
"Baron membuat ulah lagi, dan kau harus bersiap untuk menghadapi wanita itu." Kenzo berbicara dengan melajukan mobil yang ia kemudikan.
"Tidak ada yang harus aku hadapi, biarkan saja dia. Jika sudah saatnya, aku sendiri yang akan memusnahkannya. Dimana letak lokasinya?" Azka menanyakan tempat dimana Baron membuat Ulah.
"Negara dimana Ady berada, dia sudah membuat langkah untuk mengacaukan pergerakan mereka. Sayangnya, Peter menghilang."
"Apa yang dia lakukan sebelumnya?" Azka mengkerutkan keningnya saat mendengar Peter menghilang.
"Jenie, wanita itu menjebaknya."
"Sudah kuduga." Azka mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
Perjalan mereka munuju markas tertunda, Kenzo mengalihkan tujuan mereka kembali ke perusahaan. Kenzo sempat merasa bingung dengan keputusan Azka untuk kembali ke perusahaan, dan benar adanya. Saat mereka tiba, ada sebuah kekacauan yang terjadi.
Dari lobby pun terdengar krasak krusuk para karyawaan yang membicarakan sesuatu, saat Azka berdiri diantara mereka. Suasana tiba-tiba saja langsung hening, para karyawaan semuanya menunduk dan tidak ada yang berani menatap Azka kala itu.
"Ada apa ini?!" Suara Kenzo menggelegar bak petir.
Semuanya masih diam dan menunduk, sesuatu yang cukup janggal mereka berdua rasakan.
Pintu lif terbuka, Jihan dengan tergesa-gesa berlari menghampiri Kenzo dan Azka. Dengan nafas yang masih terputus-putus, Jihan ingin mengucapkan sesuatu yang sangat penting.
"Tu tuan tuan Azka, di di ruangan anda. Ada ne nenek share lok, eh nenek sihir."
"Nenek sihir? Siapa?" Kenzo penasaran.
Tapi tidak untuk Azka, ia terlihat masih cukup tenang dan berjalan menuju lif. Kenzo pun mengikuti langkah itu dan disusul oleh Jihan yang masih mengatur nafasnya, saat tiba ditempat yang mereka tuju.
__ADS_1
"Itu tuan, cantik-cantik tapi kayak nenek sihir." Jihan bergidik merinding.
Ketika Azka akan masuk ke dalam ruangannya, keluarlah Fahry dari dalam sana. Dalam keadaan yang cukup mengenakan, wajahnya hampir babak belur.
"Aduh, Syukurlah anda sudah datang tuan." Fahry langsung berlindung di balik tubuh Azka.
"Kalian tunggu saja disini, jangan biarkan ada yang masuk. Kenzo, ayo." Azka berjalan masuk ke dalam ruangan miliknya dan Kenzo menutup pintu dengan rapat.
Terlihat seoarang wanita yang sedang duduk cukup manis pada kursi kerja milik Azka, keadaan ruangan tersebut cukup berantakan.
Melihat kedatangan Azka, membuat wanita tersebut segera berdiri dan menghampirinya. Namun apa yang terjadi, saat tubuh wanita itu akan menempel pada Azka. Dengan cepat kaki jenjang itu menendangnya, tubuh kecil itu ikut terhempas.
Brugh!
"Aargh!" Wanita itu adalah Jenie, kini ia mengerang kesakitan.
"Azka, kenapa kamu menendangku? Ini sangat sakit sekali." Keluh Jenie agar mendapatkan perhatian dari Azka.
Namun pria yang namanya selaku Jenie sebut, tidak memberikan reaksi apapun. Terlihat Azka menaikan alis matanya sebelah kanan, dan memiringkan sedikit kepalanya.
Sedangkan Jenie, ia merasa mendapatkan tatapan dari Azka. Segera ia berdiri dan kembali mendekatinya, namun Lagi-lagi Azka menggerakkan kakinya yang dimana kali ini membuat Jenie kembali terhempaskan dengan cukup keras.
"Argh!!" Dalam keadaan tidak berdaya, Jenie menggerakkan tubuhnya.
Langkah kaki membawa Azka menghampiri Jenie, menekuk kakinya sedikit berjongkok. Dengan tatapan tajam itu, Azka menarik rambut Jenie dengan begitu kuatnya.
"Arkh! Lepaskan!" Teriak Jenie.
__ADS_1
"Lepaskan? Sampai nyawamu hilang pun, aku tidak akan sudi menyentuh tubuhmu." Tarikan tangan Azka semakin kuat.
"Tidak, lepaskan Azka. Ini sakit!!"
"Dimana Peter?" Sambil menguatkan tarikan tersebut.
"Aku tidak tahu, lepaskan!" Jenie berusaha menjauhkan tangan azka dari rambutnya.
Sambil menggerakkan kakinya, Jenie berharap dapat menjangkau tubuh Azka dan melepaskan tangannya. Namun bukannya sampai dna terlepas, kini tarikan pada rambut itu seakan menguliti kepalanya.
"Aku tidak akan tertipu dengan mulut manismu seperti Peter, dan bodohnya pria itu sampai jatuh cinta." Azka menghempaskan tangannya, menyerahkan Jenie pada Kenzo.
Dalam keadaan tubuh yang sakit, Jenie terus memberontak agar terlepas.
Brakh!
Azka melemparkan sebuah berkas yang tidak terlalu tebal di hadapan Jenie, lalu ia memperlihatkan lagi berkas lainnya.
"Ini yang kau cari? Heh, aku tidak sebodoh itu menyimpannya disini." Duduk dengan gaya besarnya, Azka benar-benar terlihat dinginnya.
Betapa kagetnya Jenie, saat ia mendapati Azka mengetahui tujuannya berada di dalam ruangan miliknya. Untuk menutupi rasa malunya, ia berkilah dari tuduhan tersebut.
"Tidak, aku tidak melakukannya. Aku disini untuk menunggumu, Azka."
Masih tetap tenang dalam menikmati permainan yang Jenie tampilkan, Seolah-olah ia menjadi tertidur dengan semuanya. Setelah puas dan muak atas pertunjukan Jenie, Azka berdiri dan kembali menghampiri Jenie.
"Jangan pernah mengusik kehidupanku, jika kau masih berulah seperti ini. Maka bersiaplah untuk berpisah dari dunia ini, tanaman ucapanku ini di dalam kepalamu." Azka mengetuk kepala Jenie menggunakan sebuah tongkat golf yang berada diruangannya.
__ADS_1
Membiarkan ruangannya masih dalam keadaan berantakan, Azka menyerahkan Jenie kepada Kenzo untuk menjadikannya tawanan.