
Hendra datang dengan sedikit lesu, semalaman dia bahkan tak bisa menyelesaikan pekerjaannya, apalagi ketika Hendra menjemput sang bos, Rena merengek seperti anak kecil agar Marvel libur hari ini.
"Baaaanggg libur ya?..ya?..ya?..."
rengekan Rena dengan mode manjanya, Marvel menatap Hendra seakan memohon, Hendra mendelik spontan.
"udah Rin ya...suami kamu harus kerja!!kamu gak kasihan apa sama om? udah dari semalam om lembur gara-gara suami galak kamu itu!!!"
ucap Hendra dengan ketus nya.
"Tuhh... yang galak om bukan suamiku!!"
cibir Rena melihat Hendra sedang menahan marah agar tak meledak.
Marvel yang merasa tak enak dengan Hendra ikut membujuk Rena, yang terjadi malah bikin pusing mereka berdua, Rena menangis mengatakan kalo Marvel sudah tak sayang lagi! hanya menuruti keinginan istrinya saja dia tidak bisa, begitulah kata Rena sambil menangis, sedangkan sang mama hanya geleng-geleng kepala melihat bagaimana tingkat Rena.
hasilnya seperti sekarang,dengan wajah penuh emosi dan lesu Hendra sampai di kantor seorang diri.
semua karyawan yang akan dilewatinya hampir semuanya menghindar,hawa dingin seorang Hendra terasa sampai bulu kudung mereka merinding.
"pak Hendra serem banget ya hari ini"
"iya...aduuhhh jadi makin cool"
"meleleh sihh tapi serem bangaaett!!!"
begitulah kata-kata yang keluar dari karyawan pengagum Hendra, lelaki itu memang satu dari 3 petinggi perusahaan yang paling di incar oleh para karyawan cewek, setelah Marvel yang sudah menikah dengan Rena, Marcel sang sepupu yang dikabarkan akan melepas masa lajang juga,kini tinggal Hendra yang di sebut mereka calon suami idaman karena masih jomblo.
"Pagi pak!"
sapa Lily sekertaris Hendra.
"kerjakan laporan ini sebelum jam 2 sudah harus selesai! aku akan memeriksa lagi!"
perintah Hendra.
"Iya pak"
Hendra melirik lily dengan heran,tak biasanya dia begitu irit bicara,namun hari ini menjadi sosok yang berbeda.
'ciihh tambah bikin badmood aja' gerutu batin Hendra.
sekitar dua jam kemudian, Hendra di panggil Marcel untuk meeting di sebuah cafe dengan klien menggantikan Marvel.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, selesai dari sana aku harap laporan kamu selesai"
"iya pak"
jawab Lily singkat, hal iti juga tak luput dari pandangan Hendra,dia bener-bener merasa heran dengan tingkah Lily.
'ah sudahlah yang penting kerjaan beres!' batin Hendra.
Lily bernafas lega ketika Hendra keluar dari ruangan mereka, kata-kata Hendra kemarin masih terngiang jelas di telinga Lily,lily yang kala itu akan masuk ruangan Marcel karena ada berkas yang harus ditandatangani Marcel, karena tak melihat Nara sekertaris nya Marcel di luar ruangan, pintu yang sedikit terbuka itu memudahkan Lily untuk menguping pembicaraan Marcel dan Hendra.
"Makanya cari pacar Hen!!"
"kayaknya dari kemarin itu saja yang kamu bahas! mentang-mentang mau kawin!"
"kawin sih udah hen,nikahnya yang belum!!"
"Sialan kamu!!!"
"Kenapa gak ngegebet sekertaris kamu aja hen, Lily juga gak kalah cantik,dia kayak nya juga cewek yang baik!"
"Aku gak suka cewek agresif kayak dia..jijik aku!"
Deg...
Dan mulai saat itu, Lily berjanji tak akan mendekati Hendra lagi,cinta yang dia pendam dan dia pupuk sekian tahun harus dia lupakan begitu saja tanpa sempat berkembang.
