
Pagi ini Martin terlihat senang, apalagi melihat Rissa yang sedari tadi tidak bangun juga karena kelelahan, ya.. Setelah 3 permainan semalam, nyatanya di pagi buta Martin kembali mengusik tidur istrinya, bahkan Rissa berusaha memberontak akan cekalan tangan Martin. Bukan Martin namanya kalo kalah dari Rissa, dengan segala usahanya akhirnya Martin bisa menambah 2 permainan untuk jatah malam pertama mereka yang baru mereka lakukan setelah hampir satu bulan menikah.
"Rissa.....bangun gak?" ucap Martin
"Gak!!" jawab Rissa
"Aku mau ke kantor ikut Daddy, kamu jangan kemana-mana!! dengar!!" ucap Martin sambil membalikkan tubuh Rissa yang masih polos berbalut selimut itu.
"iya bang!! udah kerja sana hus..hus...hus....!" ucap Rissa dia merasa kesal dengan kekalahan nya semalam.Martin beranjak pergi dari kamarnya dengan senyum kemenangan yang jarang dia tampil kan.
"Lhooo Rissa mana?" tanya sang mommy yang memang berencana mengajak Rissa ke butik hari ini, dia ingin Rissa mulai belajar tentang butiknya.
"Masih tidur Mom!" jawab Martin santai
"Ciihhh...anak dan Daddy sama saja!!" ucap mommy Rena.
"Namanya juga titisannya!!" kata Martin.
"Jangan pake kekerasan Tin!" ucap sang Daddy
"Hemmmm!"
Martin memang menuruni sifat sang Daddy, maka dari itu mereka kandang suka berselisih paham walaupun hanya sebatas bercanda saja, atau kadang kali mereka berdua berebut Rena karena ingin sama-sama mendapatkan perhatian dari Rena. Rena memang terlihat galak jika di luar rumah, terutama di area kerjanya, namun dia sosok yang hangat untuk keluarga nya.
Martin mempelajari pekerjaan kantor dan menjabat sebagai wakil Ceo yang selama ini kosong, dia mulai di hadapan kan dengan berkas-berkas yang menumpuk.
"Selamat pagi tuan!" sapa seorang wanita bersama seorang lelaki.
"Pagi!" katanya dingin dan melihat sekilas.
'Eh buset....dingin amat ya!!' batin Dara
"Tuan perkenalkan saya Dara dan ini adalah Reno, kami di perintahkan untuk ke ruangan anda tuan" lanjut Dara kembali.
Martin Ingat bahwa uncle Hendra akan memberikan dua orang yang bisa di pilih oleh Martin sebagai sekertaris barunya.
"Apa kalian di kirim tuan Hendra?" tanyanya.
__ADS_1
"Benar tuan!" ucap Reno tegas
"Baiklah....kau kembali ke meja mu!" tunjuk Martin pada Dara
"Dan kau!!! atur semua jadwal kerjaku mulai sekarang!" ditujukan pada Reno.
"Baik tuan!" ucap mereka bersamaan dan memutuskan untuk keluar dari ruangan Martin.
"Huuh! akhirnya! selamat ya No, ganteng banget sih!! tapi persis sang papa...dingin dan menyeramkan!!" bisik Dara dan hanya di pandang sekilas oleh Reno.
Sedangkan di rumah besar, Rissa mulai menuruni tangga pelan-pelan, dia terlihat celingukan setelah berada dilantai bawah rumah mewah itu.
"Ada yang bisa di bantu nona muda?" sapa bibi Rani, kepala pelayan di rumah besar itu.
"Eh copot!!" latah Rissa disusul dengan cengiran nya.
"emmmm apa semua orang tidak di rumah?" tanya Rissa
"Ini sudah jam 11 siang Nona muda, semuanya sudah beraktivitas di luar rumah!"
"Apa Nona ingin sarapan?" tanya bi Rani.
"Iya bi....aku lapar semalam aku harus berhadapan dengan singa lapar yang ......ups!" ucap Rissa keceplosan dan langsung menutup mulutnya sendiri.Bi Rani yang mendengar penuturan Rissa hanya bisa geleng-geleng kepala setelah melihat Rissa berjalan cepat mendahului bi Rani karena merasa malu. Selesai makan Rissa tak langsung ke atas dia melihat beberapa pelayan membereskan meja, dan masih ada bi Rani yang setia menantinya.
