Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
12.


__ADS_3

"Selamat pagi Ni, tumben kesiangan?" Fahry yang bertemu Unni saat akan masuk ke dalam lif.


"Assalamu'alaikum, seperti biasa kak. Busnya kelamaan istirahat." Jawab Unni dengan senyuman.


"Hahaha, kamu bisa saja. Gimana jadi aspri (asisten pribadi) tuan Azka?"


Mendengar nama itu disebut, membuat Unni mengehela nafasnya yang berat. Tidak ingin rasanya menjawab pertanyaan itu, perubahan posisi pekerjaan secara tiba-tiba membuatnya serba sulit untuk mengambil suatu keputusan.


"Ya, seperti itulah kak."


"Jalani saja, jangan lupa berdoa biar sifat dingin dan kerasnya sedikit mencair. Semangat!" Fahry memberikan motivasi kepada Unni untuk bekerja.


Berpisah pada saat lif terbuka, membuat Unni bersiap untuk menghadapi pekerjaannya pada hari ini. Saya membuka pintu ruangan, alangkah kagetnya ia melihat jika Azka sudah berdiri menunggunya dengam berkacak pinggang. Unni merasakan aura yang tidak baik, mengucapkan istighfar dalam hatinya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi tuan." Menyapa Azka.


"Duduk!" Bentak Azka.


Tidak ingin membuat situasi menjadi semakin runyam, Unni segera duduk dan diam. Terlihat sekali jika raut wajah Azka sedang terselimuti dengan amarah.


"Kenapa diam? Sedangkan dengan pria lain, kau terlihat begitu senang berbicara padanya." Azka masih bertolak pinggang dihadapan Unni.


...Apa maksudnya berbicara seperti itu, aku hanya bertemu dengan kak Fahry saja tadi. Mengobrol pun sekadarnya, atau Jangan-jangan......


"Hei!"


"Astaghfirullah, bisa jantungan ini." Unni kaget dengan suara Azka.


"Jawab, kenapa? Tidak berani menjawabnya, iya." Kembali Azka mengeluarkan suara yang sangat tinggi.

__ADS_1


"Huh, saya harus menjawab apa? Anda dari tadi terus berbicara dan tidak memberikan saya kesempatan untuk menjawab."


"Beraninya, kau..." Azka menarik tangan Unni dan mendorongnya hingga bertabrakan pada dinding.


Tidak tahu apa yang ada dipikiran Azka, ia begitu tersulut amarah saat melihat Unni berbicara pada pria lain didalam lif dan tersenyum. Sedangkan pada saat bersamanya, Unni bahkan hampir tidak pernah tersenyum.


"Tu tuan, lepaskan." Unni memberontak atas sikap Azka yang sudah menahan dirinya.


"Mmpphh..."


Serangan yang Azka berikan benar-benar membuat Unni tidak habis pikir, pria itu kembali melakukan hal yang tidak ia inginkan. Untuk menggerakkan kaki dan tangan saja, ia tidak bisa. Air matanya kembali menetes, dengan perlakuan Azka padanya.


"Hah hah, aku tidak melihatmu berbicara lagi seperti tadi. Atau, aku akan menghukummu." Melepaskan serangannya, Azka seakan-akan mengatakan jika Unni adalah wanitanya.


"Hiks hiks, ap apa yang sudah anda lakukan? Ini benar-benar membuat saya terhina bahkan ternodai, anda sangat tidak patut disebut manusia!" Bentak Unni yang sudah begitu hancur.


Menatap dalam diam pada Unni, ada perasaan yang sakit saat melihat wanita itu menanggis. Namun karena rasa ego yang cukup tinggi, membuat Azka tidak memperdulikannya.


"Saya berhenti dari perusahaan anda, harga diri dan juga kehormatan saya tidak bisa anda perlakukan seperti ini." Unni bergegas berjalan dan menjauh dari Azka.


Mendapati Unni yang menjauhinya, ingin rasanya Azka menarik dan membawanya kedalam pekukannya. Akan tetapi, Unni bukankah wanita yang seperti itu.


