Mr. Galak Suamiku

Mr. Galak Suamiku
Season 2 Martin Martinez


__ADS_3

Sudah satu bulan lebih Martin tak datang ke butik dan juga tak mengaktifkan ponselnya, dia sengaja hanya mengamati mainan barunya dari jauh, Aldrich dan Anzel hanya bisa geleng-geleng kepala, ya.seperti itulah Martin dia suka sekali bermain-main dengan seseorang yang di rasakan mengusik dirinya.


"Apa sih istimewanya tuh cewek?" kata Aldrich.


"Lucu tau dia!" saut Anzel.


"Bodoh! dia bodoh itulah uniknya dia!" kata Martin yang ada di sebrang butik sang mommy.


"turun pamor ku kalo Nesya tau aku jadi penguntit!" ucap Aldrich kesal.


"Kamu pacaran sama dia?" tanya Martin dengan tatapan tajam, dia tidak mau Aldrich terlibat dengan Nesya teman kampusnya yang selalu berpakaian kurang bahan.


"cantik tau dia!"


"Matamu rabun Al!" saut Anzel.


"Diam! jangan dekati cewek itu Al, dia gak pantas buat kamu!"


Akhirnya yang di tunggu datang juga, dia keluar dari butik dan menyebrang jalan menuju sebuah gerobak yang ada di depan mobil Martin.


"Bang gado-gado satu, gak pake lontong, gak pake sambel, gak pake kentang dan gak pake telor!" ucapnya yang masih terdengar dari mobil Martin yang terbuka kacanya.


"Lha neng! beli gado-gado apa beli pecel?" kata si Abang gado-gado.


"Idih turutin aja kali bang! harganya bisa di diskon 50% gak bang? kan banyak yang di skip!" tawar Rissa.


"Emang iklan you tube di skip!" ucap si abang ketus.


"Idiihh galak amat bang! jangan galak-galak bang ntar cepet keriput!"


"Kalo tua mah semua juga keriput neng!" ucap si abang galak.


"Bang... jadi inget sama calon pacar bang kalo galak gini!"


"Hah?? baru calon neng? kasian amat!"


"Iya bang! namanya babang bule!! duuhhh mukanya tuh bang ya..jutek-jutek ngemesin!" Rissa malah curhat, udah satu bulanan dia tak bisa ketemu sama babang bule nya.


"Emang situ di tolak?"


"Belum juga berjuang bang! udah ngilang aja dia!" ucap Rissa memanyunkan mulutnya.


"Berapa bang? jadi diskon gak nih?"


"Iya deh iya bayar 80% aja deh!"


"Asyik... Abang cakep..maksih bang! bisa buat langganan!"


"Ciih mending gak usah langganan kalo belinya minta diskon mulu'" ucap si abang kesel setelah kepergian Rissa.


Di dalam mobil Martin, Anzel tak berhenti tertawa mendengar percakapan Rissa dan abang tukang gado-gado.


"Unik beneran Tin incaran kamu! mau di apain?"


"Aku butuh pembantu baru di apartemen"

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh!" ucap Anzel dan Aldrich bersama an.


Akhirnya sore itu mereka mengikuti pulangnya Rissa ke mana hingga berhenti di sebuah rumah yang nampak seperti kos-kosan. Setelah tau di mana Rissa tinggal Martin dkk langsung meluncur ke apartemen Martin yang kadang dia tempati bersama teman-temannya.


Martin berpikir keras bagaimana caranya biar bisa mulai bermain dengan mainannya tersebut, hingga muncul ide di kepalanya. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


"Mommy.... mommy....." teriak Martin.


"Ada apa sih kok Teriak-teriak?"


"Mommy masih butuh model untuk baju keluaran terbaru mommy?" tanya Martin.


"Kamu berubah pikiran?"


"Yes mom! dengan syarat!"


"Apa?"


"Rissa! pegawai baru mommy yang jadi modelnya juga!"


"Rissa?.... Rissa.....yang mana sayang?" tanya mommy nya.


"Yang jadi asisten mbak Mela!"


"Kamu kenal? "


"Jangan bilang aku anak mommy, bukankah beberapa pegawai mommy saja yang tau kalo aku anak mommy?" bukannya menjawab pertanyaan sang mommy dia malah memberi syarat pada mommy.


