
"Bersiaplah...kita ke rumahku, aku ingin papa dan mama mengenali calon menantunya!" kata Al lalu bangkit dari tubuh Naura.
"Hah?? a-apa??!! maksud kamu Al?" ucap Naura sambil berdiri karena Al juga sudah berdiri di depannya.
"Kita akan segera menikah sayang!" ucap Al sambil membalikkan tubuh Naura, entah mengapa dia lebih suka memeluk Naura dari belakang.
"Ta-tapi Al a-aku....stttttt" ucap Naura namun terpotong dengan gerakan tangan dan bibir Al yang sudah bergerilya kemana mana, Naura mencoba menahan suara laknat yang keluar dari mulutnya.Mulut Al menyesap dan mengigit kecil telinga Naura dan tangannya sudah masuk ke dalam dress dengan kancing depan itu.Entah karena kelicikan dari Al atau memang Naura menyukai setiap sentuhan lembut Aldrich, gini Aldrich sudah mengiring Naura memasuki kamarnya, dengan lembut Al meminta di tunjukkan dimana kamar Naura.
Aldrich yang sudah di penuhi kabut gairah pada gadisnya itu masuk dan mengunci pintu Naura. Dengan lihainya Al memperlakukan Naura hingga Naura tanpa sadar sudah polos begitu juga dengan Aldrich.Setelah selesai dengan pemanasan nya dan saat Al sudah memposisikan Adik kecilnya, Naura tiba-tiba tersadar.
"Al!....jangan!!" ucap Naura sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau milikku Naura!! seutuhnya!! aku tak ingin kau terlepas kembali!"
jlebbb....
"Al......!" pekik Naura merasakan sakit yang luar biasa di bagian intimnya,namun Al dengan sigap mencium bibir Naura agar rasa sakit itu teralih kan. Dengan berirama mereka berdua yang sama-sama merasakan hal pertama kali dalam hidupnya, akhirnya menikmati pergulatan mereka, Aldrich memang suka berganti-ganti pacar, namun belum pernah sekalipun dia mencoba bermain-main di atas ranjang, ini adalah kali pertama untuk mereka.Setelah beberapa saat, Al dan Naura mencapai puncak kenikmatan mereka, dengan posisi masih berada di atas tubuh Naura, Al menciumi pipi, bibir dan wajah Naura yang nampak ingin menangis.
"Naura milik Aldrich Sekarang dan selamanya!!" ucap Al sukses membuat Naura menangis dan memeluk tubuh kekar di atasnya itu.
"Tidurlah!cup.....cup..... nanti sore kita ke rumah papa..okey?" kata Al, Naura hanya bisa diam saja sambil mengangguk.
"Istirahat ya...biar itunya gak sakit kalo di pakai jalan!"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Naura malah menengelamkan wajahnya karena malu ke dada Al.
"Ra.... dengarkan aku! aku melakukannya karena aku cinta sama kamu! aku kesulitan menyakinkan kamu! dengan ini aku akan bisa memiliki kamu selamanya!! maaf ya....tapi aku cinta sama kamu Ra!" entah sejak kapan si pendiam ini berbicara begitu banyak.Sekali lagi Naura hanya bisa mengangguk didada Al.kini Al mengubah posisinya berada di samping Naura dan memeluk gadis bukan perawan itu ke dalam dekapannya.Setelah memastikan Naura tidur, Al merasa lapar dia membersihkan dirinya dan hanya memakai celana panjangnya tanpa kemejanya, dengan bertelanjang dada dia berjalan menuju keluar kamar dan memasak sesuatu yang bisa di makan di sana.
"Aaargghh.......!" teriakan seseorang dari arah kamar sebelah kamar Naura mengalihkan pandangan Al.
"Si-siapa kamu??" tanya Anisa teman se apartemen Naura
"Kamu teman se apartemen Naura?" tanya Al balik
"I---iya... kamu siapa?"
"Al..aku Aldrich!"
Anisa mencoba mengingat wajah si bule tersebut,dan akhirnya dia ingat siapa Aldrich, Anisa bahkan mengamati rambut basah Al, dada yang bertelanjang semuanya memunculkan spekulasi di otak mesumnya.
"Hemmm apa yang kamu pikirkan benar!" kata Al seakan tau isi hati Anisa, dan itu membuat Anisa kaget.
"Apa kamu akan pergi? aku hanya Tak ingin dia malu dan takut kalo kau memergoki dia!"
"Tidak!! aku akan pergi! selamat bersenang-senang!"
sedangkan Martin yang tadi kesal dengan sang istri sudah berada di atas ranjang di sebuah hotel tak jauh dari apartemen Naura dengan mengendalikan sang istri.
__ADS_1
"bang!! sudah...sudah..... abaaaaang!!" ucap Rissa sambil menepuk bahu Martin yang terus memaju mundur kan pinggulnya di atas tubuh sang istri.
"Tidak akan!! kau harus tanggung jawab!" ucap Martin sambil mengubah posisi bercintaa mereka.
Rissa sudah mendesah tak karuan, dan hal itu membuat Martin semakin bersemangat, bahkan ini sudah ke sekian kalinya Martin menghajar istri nya di atas ranjang hotel tersebut.
"Sudah lemes?" dengan tak tau dirinya Martin bertanya pada sang istri yang sedang terkapar di atas ranjang.Merasa tak ada jawaban, Martin tidur di samping sang istri.
"Istirahat lah! kita lanjutkan nanti, aku belum selesai!" bisik Martin namun rasa kantuk mengalah kesadaran Rissa, dia hanya diam saja sambil menyusupkan wajahnya ke dada suaminya.
Di sisi lain, sesi terapi dan pengobatan Agnes berjalan dengan lancar, Agnes bisa mengungkapkan ekspresi wajahnya lebih banyak, tak hanya tersenyum manis seperti biasa menutupi segala hal dengan senyuman nya. kini dia bisa merasa kesal dan bahkan memanyunkan mulutnya kala Lia atau bahkan Randy sendiri yang membuat nya kesal.
tut....tut....tut.....
"Randy?" gumam Agnes yang sedang bersiap-siap untuk bekerja karena dia masuk siang dan kemudian dia mengangkat telponnya
"Halo Ran..ada apa?"
"Maaf apa ini sodara atau teman pemilik ponsel ini, karena aku melihat ini panggilan terakhir nya adalah no ponsel anda!"
"Saya istrinya, ada apa?".
"Tuan ini mengalami kecelakaan di jalan xxx dan sekarang dalam menanganan rumah sakit!"
__ADS_1
"Apa?? tolong share lok rumahsakit nya!!"
bersambung