Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
94.


__ADS_3

Menyatakan perasaannya yang sesungguhnya kepada Aira, Varo benar-benar memikirkan apa yang menjadi nasihat dari mommy nya.


"Emh, sebelumnya saya mohon maaf tuan. Saya sangat sadar diri akan semuanya, terima kasih atas hal ini. Tapi, hidup kita sungguh sangat berbeda, lebih baik. Anda mencari wanita lain yang benar-benar sepadan dengan kehidupan serta keadaan anda." Menundukkan wajahnya, Aira merasa jika saat ini dirinya sedang terpojokkan oleh keadaan.


"Tidak, tidak ada yang seperti itu! Apa maksudmu mengatakan kita tidak sepadan?" Varo langsung bangkit dan berhadapan dengan Aira.


Masih dengan wajah yang tertunduk, Aira berusaha menahan air yang sudah menumpuk di sudut matanya. Jika bukan karena keadaan, ia tidak berada dan berdiri diperusahaan tersebut.


"Jawab?! Masih punya mulut untuk bicara!" Tegas Varo dengan egonya.


Suasana berubah menjadi begitu mencekam, dimana sebelumnya sangat romantis dengan hiasan yang mendukung. Namun, Aira tetap saja terdiam dengan pemikirannya sendiri.


"Jawab!!" Kali ini nada ucapan Varo begitu tingginya, membuat Aira tersentak kaget.


Perlahan kaki Aira mengambil langkah mundur dari posisinya saat ini, ia mengangkat wajahnya dan memberanikam diri untuk menatap Varo. Dimana pria itu sudah dalam keadaan yang sangat emosi, tatapannya pun sangat tajam.


"Aku tidak pernah mendapatkan kekalahan, kau tahu akan maksudku kan?" Dengan wajah yang sangat dingin, Varo mengerang seakan-akan sedang berhadapan dengan seorang musuh.


"Anda sudah tidak waras! Karena anda tidak pernah berada di posisiku!!" Teriak Aira yang sudah tidak dapat membendung perasaannya, sakit dan hancur.


Berbalik arah, Aira segera berlari untuk membuka pintu. Ia merasa jika saat itu harus segera pergi, karena berlama-lama disana akan membuat dirinya menjadi semakin hancur.

__ADS_1


"Berhenti! Jangan memancing amarahku, Aira!!"


Tidak memperdulikan apapun yang di ucapkan oleh Varo kepadanya, Aira tetap pada keputusannya untuk segera pergi. Dadanya terasa sesak, bahkan untuk menarik nafas pun sudah begitu sulit.


"Aira!!"


Mendapati orang yang ia sebut namanya tidak menanggapi apa yang sudah ia ucapkan, membuat emosi Varo meninggi. Langkah lebarnya mengejar wanita tersebut, dengan cepat ia dapat menangkap lengan Aira dan mencengkramnya dengan sangat kuat. Hal itu membuat Aira meringgis dan kaget, rasa sakit pada lengannya membuat ia sadar jika dirinya belum terbebas dari hadapan pria kejam itu.


"Jangan pernah memancing emosiku! Kau tahu itu, bahkan saat ini aku bisa saja membunuhmu!" Tegas Varo dengan menatap Aira.


Tubuh Aira bergetar hebat, rasa takut serta tekanan yang ia dapatkan. Membuat dirinya tidak memiliki kekuatan apapun, ditambah hancurnya perasaan akan kondisi saat ini.


Cengkrama pada lengan Aira semakin kuat, bisa dipastikan jika saat itu lengannya sudah memar. Berteriak meminta tolong juga percuma saja, karena ruangan tersebut kedap suara. Air matanya bahkan tidak bisa berhenti mengalir, terjebak dalam situasi yang tidak pernah ia pikirkan.


Perlahan memberanikan diri, Aira mengangkat wajahnya dan menatap Varo.


"Bunuh saja jika anda menginginkannya, tuan."


Rahang Varo mengeras, terdengar suara gesekan dari giginya yang menimbulkan suara. Dan itu membuat Aira semakin ketakutan, namun ia juga sadar akan ucapannya kepada Varo.


"Heh! Kau meragukanku, hah!! Maka nikmatilah akibat dari ucapanmu itu!"

__ADS_1


Brakh!


Begitu mudahnya Varo menghempaskan tangannya, dimana membuat Aira terhempas cukup kuat dan menghantam lemari kaca pada salah satu sudut ruangan. Kaca pun pecah berserakan dan tubuh Aira jatuh diatasnya, merasakan sakit pada sekujur tubunnya kala itu membuatnya tidak bergerak. Memasrahkan diri, jika nyawanya hilang disaat seperti ini.


"Aku hanya membutuhkan penjelasan atas ucapanmu, tapi kau keras kepala!" Varo mencengkram rahang Aira dan tidak sadar menekan kepala Aira.


Dan Aira, disaat Varo menekannya. Kepalanya berdenyut dengan begitu kuat, merasakan jika sesuatu telah menusuk kepalanya bagian belakang. Saat mulutnya akan berteriak, tangan Varo semakin kuat mencengkram rahang wajahnya dan juga menekan kepalanya.


Aira hanya bisa memejamkan kedua matanya, berusaha memberontak disaat tubuhnya kehilangan kekuatan. Kedua tangannya menahan tangan Varo tersebut, namun apa daya kekuatan yang ia miliki saat itu benar-benar tidak seimbang.


Tenaga yang Aira punya perlahan melemah, kedua tangannya bahkan sudah tidak bisa menyentuh tangan Varo lagi. Terasa kepalanya basah oleh sesuatu, dan kini. Ia benar-benar kehilangan semua kesadarannya, kedua tangannya pun sudah mendarat dengan sempurna disamping Varo.


"Buka matamu! Bahkan membunuhmu saat ini, akan aku penuhi! Jika tidak ingin, maka katakanlah." Varo masih teguh pendiriannya untuk mendapatkan penjelasan dari Aira mengenai kalimat 'tidak sepadan'.


Tidak mendapatkan pergerakan apapun dari Aira, perlahan membuat Varo menurunkan egonya. Tangannya melepas cengkraman pada wajah Aira, dan wanita itu masih tidak bergerak.


"Hei, buka matamu! Jangan coba-coba membodohiku, Aira!"


Wajah Varo berubah menjadi panik, dan kedua matanya menangkap sesuatu yang mengalir dari bagian kepala Aira. Seketika tersadar, Varo menarik kepala Air dan ia letakkan pada lengannya. Tempat dimana kepala Aira berada sebelumnya telah berubah warna menjadi merah, Varo langsung meletakkan telapak tangan kanannya pada bagian belakang kepala Aira.


"Ti tidak, Aira! Buka matamu, Aira!" Varo mengguncang wajah dan tubuh Aira untuk menyadarkannya.

__ADS_1


Hal tersebut tidka berdampak apapun pada Aira, wajah wanita itu mulai berubah menjadi pucat, tangan Varo semakin merasakan jika darah dari kepala Aira terus mengalir. Segera ia membawa Aira ke dalam dekapannya, berlari ke luar ruangan dimana semua perhatian dari para karyawan yang sedang beraktivitas tertuju pada mereka.


__ADS_2