"Okey deal!"


"Hanya sekitar 5 orang! di butik mommy hanya ada 10 pegawai dan 2 asisten mommy! yang lain tersebar di beberapa cabang, kenapa?"


"kumpulkan mereka dan berhenti di 5 orang itu saja mom!"


Walaupun heran Renata tetap memenuhi keinginan sang anak asalkan dia bisa menjadikan anaknya model koleksi terbaru nya. Dan benar saja besok paginya Renata mengumpulkan ke 5 orang tersebut dan jangan sampai tersebar ke pegawai lain,l bahwa model kali ini adalah anak Renata sendiri.


"Saya bu?" tanya Rissa heran


"Ya kamu! mau kan?"


"Gak salah Bu! saya jelek lho bu? kulit saya gak secerah model-model itu bu!"


"Justru itu! aku menginginkan kulit sawo matang seperti dirimu itu! lagian tinggi badanmu cukup Ok untuk jadi modelnya"


"Baiklah bu!"


Begitulah perbincangan antara Renata dan Rissa yang di panggil di ruangan kerja Rena.


sambil menunggu si model cowok, Rissa menunggu di meja dengan dua kursi di samping nya.


"Waaah Ris selamat ya kamu terpilih jadi modelnya!" pekik Ayla teman satu pekerjaan yang masuk bersama dirinya dulu.


"Iya tapi kok aku ya! aku jadi merasa cantik sekarang ha ha ha ha ha"


"Kebiasaan deh narsis! udah aku keluar dulu, aku dengan model cowoknya cakep"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Martin masuk dengan gagahnya dan langsung duduk di depan Rissa yang belum menyadari keberadaan Martin.


"Ehem...ehem...." Martin berdehem.


"Babang bule!" teriak Rissa senang.


"Berisik!"


"Duuuh kangen bang! lama gak ketemu! hpnya gak aktif lagi!" ucap Rissa sambil memanyunkan bibirnya.


"Abang kemana aja? pulang ke negerinya ya? kok gak bilang-bilang sih! abang tau sejak kepergian abang adik merasa makan gak enak! tidur gak enak! mandi gak enak! gak enak semua bang!"


"kok bisa?" Martin memicingkan matanya.


"Ya lah gak enak!! orang di omeli terus sama tante Tere Gegana telat bayar kos ha ha ha ha ha ha !"


"Sialan!!"


"Hush...jangan bicara kotor bang! bicara yang lembut-lembut aja sama calon pacar bang!" rayu Rissa, Martin hanya diam saja tak menanggapi omongan Rissa.


"Bang mamanya ngidam apa sih kok gantengnya kelewatan gini?"


tanya Rissa sambil memangku dagunya dengan pelapak tangan kanannya. lagi-lagi Martin diam saja.


"Kalo kita nikah nanti aku pengennya anaknya mirip kamu bang! memperbaiki keturunan maksud aku! mau ya bang? nikah sama aku?"


"Mimpi kamu!"


"Gak papa bang! kata orang, gantungkan mimpimu setinggi langit! kalo kata aku, ku gantungkan mimpiku di hati abang!"


"Pokoknya lope lope deh ama abang aku tuh!! tembak aku dong bang? jadiin aku pacar abang!" ucap Rissa dengan mata berbinar.


"Rissa...." panggil Martin lembut sambil memandang ke arah Rissa, Rissa yang merasa tersipu dengan panggilan Martin.


"Iya bang!" jawab Rissa pelan tak mau merusak momen terbaik tersebut.


"Mau tidak kalo kamu....."


"Mau bang!" potong Rissa.


"Belum Rissa!" ucap Martin lembut.


"Ehh iya bang maaf" ucap Rissa tersipu malu, benar-benar bukan sifat asli Rissa.


"Mau gak kalo Rissa jadi...." Martin menggigit bibir bawahnya.


"Jadi apa bang?" tanya Rissa dengan mata berbinar penuh harap.


"Mau gak kalo Rissa jadi... Pembantu abang!"


"Apa???" ucap Rissa berdiri seketika


Ha ha ha ha ha ha tawa Martin membahana di ruangan tersebut setelah melihat muka bodoh dan merah Rissa.


"Abaaaaang!!!!"

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2