Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
76.


__ADS_3

Helikopter mendarat dengan baik, segera mereka membawa brankar menuju ruang tindakan dengan sangat cepat. Dimana ruang tindakan sudah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan dua bayi kembar itu dibawa menuju ruang nicu.


Menunggu kembali dalam waktu yang cukup lama, membuat Azka menjadi begitu sangat khawatir. Lalu anggota lainnya berdatangan setelah membereskan hasil pertarungan mereka, mereka pun tidak mempercayai jika Antasa adalah Baron. Hingga pada akhirnya, bukti-bukti yang ada membenarkan semuanya.


Tiba-tiba Mark keluar dengan langkah gontainya, dan Azka segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istriku?"


Mark menghampaskan tubuhnya pada tempat duduk yang tersedia disana, melepas topi serta jas medis yang ia kenakan. Menopang kepala dengan kedua tangannya, kedua matanya menatap Azka dengan begitu tajam.


"Jangan pernah melibatkannya lagi dalam dunia bawah, bahkan saat ini nyawanya terlalu berharga untuk lenyap begitu saja!"


"Dia sedang berjuang untuk hidup, kau benar-benar bre****k!!" Mark meluapkan segala emosinya.


Hantaman dari kepalan tangan itu menghampiri wajah Azka, tubuh pria itu terhuyung menabrak dinding. Disaat Mark akan memberika pukulan kembali pada Azka, sonta, saja membuat Peter maupun yang lainnya menarik dengan cepat tubuh Mark.


"Kau tidak berhak menghakimi Azka seperti itu, ini semuanya diluar kendali kita. Orang yang berhak untuk marah akan hal ini adalah aku, aku adalah kakaknya. Tapi untuk apa? Coba kau pikir, ini semuanya diluar dari kita semuanya !" Bentak Peter kepada Mark yang masih tersulut emosi.

__ADS_1


Bahkan Azka tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela dirinya, ia terlihat seperti manusia yang tidak memiliki nyawa.


"Jangan saling menyalahkan, tepatnya kita semua Jangan berhenti untuk berdoa. Agar ia bisa melewati masa kritisnya." Suara Sovia menyadarkan Azka dari keheningannya.


"Apakah aku bisa bertemu dengan mommy?" Rupanya Varo sudah berada dihadapan Sovia.


Tanpa mengurangi rasa lelahnyq, Sovia sedikit berlutut dihadapan Varo. Ia mengusap puncak kepala anak laki-laki itu, memberikan senyuman agar tidak menambah ketegangan suasana yang ada.


"Mommy kalian sangat tangguh, ia cukup kuat untuk melewati ini semua. Apa kamu tidak mau melihat adik-adik barumu?" Tawar Sovia.


"Tapi, bolehkan aku menemui mommy untuk pertama kalinya amma (tante)?" Dengan memasang wajah memelasnya, Varo berharap keinginannya terkabulkan.


"Mommy sedang dalam masa kritis sayang, belum bisa ditemui oleh orang-orang selain dari pihak tenaga medis disini. Tapi, amma akan membantu kamu untuk melihat mommy."


"Benarkah itu amma?!" Varo tampak begitu antusias.


"Hem, tunggu sebentar ya."

__ADS_1


Saat Sovia akan beranjak, tangan kecil Varo menarik ujung pakaiannya. Dan itu membuat Sovia menghentikan langkahnya dan menatap Varo penuh pertanyaan.


"Amma, ini." Varo menyerahkan sebuah kain yang biasa Unni gunakan untuk menutup auratnya.


Semua mata dan perhatian orang-orang yang berada disana, menjadi fokus dengan kain yang Varo bawa. Sovia menerimanya dan memperlihatkan bentuk sesungguhnya dari kain tersebut, Sovia langsung menyadari fungsi dari kain tersebut.


"Kamu benar-benar menyayangi mommy ya, baiklah." Sovia melangkah memasuki ruangan tersebut.


Azka memeluk Varo dna membawanya ke dalam pelukannya, air mata itu begitu tak terbendung. Berkali-kali Azka memberikan kecupan hangat pada puncak kepala sang putranya, hampir saja ia melupakan sesuatu yang cukup penting.


Tirai penutup kaca yang berada di ruangan tempat Unni berada, dengan perlahan terbuka. Terlihat Sovia memberikan isyarat untuk mereka, bahwa mereka bisa melihat kondisi Unni dari balik kaca pembatas tersebut.


"Mommy." Suara lirih Varo yang terdengar sangat pilu.


Baik Azka maupun Varo, Peter dan yang lainnya pun ikut menyaksikan betapa kritisnya kondisi Unni saat itu. Berbagai macam alat tertancap pada tubuh mungil tersebut, wajah yang pucat serta kedua mata yang masih tertutup dengan sangat rapat. Seakan mengatakan jika wanita itu sedang berjuang untuk bertahan, membuat semuanya memalingkan muka untuk menutupi air mata yang telah mengalir pada wajah mereka.


"Mom, Varo janji akan menjadi anak yang baik. Tidak akan mengecewakan mommy, menjaga adik-adik dan menjadi abang yang melindungi mereka. Tapi, tapi mommy bangun. Mommy jangan tidur lagi, mommy bangun!" Isakan tanggis mulai terdengar dari Varo.

__ADS_1


Tak tahan dengan kesedihan dari keponakannya, Peter mengambil Varo dari dekapan Azka yang juga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Pandangannya tidak terlepas dari tubuh istrinya, hidupnya terasa berhenti begitu saja dengan mendapati keadaan wanita yang ia cintai seperti itu.


Karena kondisi sudah tidak begitu baik, Eiger mengisyaratkan pada Sovia untuk menutup tirai tersebut.


__ADS_2