Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Rujak Cingur


__ADS_3

Alwi masih mematung di tepi jalan depan tempat parkir. Aku berdecak kesal melihatnya, kenapa lelet sekali? Apakah mentalnya sedikit terganggu gara-gara sedang berkonflik dengan Nindi?


"Hei, kamu nunggu apa? Ayo, sini!" teriakku pada Alwi. Dia menghampiriku dengan langkah yang lemah.


"Udah dibayar?" Alwi merogoh saku seragamnya.


"Udah, tinggal ambil aja!" Kunci motor di tangan kulempar ke arah Alwi, dia menangkapnya dengan sigap.


"Dev, nggak lihat orang lagi susah? Bantuin gitu, kek!"


Aku tersenyum, kurasa Alwi dongkol melihat lengkung manisku itu. Memang, aku hanya berdiri menunggu Alwi yang maju mundur kesusahan mengambil motor karena terhalang motor lain. Kupikir aku tidak diperlukan, dia kan laki-laki, seharusnya permasalahan seperti itu tentu bukan sesuatu yang sulit baginya.


"Ini motornya udah aku mundurin. Bisa keluar, kan?" tanyaku seraya memindahkan motor dengan berjalan mundur.


"Oke, sip!"


Untung saja parkiran sudah dalam kondisi sepi. Dari tadi aku dan Alwi tampak heboh sendiri. Memang biasanya si pemilik lahan parkir tak begitu mempedulikan kesulitan orang yang menitipkan motor. Aku pernah beberapa kali hampir frustasi gara-gara tidak bisa mengambil kendaraanku itu. Dan apa reaksinya? Tetap tak peduli dan masih sibuk menghitung uang receh dari para penitip sepeda.


"Lho, kenapa?" tanyaku begitu Alwi menyerahkan kembali kunci motorku.


"Aku nggak bisa nyalain." Alwi meringis.


"Emmm, iya oke."


Bapak mengajari jika tidak ingin membuang banyak tenaga, nyalakan starter sambil diengkol. Ya, itu benar, tarikannya jadi sedikit lebih ringan dan itulah yang setiap hari kulakukan. Mungkin beda sepeda motor beda juga perlakuannya. Aku tersenyum, motor kesayangan yang penurut, sekali engkol saja langsung menyala.


"Sekalian kamu yang nyetir aja, Dev."


Kali ini aku tidak menyanggah Alwi, biarkan hari ini ia menikmati kegalauannya. Begitu siap di boncengan, Alwi menepuk bahuku dan meminta agar segera pulang. Ah, apakah dia merasa tengah menjadi pangeran yang sedang menyuruh babunya?


"Dev, berhenti dulu. Itu ada yang jualan rujak cingur, kan? Mampir, yuk!" Alwi menunjuk warung kecil yang masih sekitar 20 meter di depan. Aku turuti permintaannya kali ini, kasihan dia seperti orang yang tak berminat untuk hidup.


Tak lebih dari semenit, kami tiba di tempat yang dimaksud Alwi tadi. Aku masih menunggu di motor sementara Alwi sudah mendatangi sang penjual begitu motor yang kukendari berhenti. Tiba-tiba Alwi memanggilku dan meminta untuk menyusulnya. Ah, kukira ia minta rujak cingur dibungkus untuk dimakan di rumah.


"Makan di sini?" tanyaku seraya duduk membelakangi Alwi dan menghadap ke arah penjual karena penasaran dengan proses pembuatan rujaknya.


"Iya, aku pesan dua. Satu buat kamu, sama es campur tadi. Aku yang bayar, kok!"


"Kalau gini aku suka. Makasih, Al!" seruku begitu bersemangat. Alwi justru komat-kamit menirukan ucapanku, lemas sekali mulutnya.

__ADS_1


"Hadapnya jangan gitu kenapa, Dev? Kayak lagi musuhan aja." Akhirnya Alwi sadar jika aku sedang duduk dalam posisi membelakanginya.


"Aku penasaran lihat ibunya bikin rujak, kok. Kamu lagi sedih, Al?" tanyaku seraya memutar badan hingga posisiku sejajar dengan Alwi.


"Kelihatannya gimana?"


"Lagi bahagia banget, soalnya lagi sama aku!" seruku sambil meletakkan telunjuk ke pipi.


"PD amat!"


