
Setelah kepergian Rissa, Naura merasa sendiri lagi, beberapa bulan saja bersama Rissa membuat dia nyaman walaupun dulunya mereka bukanlah sahabat waktu SMA namun sekarang mereka sudah bagai saudara sendiri, Naura adalah sosok yang tak bisa mengakrabkan diri pada seseorang, namun Rissa yang ceria dan apa adanya membuat Naura nyaman hingga akhirnya mereka berubah menjadi sahabat.
Sudah hampir seminggu lamanya Rissa belum memberi kabar,hingga saat berada di taman kampus Naura mendapat telpon dari no baru, karena merasa tak kenal Naura mendiamkan saja, hingga beberapa kali ponselnya berdering. Naura akhirnya mengangkat nya.
"Halllo..."
"Raraaaaaaaa!!!!" teriak si penelepon yang tak lain adalah Rissa.
"Rissa!! kemana aja sih! udah hampir seminggu gak kasih kabar!! lupa sama aku??" ucap Naura ketus.
"Hehehehee HP aku di jual sama ibu! buat biaya berobat ayah kemarin! hehehehehe ini pake punya sepupu aku! maaf ya baru kasih kabar, ya mau gimana lagi! aku bantuin ibu jualan di pasar, gara-gara ibu nungguin ayah di rumah sakit.!" ucap Rissa panjang seperti biasanya.
Naura hanya mendengar saja, di berjalan menjadi pohon yang rindang lalu duduk di bangku di bawa pohon, sesekali dia tertawa kecil mendengar cerita Rissa yang berkebun di kampung, menanam banyak sayuran untuk mengisi sore hari nya, karena ibunya menjual sayur di pagi hari, dia mempunyai satu stan toko di pasar besar di kampung nya.
Naura tertawa sendiri dengan ponsel di telinga nya, tak sadar kalo dari tadi Aldrich memperhatikan dirinya, karena fokus dengan ponselnya Naura tak tau kalo Aldrich ada di samping pohon rindang tersebut dan masih bisa mendengar percakapan Naura dengan sang penelepon.
"Kangen tau!!" ucap Naura manja seperti biasa.
"idih baru juga gak ketemu 5 hari ra!" saut Rissa.
"walau cuma 5 hari udah kangen tau!!!" rengek Naura, entah mengapa Aldrich merasa tidak suka dengan perkataan Naura, wanita yang beberapa saat lalu di cium itu , nyatanya benar-benar menjauhinya, bila bertemu pun dia langsung menghindar, mereka memang berbeda jurusan apa lagi Aldrich memang mengambil S2 di kampus itu, sedangkan Naura baru mengambil S1, Aldrich tidak diperbolehkan sang mama untuk meneruskan sekolah di luar negri.
"Ya udah Naura aku pergi dulu ya...kalo ada apa-apa hubungi aku lewat sini dulu ya!" kata Rissa
"okey sayang!"
"Oya..babang bule ada main ke kos gak? secara kan udah hampir seminggu aku gak kerja sama dia!" ucap Rissa
"Gak ada yang ke kos! atau mungkin aku gak tau kali ya, soalnya kan pagi aku kuliah!"
"Ya udah deh!" kata Rissa lesu
"udah gak usah dipikirin, kalo jodoh gak akan kemana!"
__ADS_1
"Bye Naura sayang!!"
"Bye sayang!" tut..... Naura mengakhiri panggilan telepon nya.Saat hendak berdiri dan melangkah pergi seseorang menghadangnya, Naura kaget saat tau siapa yang sedang menghadang jalannya.
"Permisi..." ucap Naura hendak minggir, namun Aldrich si penghadang jalannya menggeser posisinya agar Naura tak bisa pergi.
"Minggir!" akhirnya Naura bersikap ketus.
Aldrich bukannya minggir dia malah menarik tangan Naura menuju ke mobilnya, Naura menolak dan terus berusaha memberontak.
"Aku tak segan mencium mu kalo kau tak bisa diam!" ucap Al entah mengapa dia merasa cemburu mendengar Naura berbicara sayang-sayangan pada seseorang.
karena ancaman Al akhirnya Naura membiarkan saja tangannya di bawa oleh Al dan masuk ke dalam mobil bule pemaksa itu. Dengan cepat Al berlalu dari parkiran kampusnya dan pergi entah kemana membawa Naura.
