
"Kita nikahkan mereka sekarang!" kata Marvel tiba-tiba.
"Daddy!!!" sentak Martin sambil berdiri mendengar keputusan Marvel sang Daddy.
"Martin Martinez!!! duduk!!" ucapnya penuh penekanan membuat Martin tak bisa berkata-kata apa-apa pernikahan dadakan mereka lakukan di rumah tersebut, baik Martin atau Rissa sama-sama bermuka cemberut, mereka benar-benar tak menyangka akan dinikahkan paksa seperti ini hanya karena kejahilan Martin.
Setelah acara singkat selesai, Marvel undur diri karena seharusnya dia dan Hendra menghadiri meeting di kita sebelah. Naura yang juga datang ke acara pernikahan dadakan Rissa karena mendapat panggilan telpon dari Aldrich dan pada akhirnya ikut kembali ke kota, Setelah berpamitan dengan keluarga nya.
Di dalam mobil, Anzel yang kali ini duduk di balik kemudi hanya diam saja melihat situasi di dalam mobil sangat hening. Martin tak mau duduk sebangku dengan Rissa, Rissa memilih duduk di bagian belakang mobil tersebut sendirian, sedang kan bagian tengah diisi oleh Naura dan Al.
Al terus saja menyandarkan kepalanya di bahu Naura sesekali mencium pipi wanita tersebut.
"Apa kita butuh hotel?" tanya Anzel memecah keheningan.
Al dan Martin menatap dia tajam!
"Apa salahku? kau Al! dari tadi hanya bermanja-manja! cium sana cium sini! dan kamu Tin!! kalian kan pengantin baru barangkali pengen melakukan malam pertama!" ucap Anzel enteng.
"Diam kau Anzel!!! atau kau akan pulang dengan berjalan!" ancam Martin.
"Sa...kamu gak laper?aku ada roti nih!" tawar Naura.
"Laper banget!! tapi pengen menu makanan yang beda!" saut Rissa ketus.
"Pengen makan apa?"
"kepala bule!!" saut Rissa
__ADS_1
"Maksud kamu apa??" tanya Martin yang merasa tersinggung.
"Lhooo kenapa?" tanya balik Rissa dengan nada tak bersalah
"Kamu pengen makan aku!! heh??!!" sentaknya.
"Emang aku kanibal!!" saut Rissa.
"Dasar cewek sialan!!"
"Dasar cowok brengseeek!!"
"Apa kamu bilang??? berani ya kamu bilang gitu sama aku??!" ucap Martin yang nada nya makin meninggi.
"Ya..ya aku berani!! kenapa?? gara-gara kejahilan kamu itu!! aku terjebak pernikahan sama bule gila!!" saut Rissa berapi-api.
Beberapa hari berlalu, Rissa mencoba mencari kerja, Martin pun tak pernah menghubungi wanita yang menjadi istrinya saat ini, dia juga enggan pulang ke rumah utama karena masih kesal dengan sang Daddy yang ikut melancarkan aksi pak Rudi menikahkan Martin dengan Rina.
"Rissa?" panggil seseorang.
"Agnes?"
"Ini benar kamu? hehehe aku senang ketemu sama kamu!" pekik Agnes bahagia
"Kau mau melamar kerja di sini?" tanya Agnes.
"Iya , rencananya sih! kira-kira masih ada gak ya?"
__ADS_1
"Masihlah! ayoo!" ajak Agnes
Akhirnya Rissa di terima kerja di sana, dia menjadi partner kerja Agnes, Agnes ijin pulang karena sudah malam.
Setelah beberapa waktu lalu dia tidur dilantai karena tak tau password apartemen Randy,kini dia tau.
Agnes pulang sudah jam 11 malam karena keasyikan ngobrol dan menemani Rissa dan Lia. Dia tak sadar kalo ada Randy di ruang tamu yang memang terlihat gelap.
"Dari mana kamu?" tanya Randy, dia sebenarnya tau kalo Agnes sering pulang malam dengan wajah lelah dan berantakan.
"Eh kamu belum tidur Ran?"
"ehhmmm dari rumah temen! aku masuk dulu ya Ran!"
Agnes melesat masuk ke dalam kamarnya, Randy hanya melihat punggung gadis tersebut, Randy benar-benar tidak peduli dengan Agnes, bahkan saat ini Agnes yang sudah di DO dari kampus karena tak bisa membayar biaya kuliah, sang mama ternyata tak lagi membayar uang kuliah Agnes selama dua semester, tepatnya setelah rencana pernikahan Randy dan Agnes.Namun Randy tak pernah tau itu, Agnes benar-benar hidup sebatang kara, Vano adiknya kini melanjutkan kuliahnya di luar negri, pergi pun tanpa berpamitan dengan Agnes.
Agnes berulangkali mengintip Randy dari kamar, dia berharap Randy pergi ke kamarnya dan tepat harapan Agnes terwujud karena dia sudah begitu lapar.Agnes segera keluar dan menuju ke dapur, setiap hari Agnes harus berhemat,jika malam hari Agnes lebih memilih makan mie instan karena harus menekan biaya hidupnya, Bu Yuni si pemilik mini market mengijinkan Agnes meminta gaji mingguan, Randy tau di rak dapurnya terdapat banyak sekali mie instan namun lagi-lagi Randy tak peduli, dia hanya makan roti untuk sarapan dan bahkan jarang mengisi kulkas nya dengan makanan.
Agnes memandang mie instan di depannya, sudah hampir seminggu ini dia mengkonsumsi mie instan untuk makan malam, dan sudah tiga hari dia tak naik angkot saat berangkat kerja karena uang yang sudah menipis, memakai dapur Randy untuk memasak saja dia tak berani, dia hanya berani memakainya bila masak mie instan saja.
"Tidak apa-apa nes! nanti kalo gajian kita makan ayam ya?" ucapnya pada diri sendiri.Sambil menyuapi mie instan ke dalam mulutnya, dia kembali mengingat Vano yang dulu melarangnya sering-sering makan mie instan,tapi dulu sekali sebelum dia melihat sang mama mencambuk Agnes dengan mata kepalanya sendiri, Vano sosok yang ceria dan suka bercanda, namun setelah kejadian itu, Vano berubah, dia berubah menjauhi Agnes, bersikap angguh dan galak pada Agnes, Agnes kangen dengan Vano,namun lagi-lagi Agnes bahkan tak tau kalo Vano berada diluar negeri.
"Hiks....hiks....hiks...." inilah yang sering di alami Agnes, tiba-tiba bisa menangis sendiri.Setelah makan mie, Agnes meminum obat anti depresi yang dia beli tanpa rekomendasi dari dokter, dulu pernah ke dokter dan pertama memang membeli karena resep dokter namun semakin ke sini dia membeli sendiri karena tau merk nya.
"Ayo tidur Agnes, besok masih ada hari menanti!" gumam Agnes dan masuk ke dalam kamarnya.
bersambung...
__ADS_1