Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
62.


__ADS_3

Kini, bayi mungil yang berada di dalam sebuah kotak bernama inkubator sedang mengeliat dengan kuat. Ya, bayi laki-laki yang lahir dalam keadaan normal dan sehat. Namun terlalu dini untuk ia berhadapan dengan dunia sesungguhnya, sehingga ia harus berada didalam kotak tersebut.


Sedangkan sang ibu, masih belum sadarkan diri setelah berjuang diantara hidup dan matinya. Terbaring dengan beberapa peralatan medis yang terpasang pada tubuhnya, agar bisa membuatnya kembali pulih.


Begitu pula dengan Peter, ia juga berada pada rumah sakit yang sama dengan Unni. Mengetahui keadaan sang adik, membuat Peter begitu terpukul. Menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa tersebut, dimana keselamatan sang adik menjadi terancam.


Sudah 2×24 jam, wanita mungil itu masih terlelap dengan begitu damai. Dengan begitu pula, Azka selalu berada disisinya. Tidak ia biarkan melewatkan sedikitpun waktu untuk bersama, dan juga tak lupa ia selalu menjenguk sang buah hati.


"Sayang, anak kita sudah lahir. Dia begitu tampan, seperti diriku. Namun, aku berharap ia mempunyai sifat yang menurun dari dirimu dan bukan dari diriku. Tidak kah kamu ingin melihatnya? Dia sangat merindukan dirimu sayang, bangun ya. Jangan terlalu lama membiarkan kami tanpa dirimu, kami mencintaimu." Azka mendaratkan kepalanya pada sisi tempat tidur sang istri, terlalu lelah ia rasakan yang membuatnya ikut terlelap.


Disaat pria itu terlelap, ada sepasang mata terbuka dengan perlahan. Menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada, merasakan sejuknya udara disana. Ingin menggerakkan tangannya, namun terasa tertahan.


"Hub by." Ucapnya dengan cukup pelan dan hanya dirinya yang mendengar.


Menatap wajah itu dengan menyungingkan senyuman, betapa terharunya dirinya saat mendapati pria yang ia cintai selalu disampingnya. Lalu mata itu menangkap sesuatu yang berbeda, dimana perutnya sudah mengecil dan terdapat rasa nyeri pada bagian perut bawahnya.


...Perutku? Bagaimana keadaan anakku?...


Rasa cemas itu langsung menghampiri dirinya, air mata mulai mengalir dari kedua sudut mata.

__ADS_1


Klek!


Seorang perawat dan dokter masuk ke dalam ruang perawatan, mereka pun tampak kaget saat mendapati pasiennya sudah membuka mata. Dengan cepat, Unni memberikan instruksi agar tidak membuat suaminya terbangun, dan mereka pun mengerti.


Serangkaian pemeriksaan kecil dilakukan oleh dokter Sovia, memastikan jika keadaan pasiennya sudah membaik. Seakan mengerti arti dari pergerakan tubuh Unni, Sovia segera memberitahukannya.


"Tenang saja, putra kalian selamat. Dia masih harus beradaptasi dengan suhu ruangan."Jelas Sovia yang membuat Unni menjadi lega.


Kebahagian dan senyuman itu merekah, hati Unni sangat bahagia setelah mengetahui keadaan anaknya. Pemeriksaan sudah dilakukan dan selesai, Sovia telah memastikan keadaan Unni yang berangsur-angsur membaik. Mereka membiarkan Azka yang masih terlelap, akan tetapi.


Klek!


"Wah, kau sudah sadar!" Suara sumbang milik Mark bergema disana.


Mendapati suatu keributan, membuat lelapnya seoarang Azka menjadi terganggu. Perlahan ia menggerakkan tubuhnya, dimana Unni segera menutup matanya dan Sovia menghalau langkah Mark untuk mendekati tempat tidur pasien.


"Hei, ada apa ini. Kenapa aku tidak boleh kesana, kalian ini aneh sekali."


"Diam! Kau ini susah sekali diajak kompromi." Seringai Sovia kepada Mark.

__ADS_1


Keduanya masih berdebat dengan cukup alot, membuat Azka benar-benar terbangun dan berbalik badan menghadap keduanya tanpa disadari.


"Diam! Keluar atau kuhabisi kalian berdua!" Bentakan tersebut seketika membuat keduanya terdiam.


"Mmmm." Mark menjawab ucapan Azka, namun segera tangan Sovia membungkamnya.


"Sorry, aku akan membawanya keluar. Ayo ikut!" Menatap tajam Mark yang akhirnya mengikuti.


Walaupun tidak terima dan bingung dengan sikap kedua wanita itu, Mark terpaksa keluar. Ketika sudah berada diluar, dengan kuat Mark menghempaska tangan Sovia dari mulutnya.


"Ada apa sih?! Kenapa kau membungkamku seperti ini." Erang Mark kepada Sovia.


Plak!


Pukulan pada bahu Mark mendarat dengan sempurna dari Sovia, wanita itu sangat geram akan sikap Mark yang selalu tidak bisa membaca situasi yang ada.


"Hei!"


"Apa! Kau ini tidak pernah bisa lihat keadaan ya, dia tidak ingin membuat Azka terbangun. Tapi ni mulut, lemes bener." Sovia seperti hendak akan menerkam Mark dengan tangannya.

__ADS_1


"Lalu, salahku dimananya?" SanggahnMark yang tidak terima.


Dengan menampakkan wajahnya geramnya, Sovia sudah benar-benar kehabisan kesabaran untuk seorang Mark. Lalu ia menggerakkan tangannya dan menghadiahkan pukulan bertubi-tubi kepada Mark, meluapkan segala kekesalannya.


__ADS_2