Tidak ada usaha Azka untuk menahan ataupun mengejar Unni, ia hanya terdiam dan hanya bisa menatap kepergian wanita tersebut. Berjalan menuju kursi kerjanya, menghempaskan tubuhnya disana. Kedua mata tertutup, bayangan rasa bersalah itu sangat besar.


"Kenapa aku menjadi kelepasan seperti ini? Hah, ada apa ini. Apa aku menyukainya?" Azka berbicara sendiri.


Merasa sudah sedikit lega, Azka menghubungi Kenzo. Untuk mempersiapkan sesuatu yang akan ia lakukan di markas miliknya, menatap sejenak tempat yang biasa digunakan Unni saat bekerja, lalu Azka bangkit dan pergi dari ruangannya.


Dalam perjalanan menuju markasnya, tidak sengaja ia melihat Unni yang sedang duduk di sebuah taman perkotaan. Wajahnya terlihat begitu sembab, hal tersebut semakin membuat pikiran Azka sangat kacau.

__ADS_1


"Tuan, itu seperti nona Hafsah?" Ujar Kenzo yang juga mendapati keberadaan Unni.


Pandangan mata Azka mengikuti petunjuk dari Kenzo, benar adanya. Unni duduk disana dengan keadaan yang cukup kacau, Azka langsung membuang mukanya.


"Jalan saja." Jawab Azka dengan sangat dingin.


Kaget, itulah yang Kenzo rasakan saat mendengar ucapan Azka. Padahal pria itu memberikan perintah padanya untuk mencari data informasi mengenai Unni, Kenzo berkeyakinan jika Azka mempunyai rasa pada Unni.


"Baik tuan." Mengalah dan kembali fokus mengemudi.


Tiba di markasnya, Azka langsung masuk ke dalam dan meminta pada David untuk menyiapkan tawanan yang mereka tanggap semalam. Tawanan itu telah membuat kekacauan dalam lingkungan bisnis gelap miliknya, aneh. Itulah yang David tanggap dari sikap Azka, dimana biasanya ia akan menyerahkan pada Peter dan lainnya untuk memberikan hukuman.


Tanpa menunggu lama, Azka berjalan dengan sangat cepat menuju ruangan yang sudah dipersiapkan oleh David sebelumnya. Mengambil benda yang selalu ia gunakan saat memulai aksinya, sebuah pisau kecil yang begitu tajam.


Sret!


"Arkh, tidak!" Suara teriakan oleh orang yang terkena benda kecil tersebut.


Seakan tiada hentinya, Azka terus memberikan benda kecil itu untuk terus menyentuh tubuh pria yang kini menjawa tawanannya. Pria itu merupakan mata-mata yang dikirimkan oleh rivalnya, namun belum saja aksinya dilaksanakan. Ia sudah ditangkap oleh anggota Red Dragon, mengintrogasinya tidak membuahkan hasil. Orang tersebut benar-benar anggota yang sangat setia pada tuan dan juga kelompoknya.


"Bo**h! Bahkan nyawamu saja tak bernilai, masih saja melindungi be***h sialan itu." Azka merutuki tawanannya yang setia tidak membuka suara mengenai siapa nyang mengirimnya.


Dengan tidak berdaya, orang tersebut masih bernafas. Namun amarah yang sudah menguasai diri Azka, tanpa ampun ia mengayunkan benda kecil itu dan berakhir pada dada kirinya. Sedikit menggerakkannya seperti memutarkan payung, pria itu tewas.


Menyapu keringat pada keningnya dan menghempaskan tangannya, terlihat begitu amarah yang dominan pada diri Azka. Melemparkan benda kecil itu pada David, meninggalkan begitu saja tempat tersebut tanpa mengucapkan sesuatu kata apapun.


"Ada apa dengannya?" David bertanya kepada Kenzo.


"Entahlah, aku tidak berani berargumen apapun." Kenzo berjalan menyusul Azka yang sudah terlebih dahulu pergi.

__ADS_1


Menatap keduanya yang semakin menjauh, kening David berkerut dengan sangat banyak. Memikirkan apa yang sudah membuat seorang Azka seperti saat ini, sungguh aneh baginya.


__ADS_2