Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
99.


__ADS_3

"Kalian sudah resmi menjadi sepasang suami dan istri."


"Bravo abang!"


"Yes, akhirnya batu itu menemukan pasangannya."


Si kembar asik dengan kebahagian yang sedang menghampiri keluarganya, begitu pula pada Unni Azka. Menyaksikan proses yang cukup menguras emosi dari pasangan pengantin baru itu, air mata Unni mengalir begitu saja dan kini semuanya berubah menjadi sebuah kebahagian yang tak ternilai.


"Jangan menanggis, air matamu sangat berharga sayang." Azka merangkul pinggang Unni.


"Ini tanggisan kebahagian dari seorang mommy, dad. Sama saja dengan kamu, bedanya kalau aku terlalu tampak menanggis." Unni membalas rangkulan Azka.


"Kamu terlalu mengenaliku, sayang." Memeluk Unni dengan penuh kelembutan, Azka sangat bersyukur mendapatkan pendamping hidup yang begitu tak ternilai seperti istrinya.


Pernikahan Varo berlangsung dengan begitu sederhana, semuanya itu adalah permintaan dari Aira sendiri. Dimana ia tidak ingin diketahui ataupun dikenal oleh begitu banyak orang, karena dalam pikirannya. Hal tersebut sama saja dengan mempersilahkan orang lain dan terutama musuh-musuh dari Varo dan juga dari orang-orang yang tidak menyukainya untuk menyerang dirinya dan keluarganya kini.


Sangat melelahkan setelah acara hari ini, mereka pun lalu beristirahat.


"Kamu yakin dengan keputusan ini?" Varo menanyakan kembali kepada Aira.


"Hem, kamu tidak marah kan?"


Varo berjalan menghampiri Aira yang sedang duduk pada pinggiran tempat tidur, lalu mereka pun duduk bersama. Kedua tangan Varo melingkar pada Aira, dan hal itu hampir saja membuat Aira mendorong Varo jika saja ia tidak segera menyadari statusnya saat ini.


"Kamu hampir seperti mommy, dulu. Mommy juga hampir kehilangan nyawanya setelah daddy membawanya dan memperkenalkannya sebagai pendamping hidup. Bahkan di kelahiran kami bertiga, nyawa mommy pun tak luput dari incaran para musuh dan orang-orang yang tidak menyukainya."


Perlakuan manis, Varo berikan pada Aira. Begitu romantisnya sebagai pasangan pengantin baru, mereka berdua saling terbuka dengan kehidupannya. Menjadikan pengalaman hidup kedua orang tuanya, untuk bisa menjalankan rumah tangga yang baik.

__ADS_1


Atas perlakuan manis dan lembutnya Varo pada Aira, membuat keduanya hanyut dalam suasana. Ketika keduanya telah merebahkan diri di atas tempat tidur, kedua mata mereka bertemu dan saling memandang.


"Bolehkah aku meminta hakku sebagai suamimu, Aira?" Suara Varo begitu halus.


Sedangkan Aira, dirinya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi atas perlakuan dan juga sentuhan yang Varo berikan padanya. Ia pun menganggukan kepalanya sebagai tanda menyetujui. Tak berselang lama, keduanya semakin terbawa suasana dan larut dalam status barunya. Ketika Varo akan menyentuh bagian vital dari tubuh istrinya, tiba-tiba saja Aira mendorong Varo dan menendang terong unggul milik Varo dengan sangat kuat.


"Arkh! Aakh!" Varo berteriak dan menekan terong unggul miliknya dengam kedua tangannya, menekukkan tubuhnya untuk menahan rasa sakit yang begitu menyiksa.


"Ma maaf." Aira pun kaget atas sikapnya yang spontan, ia lalu segera membantu Varo.


"Kenapa, kenapa menendangnya?" Tekana suara Varo yang terdengar cukup kesal.


Dengan ragu-ragu Aira menatap Varo, ia meringgis melihat pria yang sudah berstatus sebagai suaminya ia meringkuk menahan rasa sakit.


