
" Ada apa sih, tumben mommy ngajakin kumpul." Andra kembali bertanya.
Sedangkan Varo yang sudah berada disana menjadi diam seperti balok kayu yang begitu datar, sedang Andre. Anak itu bersikap seperti biasa, cuek dan acuh.
"Dad, memangnya ada apa dengan mommy?" Andre tertarik saat Azka tiba disana, tanpa mommy mereka bersamanya.
"Daddy tidak tahu, sepertinya akan ada sejarah untuk hari ini." Azka memilih menyandarkan tubuhnya dan menutup sejenak kedua matanya yang lelah.
"Jangan-jangan, abang mau menikah ya." Tebak Andra dengan polosnya.
Brugh!
"Diam!" Bentak Varo kepada Andra setelah melempar bantal sofa kepada adiknya.
"Dimana Andre?" Kedua mata Azka tidak mendapati putranya yang selalu mempunyai catatan.
Kedua putra Azka menggerakkan bahunya, sebagai tanda tidak tahu. Tak lama kemudian, orang tersebut yang baru saja dibicarakan masuk dan duduk tanpa terlihat bersalah. Para pria tersebut duduk dalam diamnya masing-masing, mereka masih menunggu pemeran utamanya.
Tidak lama menunggu, kehadiran pemeran utama dalam ruangan tersebut telah hadir. Memutar kedua mata untuk meng absen setiap wajah yang berada disana, lalu terdengar hembusan nafas berat yang cukup lama.
__ADS_1
"Jika Andre tidak ada, maka kalian semua akan menerima hukuman dari mommy." Suara itu terdengar sangat tegas, menyatakan ketiga pria disana menjadi merinding.
Seketika semuanya menjadi mengkerutkan keningnya, walaupun ada rasa penasaran yang cukup besar. Azka langsung mengambil ponsel miliknya dan menghubungi orang yang menjadi sumber kemarahan wanitanya, namun panggilan itu tidak mendapatkan respon.
"Kemana anak itu, Astaghfirullah." Azka mengusap wajahnya.
Terdengar derap langkah cepat seperti orang yang sedang berlari, sehingga muncullah orang tersebut.
"Mom, dad. Sorry telat." Dengan nafas yang masih tersendat-sendat, Andre masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tidak ingin berlama-lama, setelah semuanya hadir disana. Unni menatap satu persatu wajah pria yang sudah mengisi hidupnya selama ini.
Ketiga putranya saling bertatapan satu sama lainnya, mereka tidak mengerti akan apa yang dikatakan dan ditanyakan oleh mommy nya.
"Mom, apa maksudnya?" Azka mendekatkan dirinya, namun Unni dengan cepat membatasinya.
"Kalian benar-benar tidak ada yang ingin mengatakannya pada mommy?" Kembali Unni mempertega ucapannya.
"Tapi mom, kita semuanya tidak tahu apa maksud yang kamu katakan. Untuk berkumpul disini, aku juga tidak tahu sayang maksudnya." Azka menghela nafas untuk meredakan emosinya.
__ADS_1
Ingin rasanya Azka melampiaskan amarahnya atas keadaan saat ini, jika bukan istrinya. Orang tersebut sudah dipastikan akan berakhir dengan nyawa yang tidak utuh lagi, benar-benar membuat Azka harus bisa mengatur emosinya.
Dan ketiga anaknya, mereka masih bungkam dan juga tidak tahu harus mengatakan apa. Sang mommy terlihat begitu serius saat membahas semuanya ini, tidak biasanya.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Unni merasakan kesabarannya sudah mulai menipis. Berulang kali beristighfar di dalam hatinya, membuat Unni harus menyelesaikan semua yang menjadi ganjalan pada dirinya beberapa hari ini.
Meletakkan barang-barang yang ia temukan dari tiga kamar putranya, kedua matanya kini berembun yang siap untuk meneteskan air tersebut. Dalam diamnya, berharap kebenaran dan kejujuran akan ia dapatkan.
"Kalian menyembunyikan apa dari mommy? Apa selama ini mommy mengajarkan kalian untuk berbohong?!"
"Mom." Azka tidak tahan melihat wanita yang ia cintai meneteskan air matanya, hati seakan hancur.
"Tetap diam ditempat kalian semuanya, selama ini. Mommy selalu percaya pada kalian semua, tapi apa yang mommy dapatkan." Ucapan itu melemah, hatinya tidak tega untuk melampiaskan semua yang ia rasakan.
Semuanya masih dalam diamnya masing-masing, berada di antara kebingungan atas apa yang di ucapkan oleh Unni ataupun yang lainnya. Sehingga membuat ketiga putranya masih memilih diam.
Rasa sesak Unni rasakan, karena putranya sendiri dan suaminya memilih diam daripada menjelaskan kepada dirinya atas apa yang mereka tutupi dari dirinya.
Mengeluarkan satu persatu barang yang ia temukan ke atas meja kerja suaminya, memperlihatkan kepada ketiga putranya atas barang tersebut. Sontak saja ketiganya menjadi kaget dan tidak menyangka, benar-benar kali ini mereka dalam posisi yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Belasan tahun, bahkan puluhan tahun semuanya kalian simpan begitu rapi. Sangat bagus sekali, mommy kecewa pada kalian semuanya." Unni menghapus air yang membasahi wajahnya dengan cepat, lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut.