
Brakh!!
"Sialan! Kenapa kalian menghancurkan taman mommy ku!" Andra menyeringai melihat taman bunga kesukaan Unni hancur.
Bahkan tidak ada satu pun pohon bunga yang selamat dari kaki para musuh mereka, bahkan para anggota mereka pun juga ikut berpartisipasi menghancurkannya.
"Kau ini, masih sempat-sempatnya mikirin bunga." Ketus Andre.
Ditempat lainnya, Sandy bersama Varo sudah menghalau berbagai serangan yang ada. Mereka tidak menduga jika jumlah musuhnya begitu luar biasa banyaknya, kini tiga klan telah bergabung.
Para tetua dari klan mereka juga ikut hadir disana, mereka segera datang saat mendengar mansion Azka telah diserang. Bisa dikatakan sebagai reunian diantara tiga klan besar yang ada, sungguh kejutan.
"Hei bocil, kalian ngapain?" Mark dengan mencibirkan bibirnya saat berhadapan dengan si kembar.
"Sembarangan saja bocil, bocil uncle ini sudah bisa mengendong bocil. Jangan salah ya." Andre tak kalah ketusnya.
"Hahaha, teruskan saja. Uncle mau berolahraga sejenak, benar-benar bernyali besar mereka yang menyerang." Mark meninggalkan si kembar .
Tanpa ampun, para tetua yang sedang reunian itu mengeluarkan semua jurus ampuhnya dalam melumpukan musuh-musuh mereka. Jika di lihat dari wajahnya, para tetus tidak akan terlihat menua. Tapi mereka berubah menjadi semakin tampan dan enerjik saat bertarung, tapi itu untuk sesama usianya dengan mereka. Tidak untuk dibandingkan dengan generasi muda saat ini, Sandy yang baru saja tiba segera mencari Varo dan melaporkan sesuatu.
"Ini, tidak ada celah lagi untuk mereka menghindar."
Terlihat dengan begitu jelas, bukti-bukti kuat keterlibatan orang yang begitu Varo percayai kini berbalik arah menjadi penyusup untuk menghancurkannya.
Bahkan Andra, ia juga membantu Sandy secara diam-diam. Lalu ia juga menyerahkan bukti tersebut kepada keduanya, rahang Varo mengeras bahkan saat ini ia bukan terlihat seperti manusia.
__ADS_1
"Kita harus menyelesaikan semuanya ini, manfaatkan kedatangan para tetua kita. Jika dengan ini, para musuh itu tidak sadar diri. Jalan terakhirnya adalah dengan melenyapkannya, itu adalah jalan terakhirnya dan terbaik." Varo menyeringai.
"Andra, beritahu Andre untuk melakukan tugasnya dengan baik. Bila perlu, jangan libatkan daddy. Terlalu beresiko pada umurnya, ayo!"
"Tunggu bang, jangan bilang jika daddy dianggap tuir! Jika dia mendengarnya, aku tidak akan membelamu. " Andra kabur dari hadapan Varo dan Sandy.
Melihat tingkah konyol dari dua saudara ini, benar-benar membuat Sandy sakit kepala. Jika bukan orangnya, ia akan memecahkan kepala kedua orang tersebut.
.
.
.
.
Sudah begitu lama, dirinya tidak melakukan aksi pertarungan seperti saat ini. Sejak putra sulungnya memegang posisi leader, ia terlihat begitu santai. Dan kali ini, ia harus turun tangan sendiri karena untuk menghadapi para pengganggu mansionnya.
"Huh, kali ini aku sadar. Jika usia memang berpengaruh untuk bertarung, apalagi semenjak dokter menyebalkan itu selalu memberikanku obat untuk menurunkan tekanan darah." Kenzo mengeluarkan keluar kesahnya.
"Sudah, namanya juga kita sudah berusia. Bahkan anak kecil yang kita selalu usilin saja sudah menikah." Sanggah Peter yang memang mulai mengurangi aktivitasnya dengan dunia bawah.
"Ya ya ya. Siapa juga yang mencari masalah dengan kita? Rasanya akan aku kuliti mereka satu persatu." Eiger pun ikut mengeluh.
Duduuaarr!!
__ADS_1
Ledakan besar terjadi dari arah luar mansion, tepatnya itu terjadi pada halaman bagian depan mansion megah itu. Semuanya bergerak untuk mengatasi semuanya, dan untuk kedua wanita yang disayang oleh tiga leader klan (Azka, Varo dan Peter). Keadaannya baik-baik saja, bahkan tempat mereka bersembunyi sangat jauh dari sentuhan para penyusup.
"Siapa kalian? Jangan pernah mengusik keluargaku!" Azka menyeringai dan menatam tajam para musuhnya yang kini berhadapan langsung dengan dirinya.
Tidak ada jawaban atas pertanyaan yang Azka ucapkan pada mereka, hanya tatapan yang begitu tajam membalas ucapan tersebut. Hal itu semakin membuat Azka menjadi memiliki kekuatan jiwa dahulu, yang dengan mudahnya menghabisi nyawa orang lain tanpa belas kasih.
"Dad, tunggu!" Andra berteriak dan mengahmpiri Azka.
"Ada apa? Dimana Varo?"
"Tenang dulu dad, coba lihat ini." Azka menerima yang Andra berikan padanya, lalu ia tersenyum dalam seringainya.
Dan itu membuat anggota yang lainnya menjadi merasa penasaran, atas apa yang sudah Azka lihat. Hal apa yang membuat Azka tiba-tiba berubah seperti itu, pasti itu adalah hal yanh begitu serius.
"Sebanyak apapun jumlah kalian, tidak akan pernah membuat kedudukan berbalik. Dan kali ini, kalian terlalu berlebihan dalam membawa jumlah pasukan. Apalagi senjata itu, heh. Sangat ketinggalan sekali dari yang terbaru." Azka semakin menekannkan ucapannya agar musuh mereka masuk dalam permainannya.
Peter dan lainnya pun diberikan informasi yang sama dengan Azka sebelumnya, hasilnya? Sama saja dengan Azka, ingin tertawa tapi mereka tidak ingin menjadi bahan candaan satu sama lainnya. Terlalu gegabah mengambil keputusan, tanpa mengingat jika mereka mempunyai keponakan yang kemampuannya melebihi dari Kenzo, David dan juga Ady.
"Kalau seperti ini, lebih baik aku minum teh saja dengan kakak ipar." Mark yang ikut serta mulai berulah.
Plak!
"Jaga mulutmu!" Azka menggeplak kepala Mark.
"Ish! Merusak suasana saja." Tanpa pergerakan apapun yang membuat curiga, Mark mendahului serangannya.
__ADS_1