Hendra adalah cinta pertama Lily, ketatnya orangtuanya untuk melarang Lily berpacaran membuat dia tak banyak punya teman cowok,hingga saat pertama kali masuk ke Perusahaan itu,dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sosok Hendra.
Fokus!fokus!fokus kerja!! begitulah cara Lily menenangkan hatinya.
karena konsentrasi nya buyar laporan yang diminta Hendra tak kunjung selesai, Lily melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 12.20
"bentar lagi deh...abis itu makan siang!"
ucap Lily sendiri.kemudian terus menyelesaikan pekerjaannya.setelah beberapa saat Lily tetap berkutat dengan file-file dan komputer di depannya, bahkan dia tak menyadari kalo Hendra sudah masuk dan duduk di singgasana miliknya.
Lily melirik kembali jam ditangannya.
"Aduuuhh udah jam 2!!!! kok gak selesai-selesai sih dari tadi hiks....hiks..."
ucap Lily yang akhirnya menangis, meratapi hancurnya kisah cinta yang bahkan belum dimulai ditambah dengan berkas-berkas yang belum selesai.sekali lagi dia belum menyadari keberadaan Hendra yang sudah hampir setengah jam duduk disana dan mengawasi gerak-gerik Lily.
setengah jam kemudian Lily selesai dan tiba-tiba dia turun dari kursinya dan jongkok di bawa,semua itu tak lepas dari mata Hendra, Hendra hanya heran apa yang terjadi pada sekertarisnya itu.
__ADS_1
terdengar suara tangisnya....
"Hiks....hiks....dasar jahat!!! kenapa kamu menyakiti hatiku sedalam ini!!! hiks....hiks..."
ucap Lily, Hendra masih mencoba untuk bertahan di kursinya dan memperhatikan setiap tingkat Lily.
"Kurang apa aku buat kamu!!...kenapa menoleh saja kamu tidak bisa hiks....hiks...."
drt...drt..drt...
bunyi hp Lily,sambil jongkok dia mengangkat panggilan telpon nya,
"Hallo..."
"Lily.....?? kamu menangis?”
"Dinaaa hiks...hiks.... aku sedang patah hati Din....hiks....hiks...!"
karena panggilan mengunakan video call, Hendra bisa mendengar suara si penelepon juga.
"heh!! kamu ngapain jongkok dibawah sana??"
tanya Dina.tak ada jawaban dari Lily yang terdengar hanya suara tangisnya.
"Udah aku bilang Lily!!! lupakan dia,mau sampai kapan kamu mendem cinta sama dia!!
Dia itu batu!! bos mu gak akan pernah ngerti perasaan kamu ly!!"
Hendra yang ikut mendengarkan sedikit kepo, 'bos? lily menyukai bos nya? apa Lily suka dengan tuan Marvel??' batin Hendra, kemudian Hendra mencoba mendengarkan kembali perbincangan tersebut.
"Aku gak bisa lupain dia dengan mudah Din,sakit banget tau gak!! hiks ..hiks... rasanya pengen mati aja Din!!"
"Lily ku yang imut dan cantik!! dengar baik-baik ya ly...lupakan Hendra!!! lupakan Mahendra Sanjaya itu!! dia tidak pernah mencintai kamu ly percuma kamu cinta sama dia selama bertahun-tahun seperti ini!!!"
deg...
jantung Hendra seakan berhenti berdetak,lelaki yang dari tadi dibicarakan nya adalah dirinya sendiri.
Hendra hanya terdiam di kursi nya tanpa bisa berpikir dengan jernih.
suara tangisan Lily semakin kencang dibalik meja kerjanya.kemudian tanpa basa-basi dan yang pasti belum menyadari bahwa Hendra sudah ada disana,Lily keluar dari ruangan itu menuju toilet untuk sekedar memberikan wajahnya.
setelah kepergian Lily, Hendra memegang dadanya sendiri,entah apa yang dirasakan oleh seorang Hendra.
__ADS_1
bersambung