Hingga di dalam mobil pun tak ada percakapan di antara mereka, Naura masih binggung dengan apa yang dialaminya sedangkan Al sedang meredam rasa cemburunya.
Sampai mereka di sebuah parkiran apartemen.
"Turun!" pinta Al
"Turun! atau aku cium disini sampai kita ketangkep satpam!" ucap Al datar.
"Aku mau pulang!" ucap Naura lagi, Al melihat ketakutan dalam wajah wanita yang ada disampingnya.
'Ohh shit!!! kenapa sih kamu gak bisa jauh dari pikiranku!'
Umpat Al di dalam hatinya, sifat Al hampir sama dengan sang papa Marcel, yang dulu juga memaksa mamanya untuk menjadi kekasihnya namun ternyata lama-lama sang mama juga jatuh hati pada papanya. Al masih memandang wajah Naura, rasa kesal tadi tiba-tiba berubah melihat bagaimana takutnya Naura padanya.
"Aku hanya mau kamu masak buat aku! ini apartemen aku! tenang aja aku bukan tipe lelaki yang suka macam-macam sana cewek kok!"
ucap Al, padahal beberapa waktu lalu saja dia mencium Naura tanpa permisi, sekarang dia bilang buka tipe lelaki yang suka macam-macam, dasar modus si Al!. Akhirnya Naura turun juga, Al dengan entengnya menggandeng tangan Naura menuju ke lift , beberapa Naura mencoba melepaskan genggaman tangan Al, namun nyatanya tangan kekar Al tak bisa di lepaskan begitu saja.
"Masuk.." perintah Al saat Naura berhenti di depan pintu unit apartemen milik Al.
__ADS_1
"Ayoo...." Al menarik tangan Naura.
Naura merasa kagum dengan apartemen mewah milik Al, dia tak menyangka bahwa Al orang yang sangat kaya, dia tau bule satu ini kaya, tapi dia tak tau kalo dia sekaya ini.
Al menarik tangan Naura ke dapur, menunjukkan beberapa bahan makanan yang ada di kulkas, Al memang lebih suka masak sendiri daripada harus makan di restoran.
"Masaklah apapun, aku akan makan apapun yang kamu masak!" ucap Al yang tiba-tiba memeluk Naura dari belakang.
"Lepaskan! tolong!" ucap Naura lirih.
"Al... panggil aku Al!cup......" kecupan mampir di pelipis kanan Naura masih memberontak dia ingin lepas dari pelukan Al
"Siapa yang kamu telpon tadi?" tanya Al.
"Siapa? bukan siapa-siapa!" jawab Naura.
"Aku cemburu Na!" ucap Al sambil mengeratkan pelukannya dan mencium tengkuk belakang Naura, merasa terancam Naura langsung menjawab pertanyaan Al dengan jujur.
"Rissa! sahabat aku! dia pulang kampung! dan gak kembali lagi...aku kangen dia!"
"Rissa?" tanya Al, Al jadi teringat dengan sepupunya Martin yang selama beberapa hari ini uring-uringan karena pembantu nya tak bisa dihubungi dan tak pernah datang lagi ke apartemen miliknya.
"Kamu cinta sama dia?" tanya Anzel yang pusing dengan Martin yang kayak anak gadis PMS, uring-uringan sendiri di apartemen, sampai-sampai teman-temannya jadi sasaran.
"Ya gaklah!!! aku hanya belum puas main-main sama dia!!" begitulah jawaban Martin kala itu.
bahkan secara tiba-tiba dua hari yang lalu, Al dan Anzel di paksa ke club malam menyusul Martin hanya karena sepupunya itu terlibat perseteruan dengan salah satu pengunjung karena mabuk, dia bahkan meranjau tak karuan, memeluk Al dan berkata
"Rissa!! gadis menyebalkan!! kembali kamu!!"
"hanya aku yang boleh membuangmu!!! kau di larang meninggalkan aku dasar gadis cerewet!!!" bentak Martin sambil memeluk Al, dan Al menghempaskan sepupunya tersebut ke sofa apartemen miliknya Martin.
"Menyebalkan!!! kau yang menyebalkan Martin!!" teriak Al.
__ADS_1
bersambung.....