"Bi apa aku boleh keluar rumah?" tanya Rissa
"Maaf Nona, tuan muda berpesan agar anda istirahat!" ucap bi Rani.
Rissa menghela nafasnya pelan, dia membenturkan kepalanya pelan di meja makan, bi Rani yang melihat nya merasa heran dengan tingkah Nona mudanya itu.
"Apa anda perlu sesuatu Nona?" tanya bi Rani memecah keheningan.
"Boleh aku pinjam ponsel? aku ingin menelpon abang!" tanya Rissa.
"Silahkan Nona!"
tut...tut...tut...tut....
__ADS_1
"Hallo...." saut Martin dingin
"Aku gak ingin es cream!!" ucap Rissa seketika
"Apa maksud mu??" tanya Martin tidak mengerti
"Kau ini dingin sekali sama istri!! aku gak ingin cream!! mending aku di beri coklat panas seperti semalam!" ucap Rissa dengan penuh keabsrudan ala dirinya, bahkan dia tak peduli ada kepala pelayan berada disampingnya.
"Astaga Rissa!!" bentak Martin.
"Kenapa???" tanyanya dengan polos, Martin tak mau menganggapi kegilaan istrinya itu.
"Apa mau mu telpon?" tanya Martin tak mau berlama-lama mendengar ke gesrek an istrinya.
"Bang....aku boleh ke tempat Naura ya?"
"gak!!"
"Abaaaaang..ya...heemmmm?" rengek Rissa dengan manja, bahkan bukan hanya Martin yang terlihat salah tingkah di ruangannya,namun juga bi Rani si kepala pelayan yang sedikit kaget dengan tingkah Rissa.
"Berhenti merayuku Rissa!!!" bentak Martin, dia mulai merasakan hal panas dalam tubuhnya mendengar suara manja istri barunya itu, entah lah sejak kejadian semalam, Rissa seakan menjadi candu untuk Martin, namun tentunya Martin tak akan pernah mengakui nya, Rissa yang bucin akut padanya dan akan terlihat seperti terus seumur hidupnya, begitulah pikir Martin.tunggu!!! seumur hidupnya?? bukannya dia berencana menceraikan Rissa? oohh tidak!!! itu tak akan terjadi! pikir Martin.
"Abaaaaang.....bang ...babang bule cayang!!" rayu Rissa semakin menjadi, Rissa harus bisa keluar dari rumah itu saat ini, dia benar-benar ingin bertemu dengan Naura dan juga Anisa, karena mereka masih belum bekerja karena beberapa saat lalu baru saja wisuda dan tahap mencari pekerjaan, dan sebelum Rissa benar-benar terjun ke butik membantu sang mertua yang sudah bisa di pastikan dia akan sangat sibuk setelah bergelut di dunia itu.
"Boleh?" tanya Rissa lagi, dan Martin hanya diam saja, sungguh Rissa tak tau kalo Martin sudah berusaha menahan hasratnya yang tiba-tiba naik mendengar suara manja sang istri yang terdengar mendayu-dayu di telinga nya saat ini.
"Okey diamnya abang aku anggap boleh!! makasih Abang sayang..emuuaacch!" kata Rissa sambil menutup panggilan dan menyerahkan pada bi Rani kemudian berlari ke atas untuk bersiap.
"Oh astaga!! Nona muda... a-apa ini!!" gumam bi Rani.
Sedangkan di sebrang sana...
"Brengseeek!!!!" umpat Martin sambil melihat ke arah bawah tubuhnya.
"Eh Junior sialan!!! kenapa kau bereaksi!! dia hanya berbicara brengseeek!!! kenapa bereaksi hah???!!'" ternyata Martin mengumpat si juniornya yang bereaksi lebih cepat hanya karena suara manja Rissa. Sedangkan wanita yang tak sengaja membuat sang suami berhasrat di kantor nya itu memang tak menyadari kalo dia dalam bahaya! bisa di pastikan malam ini Rissa akan habis di mangsa si Singa lapar tersebut.
bersambung
__ADS_1