
Mohon maaf bila bab ini sama sekali tidak menarik
Nindi tampak keluar kamar dan samar-samar terdengar ia meminta mangkuk kepada Bapak. Alwi terdiam melihatku, mungkin dia juga bingung hendak membahas topik apa. Untung saja Nindi segera kembali dan duduk di sampingku.
"Dimakan sedikit aja, ya, Dev. Kamu belum makan, kan?" Nindi menuangkan bakso beserta kuahnya ke dalam mangkuk. Selain cantik Nindi memang memiliki sikap keibuan, dia begitu telaten.
"Aku tadi udah makan bubur buatan Rehan tapi sedikit."
"Makan baksonya, Dev. Sedikit nggak papa, kok," ucap Alwi.
"Nah, bener yang dibilang Alwi," imbuh Nindi.
"Oke."
"Barangkali mau ditambah sambal, Dev." Alwi tersenyum meledek. Nindi seketika mencubit lengan pacarnya itu.
"Temannya lagi sakit malah dibecandain."
"Kalian kenapa repot-repot? Apalagi kamu, Nin, rumahmu jauh, lho," lirihku yang tidak tega dengan kedatangan dua temanku itu.
"Santai aja, Dev. Nanti aku antar dengan selamat sampai rumahnya, kok." Alwi berujar dengan bangga.
"Nah, itu kamu dengar sendiri, kan? Jangan khawatir, Dev."
"Tadi ada tugas nggak?"
"Ada, matematika. Kita dikasih tugas buat persiapan UTS minggu depan," jawab Alwi.
"Minggu depan udah UTS?"
"Iya, kamu jangan panik, Dev. Kita nanti belajar bareng kalau kamu sudah sembuh," ucap Nindi menghiburku.
"Oke, terima kasih, Nin, Al."
Hari beranjak sore, Alwi dan Nindi akhirnya berpamitan. Aku sudah berangsur membaik dan bisa menyaksikan kepulangan mereka hingga di pintu depan. Rupanya dua temanku itu juga membawa oleh-oleh lain yang diserahkan kepada Bapak. Sebenarnya mereka datang dengan kosong pun sudah cukup bagiku. Betapa bersyukurnya, memiliki teman yang selalu ada di saat lemah.
"Cepat sembuh, Dev. Besok sekolah, ya!" Nindi melambaikan tangan sebelum naik ke boncengan Alwi.
"Oke, Nin. Jangan kencang-kencang, ya, Al. Kamu bawa bidadari, lho," ucapku.
"Aduh, Dev. Tanpa kamu suruh pun aku sudah ingat."
Perlahan motor yang membawa dua temanku itu meninggalkan pekarangan. Rumah menjadi sepi lagi. Bapak dan Rehan sepertinya berada di dapur. Aku mencoba mencari mereka di sana.
"Pak, mau masak?" tanyaku pada Bapak yang tengah berusaha menyalakan tungku kayu.
"Masak sayur, Nduk. Tadi pagi belum sempat bikin sayur."
"Kayaknya tadi aku lihat Rehan makan pakai sayur," ucapku berusaha mengingat.
"Oh, itu tadi dikasih lodeh sama Bu Salma."
__ADS_1
"Ibunya Alwi?"
"Iya. Bapak sungkan banget sebenarnya. Keluarga mereka baik banget. Bapak juga tadi mau dikasih sawi sama pare, tapi Bapak tolak."
"Ya Allah, Alwi emang suka berbagi gitu kalau di sekolah, Pak. Mungkin itu kebiasaan keluarga mereka."
"Iya, Nduk. Kamu mau makan?"
"Nanti aja, Pak. Belum lapar aku."
"Jangan malas makan, Mbak. Nanti nggak sembuh-sembuh, lho." Rehan tiba-tiba muncul dari arah kamar mandi.
"Pahit rasanya mulutku, Re."
"Kalaupun pahit, tetap dipaksa, Mbak. Tapi gimana rasanya? Udah mendingan?"
"Alhamdulillah, Re. Kayaknya sayur bening dimakan hangat-hangat enak, deh." Kulihat potongan bayam yang sepertinya sudah dicuci oleh Bapak.
"Kamu mau makan pakai sayur bening, Nduk?"
"Nanti aja, Pak."
"Bapak mau masak sekarang, kalau sudah matang kamu makan, ya." Aku hanya mengangguk.
Aku kali ini hanya duduk memerhatikan Bapak dan Rehan yang masing-masing tampak sibuk. Bapak sedang membuat sayur bening sementara Rehan mondar-mandir sembari membawa gelas di genggamannya.
"Kamu mau bikin apa, sih, Re?"
