Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
46.


__ADS_3

Unni menatap wajah suaminya yang terlihat begitu lelah, entah apa yang telah dilakukannya. Kebersamaan mereka yang terbilang rumit untuk katakan, dan kini. Tugas meraka untuk menciptakannya menjadi lebih baik, pertemuan singkatnya membuat mereka kini bersatu.


"Aku tidak tahu seperti apa dunia yang kamu katakan, tapi aku harap. Dirimu bisa menjadi lebih baik dan menjadi imam dalam keluarga kecil kita nantinya, biarkan waktu yang bisa membuat diriku memahamimu. " Ucap Unni dengan sangat perlahan saat bangun dari tidurnya.


Berjalan perlahan menuju kamar mandi dan menunaikan kewajibannya, meneruskan dengan tilawah yang sangat memberikan ketenangan pada hatinya.


Tanpa Unni sadari, jika Azka telah mendengar semuanya yang ia katakan. Berpura-pura masih dalam keadaan tertidur, yang dimana membuat Azka dapat merasakan sisi lain dari istrinya.


Menatap setiap pergerakan dari Unni, hingga saat ia menyelesaikannya. Dimana, hal itu membuat Unni merasa sedikit malu.


"Sudag bangun, hubby?" Sambil melipat semua peralatan yang digunakan, lalu Unni menghampiri Azka.


"Hem." Senyuman hangat di pagi hari, membuat semangat untuk orang yang disayang.


Memberikan segelas air putih untuk diminum oleh Azka, lalu mereka melanjutkan dengan obrolan pagi.


"Nanti, kamu ikut bersamaku ke perusahaan." Merangkul tubuh mungil itu ke dalam dekapan dada bidangnya Azka.


"Memangnya ada apa?"


"Akan aku perkenalkan dirimu sebagai nyonya Azka, sayang."


"Hem, rasanya itu tidak perlu hubby. Itu akan membuat para penggemar menjadi kecewa, sejujurnya. Aku kurang nyaman untuk bertemu dan dikenal oleh orang banyak." Alasan itu memang Unni rasakan.

__ADS_1


"Berikan alasan yang tepat, hem."


Tidak bisa dipungkiri, jika seseorang yang sudah menjadi pusat perhatian orang lain akan membuatnya merasa tidak nyaman. Apalagi jika itu berhubungan dengan seorang Azka, bagi Unni. Peristiwa dimana ia saat itu berada di mansion sang kakak, membuat trauma tersendiri dalam dirinya.


"Tidak ada alasan yang tepat, hubby. Aku hanya merasa kurang nyaman, maaf jika itu semuanya membuatmu kecewa." Unni takut jika Azka akan marah karena dirinya tidak menuruti apa kemauan dari dirinya.


"Tidak sayang, rasa bersalahku akan bertambah besar jika melakukan hal seperti itu lagi." Azka sudah mulai menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Unni.


"Idih, bersalah. Dulunya saja suka bener Marah-marah sama aku, sekarang kebaikannya. Kamu aneh, hubby." Unni sudah merasakan pergerakan aneh yang Azka berikan.


"Hahaha, itu kan dulu sayang. Sekarang kan jauh berbeda, kamu adalah segalanya. Terima kasih." Memberikan kecupan singkat pada kening Unni, membuat Azka memberikan gerakan lainnya.


"Sama-sama hubby, tapi..."


Azka sudah menyerangnya dengan pergerakan aneh tersebut, dimana membuat Unni menjadi tidak berdaya dan mengikuti pergerakan tersebut. Terjadilah olahraga di pagi hari, yang membuat seorang Azka dan Unni mengeluarkan keringat cukup banyak.


"Sayang, nanti akau kan pulang larut. Tidak perlu menungguku untuk beristirahat." Azka menikmati sarapannya.


"Tanpa kami bilang juga, aku akan lakukan hubby. Rasanya pegal-pegal semuanya karena ulahmu."


"Hahaha, itu adalah olahraga yang menyehatkan sayang." Sungguh cerianya pagi hari ini, tawa Azka membuat seluruh penghuni mansion menjadi bahagia.


Sruht!

__ADS_1


"Arkh! Kenapa dicubit?" Azka segera mengusap lengannya yang merasakan nyeri.


"Jangan terlalu mengumbar perkataan, nanti bisa merusak telinga yang lainnya." Unni melotot kepada Azka.


"Hahaha, iya iya. Aku berangkat sayang, jaga diri dimansion. Jika perlu beristirahatlah dengan baik, karena kita akan terus berolahraga."


Pukh!


"Hahaha."


Perkataan Azka membuat wajah Unni memerah, ia memberikan sedikit pukulan pada bahu suaminya itu. Dimana Azka tertawa dengan begitu lepas, lalu Unni menghantarkannya sampai pintu utama.


Mencium punggung tangan kanan Azka, dan tiba-tiba saja ponsel Azka berbunyi. Saat melihat siapa pelakunya, raut wajah Azka seketika berubah.


"Hem, ada apa?" Jawab Azka dengan cepat.


"..."


"Tunggu disana, lakukan yang seharusnya kalian dahulukan." Lalu Azka memutuskan pembicaraan tersebut.


"Hubby." Usap tangan mungil Unni pada bahunya.


"Ada sedikit masalah dimarkas, nanti akan aku ceritakan. Masuklah." Ucapan Azka terdengar begitu dingin di telinga Unni.

__ADS_1


Segera saja Unni masuk ke dalam mansion, melihat Azka dari balik jendela yang sedang mengobrol pada Kenzo dengan begitu serius. Detak jantung Unni terasa sangat cepat, ada rasa khawatir yang menyerang dirinya.


__ADS_2