Mr. Galak Suamiku

Mr. Galak Suamiku
Seosan 2 Martin Martinez


__ADS_3

"Permisi......!" ucap seseorang


"Ya....!" tanya ibu dan seketika berbinar melihat siapa yang menyapanya.


"Waahhh mantu idaman!!" celetuk nya ketika melihat tiga lelaki dengan wajah yang aduhai, membuat ibu Rissa khilaf seketika.


Beberapa hari yang lalu.....


"Martin!! dia jalan kamu ketemu Rissa!" ucap Al


"Maksud kamu?" tanya Martin binggung.


"Dia teman kost dan teman kampungnya Rissa, pembantu cerewet kamu itu!!"


"Benarkah?" kata Martin antusias.


"kalo gitu kita temui dia Al, suruh dia antar kita ke kampung nya!"


"Ckck..gak bisa lah!! diam lagi ngambek!"


"Itu tugas kamu!! kamu kan paling pinter kalo soal cewek!!"


***********


"Minggir!" Naura mencoba menghindari Al, entah mengapa hatinya selalu saja berdetak kencang setelah kejadian di apartemen Al kemarin, mereka melewati beberapa jam dengan mesra seperti sepasang kekasih, jujur saja Naura tak mau sampai terpesona dengan wajah dan tingkah laku romantis Al padanya, dia belum siap melayang selama seminggu jadi pacar Al dan merana setelah satu Minggu di putuskan seperti rumor yang beredar di kampus mereka.


"Mau mencoba menghindari aku terus?" kata Al sambil menggenggam tangan Naura dan berlalu dari kampus.


Seperti biasa Naura memberontak tak mau ikut, dan kali ini Martin dan Anzel melihatnya.


"Hai....ehmmm!" sapa Anzel sambil berpikir mengingat nama dari gadis yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Naura! panggil Rara aja?"


"Udah jangan genit matanya!" ucap Al sambil meraih pinggang Naura merapat padanya.


"Ciihhh dasar posesif!?" saut Anzel


"lepaskan Al!!" kata Naura merasa tak nyaman dengan perlakuan Al di area kampus.


"Aku pengen bicara sama kamu! bisa?kita ke cafe di depan kampus!" kata Martin dan mendapatkan anggukan dari Naura.


Dan disinilah mereka sekarang, Naura menceritakan apa yang menyebabkan Rissa pulang ke kampung, dan di pastikan oleh Naura bahwa Rissa tak akan kembali lagi ke kota ini, sepertinya dia juga berencana menjadi TKW, dan parahnya lagi kemarin Rissa cerita kalo dia di lamar oleh seorang ibu di pasar tempat ibunya berjualan tapi calon suaminya itu sedang bekerja di Korea.


"Jadi dia mau di nikahkan?" tanya Martin


"Gak gitu juga! dia baru mau di jodohkan sama anak ibu-ibu itu!" saut Naura yang dari tadi bahunya jadi sandaran kepala Al.


"Gimana kalo kita ke sana? jemput aja dia Tin!" usul Anzel.


"Setuju!! kamu penunjuk jalan ya Ayang?" kata Al.


"Kamu harus ikut!" kata Martin dengan nada galaknya.


"Tin!! jangan galak-galak sama pacarku!!" sentak Al.


"Ciihh dasar bucin!! bentar lagi kalian pasti sama-sama bucin!" kata Anzel yang melihat bagaimana mereka bertiga.


mereka masih membahas bagaimana dan kapan mereka akan bertandang ke kampung Rissa.


Disebuah rumah besar, sedang duduk manis di meja makan siang itu, Agnes menemani sang kakek dan ibu mertuanya makan siang.Randy sengaja menemani Agnes karena mereka akan meminta ijin untuk tinggal di apartemen milik Randy saja, Randy sudah tak merasa nyaman satu kamar dengan Agnes walau pun Agnes selalu tidur di sofa.


"Jadi kamu pindah hari ini?" kata sang mama lembut

__ADS_1


"iya ma, lagian Randy juga udah mulai magang di rumah sakit kan lebih deket dengan apartemen ma!"


Agnes seakan tak rela pergi dari sana, di sini lah Agnes merasa di perhatikan oleh mama Kumala mertuanya, kakek juga sangat menyayangi nya, pergi ke apartemen akan membuat dia kesepian lagi, apa lagi sebentar lagi kuliahnya juga sudah selesai,dia akan sangat bosan karena sering berada di apartemen nantinya, namun Randy tak mau di bantah dan akhirnya mereka sampai juga di apartemen.


"Ini kamar kamu!" kata Randy


"Iya!" Agnes yang memang tau bahwa Randy tak mau sekamar dengan nya santai saja menanggapi perkataan Randy.


"Kita akan hidup sendiri-sendiri! anggap saja kita menyewa rumah bersama!" ucap Randy enteng.


"Iya tenang saja! aku tak akan menganggu mu, okey aku masuk dulu ya!" kata Agnes dengan ceria, memang Agnes selalu terlihat ceria dan ramah pada siapapun, tidak banyak yang tau luka di hati gadis itu, bahkan teman hanya sekedar untuk berbincang saja dia tak punya, dikontak hpnya hanya ada nomor papa,mama dan Vano adik tirinya, jangan di tanya siapa panggilan terakhir dari 3 nomor itu, karena hampir 1 tahun tak ada panggilan masuk pun dari mereka.


Agnes memandang kamar tersebut, disana tidak ada sofa, dan memang kamarnya lebih kecil dari kamar utama.


"Tidak ada sofa? bagaimana aku tidur!"


Agnes keluar dari kamar tersebut dan mengetuk pintu kamar Randy, Randy yang memang mau keluar membuka pintunya.


"Ada apa?" katanya datar.


"Ehhmmm di kamar ku gak ada sofa!" kata Agnes


"Buat apa sofa, ranjang aja cukup kan!" kata Randy sambil berjalan menuju dapur.


"Tapi aku biasa menghabiskan waktuku di sofa, apa boleh aku pinta di beliin sofa? tidak udah terlalu panjang!" kata Agnes mengikuti Randy yang berjalan ke arah dapur.


"Beli saja sendiri!"


Agnes langsung berhenti!! dia tak punya uang untuk membeli sofa, apalagi setelah menikah dia tak mendapatkan uang dari sang papa,dan dari Randy jangan di tanya dia tak mendapatkan nafkah apapun.


"Oohh iya... nanti aku beli, makasih ijinnya!"

__ADS_1


ucap Agnes sambel berlalu ke kamarnya, dia mengigit ujung bibir nya sampai berdarah seperti biasa, menahan tangisnya agar tak pecah.


bersambung.......


__ADS_2