Kalau saja pesanan ruang cingur tidak segera datang, mungkin perdebatan akan masih berlanjut. Alwi tampak lebih tertarik dengan makan yang berisi lontong, irisan cingur, dan beberapa potongan buah, serta aroma petis yang khas daripada berbicara denganku. Melihat Alwi yang begitu lahap menyantap rujak tersebut, perutku ikut berbunyi dan siap untuk menampungnya.


"Enak, kan? Ini warung favoritku." Aku mengangguk menjawab pertanyaan Alwi.


"Kamu sering ke sini, Al?" tanyaku.


"Sering sama Nindi. Dia yang pertama kali ngajak aku ke sini," lirih Alwi.


"Pasti banyak kenangan di sini. Sabar, ya, Al. Semoga semua kesalahpahaman ini cepat selesai."


"Pasti, tenang aja, besok pasti udah bersikap biasa dia."


"Yakin?" ledekku pada Alwi. Nindi memang pemaaf, tapi apakah yakin jika dia mau memaafkan untuk permasalahan seperti saat ini?


"Kalau itu aku percaya, sih."


"Ya udah kalau gitu, lanjut makannya. Jangan terlalu dipikir masalah itu." Alwi menatapku kemudian seperti melihat sesuatu yang tidak beres hingga ia tertawa.


"Ada apa, Al?"


"Bumbu kacangnya bikin muka kamu cemong. Dilap, dong." Alwi menggeser tisu dan mengisyaratkan agar aku membersihkan wajahku.


"Sebelah mana, Al?" tanyaku.


"Sok-sokan tanya gitu. Biar diusapin kayak difilm-film, kan?" tuding Alwi kepadaku.


"Tanya ke Alwi malah bikin ribut." Kukeluarkan cermin kecil yang dari dalam tas.


Aku tertawa, ternyata wajahku semakin cantik karena terkena bumbu kacang. Wajahku sudah bersih setelah kuusap dengan tisu. Kembali kulanjutkan untuk menyantap hidangan tadi. Setelah piring masing-masing sama-sama kosong, target selanjutnya adalah es campur. Aku tidak yakin bisa menghabiskan es tersebut. Makan rujaknya saja sudah membuatku sangat kekenyangan, porsinya sangat besar.

__ADS_1


"Enak juga kan? Es campur ini memang rasanya beda dari es campur yang lain. Murah lagi," ucap Alwi seolah mempromosikan warung tersebut.


"Kalau nggak habis boleh dibungkus nggak, sih? Sayang kalau ditinggal gitu aja. Ini enak, lho," ucapku yang kekenyangan tapi tidak rela jika melewatkan es campur yang begitu lezat tersebut.


"Boleh, sekalian nanti nambah satu buat Rehan, Dev."


"Eh, nggak usah. Ini aja cukup buat berdua bahkan bertiga sama Bapak," elakku karena merasa tidak enak hati.


"Santai aja, nanti aku juga bungkusin buat Mama, kok."


"Ya, udah. Makasih kalau gitu."


Alwi masih bersemangat menyendok minuman tersebut. Perutku yang sudah tidak kuat menampung lebih memilih untuk diam dan menunggu Alwi selesai. Rupanya sang penjual pun mendengar percakapanku bersama Alwi tadi, dia membawakan plastik untuk membungkus es campurku.


"Terima kasih, Bu."


"Bisa nggak, Mbak?" Si Ibu begitu peka, beliau langsung memasukkan es campur dalam mangkuk tadi ke plastik hingga siap untuk dibawa pulang.


"Terima kasih lagi, Bu."


"Dev, jajan di pinggir jalan sama pacar emang romantis, kan? Tapi pernah nggak sih kamu punya pacar?" pertanyaan Alwi bikin aku emosi.


"Ngajak ribut emang! Maksud pertanyaan kamu apa?"


"Itu tanya, Dev. Bisa-bisanya dikira ngajak ribut. Dasar jomlo ngenes!"


"Kamu tanya tapi kayak ngeledek, sih. Ya udah, sering-sering ajak ke sini, dong, Al."


"Sering-sering? Kamu siapa saya?"


"Sahabat kamu, kan?"


"Sorry, ke sini cuma mau ngajak pacarku aja, Dev."


"Ya udah, mau jadi pacar kamu, dong!" celetukku sekadar bercanda.


"Mau? Jadi yang kedua tapi." Alwi tertawa kemudian memasukkan satu suapan ke mulutnya.


"Ih, kayak nggak ada cowok lain aja," sergahku.

__ADS_1


"Jujur aja, Dev. Yang dibilang Risa benar, kan? Sebenarnya kamu punya rasa ke aku?"


"Terserah kamu, deh, Al."


__ADS_2