"Emang udah beli?"
"Di meja masih ada. Ini, diminum, ya." Rehan menyodorkan sebuah gelas dengan isi minuman berwarna putih. Em, so sweet.
Aku meneguknya perlahan. Lumayan terasa manis. Sepertinya memang sudah takarannya, hanya saja karena aku sedang tidak enak badan, jadinya kurang terasa manis.
"Ini, segera dimakan tapi itu masih panas." Bapak menaruh sayur bening dalam sebuah piring. Baru saja sayur itu diangkat, masih tampak kepulan asapnya.
"Terima kasih, Pak."
"Nanti mau dibawa ke dokter?" tanya Bapak kepadaku. Oh, aku tidak mau.
"Nggak usah, Pak. Ini aku udah sangat mendingan," tolakku.
"Beneran?"
"Serius!"
"Bapak ke ladang, ya? Nggak papa?"
"Iya, Pak. Ada Rehan juga, kok, di rumah."
Bapak pergi ke ladang, sementara Rehan tidak kuketahui keberadaannya. Dia tadi sempat berpamitan untuk bermain di rumah tetangga. Untungnya keadaanku sudah jauh membaik, tidak perlu juga penjagaan ekstra dari Bapak ataupun Rehan.
__ADS_1
Hidungku masih berfungsi dengan normal. Aroma sayur bening khas buatan Bapak membuatku tertarik untuk mencicipinya. Bapak biasanya mencampurkan daun kemangi atau temu kunci sehingga aroma kuahnya sangat harum. Selain itu, taburan bawang goreng semakin menambah selera makan.
"Alhamdulillah." Aku bersendawa dengan keras.
Seporsi sayur bening yang diberikan Bapak tandas dalam perutku. Keringatku mulai bercucuran, rasanya lega bisa berkeringat ketika sakit begini.
Tubuhku berangsur membaik, tapi belum pulih sepenuhnya. Bapak tadi sempat berpesan agar lekas istirahat setelah makan. Aku bukan tipe orang yang suka tidur kecuali di waktu malam. Rasanya semakin banyak istirahat semakin sakit di badan.
Aku menengok tempat untuk mencuci piring. Di sana tumpukan perabotan dapur tampak menggunung. Mungkin Bapak belum sempat mencuci piring karena terlalu mengkhawatikanku.
Kucari tempat duduk kecil yang biasanya disebut dingklik. Rencananya aku mau mencuci perabotan kotor tersebut. Aku harus mengerjakannya dengan cepat, jangan sampai ketahuan Bapak.
Mencuci dan membereskan rumah sudah menjadi pekerjaan sehari-hariku. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan itu semua. Setelah menata beberapa piring dalam raknya, perhatian tertuju pada dapur yang penuh sampah. Ya, biasanya aku juga yang menyapu alas rumah yang masih berupa tanah tersebut.
Kuambil sapu lidi dan dengan perlahan menyisir setiap sudut dapur yang kotor. Bagaimana nantinya jika aku meninggalkan Bapak dan Rehan ke pesantren? Apakah kondisi rumah seperti ini atau justru lebih parah?
"Lho, kirain Bapak yang bersih-bersih."
Aku terkejut, suara Rehan mengagetkanku. Dia yang melihatku terperanjat juga ikut terkejut. Sesaat kemudian kami tertawa, menertawakan hal yang sebenarnya sama sekali tidak lucu itu.
"Kamu bikin kaget, Re!"
"Aku ikutan kaget, lho, Mbak!"
"Kamu mau bantu?"
"Malas, Mbak. Mbak kenapa harus bersih-bersih? Kan, masih sakit?" Rehan menuangkan air dari teko ke dalam gelas kemudian meminumnya.
"Biar berkeringat, Re. Kalau tidur terus malah sakit badanku."
"Oh, begitu. Ya udah, aku bantu."
"Mau bantu apa? Wong, sudah selesai."
"Tadi katanya di suruh bantu?"
"Nggak, Re. Main lagi sana!"
"Capek, Mbak. Mau istirahat dulu." Rehan duduk di kursi dengan napas yang masih terengah-engah.
"Mbak pasti capek tiap hari masak sama bersih-bersih," ucap Rehan.
"Kata siapa?"
"Nggak ada yang bilang. Cuma, aku lihat Mbak aja udah capek."
"Kan, biar bersih, Re. Kamu harus belajar dari sekarang. Habis SMP Mbak mau ke pondok, lho. Masa kamu mau rumah ini kotor?"
"Mbak jadi mondok?" Rehan terkejut.
"Nggak tahu, Bapak yang minta gitu."
__ADS_1