu.


"Bagaimana penyelesaiannya, Nak?" tanya Bu Nuri.


"Sebenarnya tinggal tanya penjualnya aja daripada pusing, Bu," jawabku sebagai manusia yang anti ribet. Bu Nuri langsung tersenyum manis kepadaku, sementara kuperhatikan beberapa teman yang menahan tawa.


"Jawaban anak yang cerdas. Tapi ibu minta dikerjakan menggunakan SPLDV yang sudah Ibu terangkan tadi, Nak," ucap Bu Nuri begitu sabar menghadapiku.


"Bu, jujur saya tadi tidak memerhatikan penjelasan Ibu," ucapku dengan mata berkaca-kaca.


"Tadi Ibu perhatikan kamu sibuk nulis juga."


"Nulis yang lain, Bu."


"Tugas lain?"


"Bukan. Puisi, Bu. Saya pusing kalau lihat angka," ucapku masih jujur. Bu Nuri hanya tersenyum.


Bel istirahat bahkan sudah berbunyi. Aku takut setelah ini menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Mereka pasti akan marah-marah karena telat istirahat.


"Baik, Nak. Ibu paham dengan apa yang kamu rasakan, Ibu juga begitu dulu. Sementara bakatmu adalah menulis, itu bagus. Tapi Ibu harap untuk pertemuan selanjutnya jangan diulangi lagi seperti ini. Silahkan kembali ke bangku, sekarang sudah waktunya istirahat."


Bu Nuri menutup pelajaran dengan ucapan salam. Setelah itu beliau keluar kelas. Beberapa siswa juga langsung keluar kelas, sementara aku masih di kursiku. Aku malu, aku takut jika teman-teman marah kepadaku.


"Devi, nggak papa, kan?" tanya Dila mendekatiku.


"Aku malu. Maaf, ya, gara-gara aku kita istirahatnya terlambat," ucapku.


"Nggak papa, lagian juga nggak lama, kok. Sebenarnya aku sendiri juga belum bisa jawab pertanyaan Bu Nuri tadi. Untung bukan aku yang maju," ucap Oliv dengan tertawa.

__ADS_1


"Gini banget kalau nggak ada Nindi. Biasanya dia yang maju buat ngerjain," ujar Mila yang juga aku setujui.


"Nggak usah terlalu dipikir. Selanjutnya kita harus serius waktu belajar. Ini tadi sebenarnya bukan materi yang sulit banget kalau kita mau memerhatikan Bu Nuri," jelas Dila. Ya, aku juga setuju dengannya.


__ADS_2