"Semenyakitkan itulah?"


"Maaf, aku baru ingat. Kalau aku, mmm. Kalau aku itu, sedang datang bulan." Aira mencuri pandangan untuk melihat ekpresi dari suaminya.


Varo berbalik dengan memunggungi Aira, benar-benar ia merasa sudah jatuh dan tertimpa tangga untuk saat ini. Aira berusaha membujuk Varo agar tidak marah padanya, ia tahu jika suaminya itu ingin menikmati malam pertama mereka.


"Arrgh!!"


Teriakan Varo begitu tinggi dan seperti orang yang sednag frustasi, untung saja kamarnya itu terpasang alat yang sudah bertugas dengan baik untuk meredam suara kebisingan yang ada disana. Jika tidak, seluruh penghuni mansion akan mengetahui teriakkannya itu.


"Varo, varo kamu kenapa?" Aira menjadi panik saat varo berteriak kembali lebih keras.


"Aku sudah merayumu habis-habisan, dan ternyata kamu sedang datang tamu bulanan. Semua usahaku itu sia-sia dan kamu juga menendang terong unggul milikku, habislah masa depan kita untuk mendapatkan keturunan." Keluh kesah Varo pada Aira.

__ADS_1


"Siapa bilang kita tidak akan mendapatkan keturunan? Yang ada, kamu nanti akan pusing dengan jumlah anak kita." Tanpa sadar, Aira sudah menyatakan hal tersebut.


"Benarkah? Ah, aku semakin mencintaimu sayang." Varo ingin memeluk Aira, namun terong miliknya masih berdenyut.


Disisi lain daripada mansion tersebut, disaat semua anggota inti telah berisitirahat. Lalu terjadilah penyerangan dari arah taman belakang, tanpa mereka sadari jika salah satu dari pengawal mereka adalah penyusup dari musuh.


"Dor! Dor!"


Pertarungan terjadi diantara para musuh dan juga pengawal dan orang-orang yang berada dimansion. Semua anggota mansion terbangun dan kumpul di salah satu ruangan yang cukup aman, para pria mencari tahu mengenai aksi penyerangan saat itu.


"Tetap tenang, perketat penjagaan pada sisi mansion!" Perintah Azka pada para anggotanya.


Persatuan kembali klan terbesar yang pernah mencetak sejarah pertarungan dalam dunia bawah, Red Dragon, Black Shadow serta klan lainnya yang dipimpin oleh Peter. Semuanya bergerak menghalangi serangan demi serangan yang datang, entah kenapa kali ini mereka tidak menyadarinya.


"Lindungi mommy dan istrimu, bawa mereka ke tempat rahasia. Cepat!" Azka kembali terlihat seperti dulu, dimana saat mansion mereka juga pernah diserang.


"Dad, lihat ini!" Andra memperlihatkan ponsel miliknya kepada Azka.


Sebuah informasi yang sangat penting telah didapatkan, tidak perlu diragukan lagi dengan kemampuan yang dimiliki oleh Andra dalam mereka jaringan yang ada. Dan setelahnya, Azka memeluk Unni dan membisikkan sesuatu.


Anggukan Unni mentakan jika ia menyetujui dan mengiyakan apa yang dikatakan suaminya, lalu ia berjalan membawa Aira bersamanya. Dengam Varo dibagian terdepan, menuntuk kedua wanita itu untuk bersembunyi disuatu ruangan.


Sebelum pergi, Aira menatap Varo dengan tatapan membingungkan. Dengan cepat, Varo memeluk Aira dan mengusap puncak kepalanya.


"Inilah duniaku, maaf jika kamu belum bisa menerimanya. Mom, abang titip Aira." Lalu Varo bergegas pergi.


"Mommy juga pernah berada diposisimu nak, inilah dunia yang sebenarnya suami kita jalani. Semoga kamu dengam cepat bisa beradaptasi dengan semuanya." Unni memeluk Aira yang sudha meneteskan air mata.

__ADS_1


"Iya mom, Aira akan berusaha."


__ADS_2