
Pesawat pribadi itu mendarat dengan baik, Azka dan juga Kenzo segera turun dan masuk ke dalam mobil yang sudah dipersiapkan untuknya. Mobil tersebut langsung membawa mereka menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh bawahannya yang lain, sesekali Azka melihat kembali artikel yang sedang ia baca.
"Fokus dulu dengan urusan kita disini, nanti nona Hafsah akan kecewa melihat ketidakfokusanmu ini." Senggol Kenzo yang langsung mendapatkan respon dari Azka.
Memasukan kembali ponsel tersebut ke dalam saku jas yang ia kenakan, bertekad untuk segera menyelesaikan semua urusannya yang ada saat ini dan bertemu dengan wanitanya.
Kecepatan mobil semakin melambat, kini mereka telah sampai di sebuah bangunan yang cukup megah dan juga tinggi. Dengan semua pribadi yang melekat pada Azka, pria itu melewati semua karyawan yang berhenti sejenak untuk memberikan hormat padanya.
Kaki jenjang itu terus berjalan menuju ruangannya, sebuah berkas dilempar oleh Kenzo tepat di atas meja yang berada dihadapan Azka.
"Untuk apa ini?" Tanya Azka yang melihat ke arah berkas tersebut.
"Baca dulu saja, siapa tahu hukuman untuk mereka dapat diringankan." Seringai Kenzo yang penuh dengan arti.
Menuruti apa yang di ucapkan oleh Kenzo, berkas itu kini sudah berada di tangan Azka dan sedang ia teliti dengan sangat hati-hati. Tak lama kemudian, tampak kening itu berkerut cukup banyak.
"Bagaimana?" Kenzo mulai mendapatkan jawabannya dari ekpresi wajah Azka.
"Jangan memancingku, Kenzo. Kau tahu apa yang harus dilakukan, ingat. Aku ingin sedikit bermain dalam hal ini, kau paham!" Tegas Azka.
Kembali senyuman seringai Kenzo tampilkan, karena dia tahu apa yang harus dilakukan setelah Azka mengucapkan hal tersebut. Keluar dari ruangan dan segera melaksanakan apa yang seharusnya ia lakukan dari awal.
Begitu pula dengan Azka, ia bergerak cepat dengan apa yang sudah ada di dalam pikirannya saat itu. Dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dengan cepat, agar ia bisa segera kembali.
__ADS_1
"Huh, tanganku sudah terlalu aku untuk bermain. Sepertinya harus digerakkan kembali, dan aku menyukainya." Dengan tersenyum devil, Azka berjalan keluar dari ruangannya menuju tempat yang Kenzo persiapkan untuk dirinya.
Perusahaan milik Azka sudah berkembang sangat pesat, terbukti dengan keberadaannya hampir memenuhi negara di dunia. Hanya saja ia fokus berada di perusahaan pusat, ia akan mengunjungi perusahaan yang lainnya disaat benar-benar membutuhkan dirinya. Menempatkan orang-orang kepercayaannya untuk mengelolanya tanpa terbebas dari pengawasan perusahaan pusat, dengan menerapkan peraturan yang ia buat untuk semua karyawannya tanpa terkecuali.
Jika terjadi pelanggaran seperti saat ini, maka mereka harus mempersiapkan diri untuk berhadapan langsung dengannya. Dan dapat diketahui hukuman apa yang akan mereka dapatkan, dan itu akan membuat mereka menyesal seumur hidup.
Brakh!!
Pintu ruangan tersebut hancur dalam satu kali hentakan dari kaki Azka, ia berjalan memasuki ruangan dengan tatapan dinginnya. Kenzo mempersilahkannya untuk masuk, dimana disana sudah menunggu seseorang yang siap untuk menjadi teman dalam permainan yang Azka inginkan.
"Perlu ditemani?" Tangan Kenzo menyerahkan berkas untuk memperkuat hukuman dan permainan Azka.
Azka memberikan tanpa menggunakan tangannya, bahwa dirinya tidak perlu ditemani dan ingin bermain sendiri. Lalu Kenzo dan yang lainnya menyingkir dari hadapan Azka, mereka berdiri pada sudut dari ruangan yang ada.
"Lepaskan dia." Perintah Azka agar tawanan mereka tidak dalam terikat apapun.
Semua mata bawahannya melebar, bagaimana bisa Azka meminta untuk melepaskan ikatan pada pria itu. Hal itu bisa membuatnya berpotensi untuk melakukan perlawanan kepadanya Azka.
"Lepaskan saja, tuan kalian mau bermain." Ujar Kenzo dari salah satu sudut ruangan dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya.
Akhirnya ikatan pada pria itu dilepaskan begitu saja, dengan cepat ia mengumpulkan semua tenaganya untuk bangkit. Sudah terdapat beberapa luka memar dan juga luka robek dari tubuhnya, akibat dari pukulan anggota Red Dragon.
Pria itu menatap tajam pada Azka, karena ia tahu jika Azka adalah pemilik dari perusahaan dimana ia bekerja. Ada sesuatu kemarahan yang tersirat dari tatapan tersebut, ia berjalan dengan sangat cepat menghampiri Azka dan bermaksud untuk memukulnya.
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
"Arkh! Akan ku balas kau!" Erang pria itu yang terlebih dahulu terkena pukulan dari tangan Azka.
Kedua terlibat saling adu kekuatan, dimana sudah terlihat siapa yang lebih unggul dalam pertarungan tersebut. Dengan nafas tersengal-sengal, tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik pakainnya. Sontak saja hal tersebut menjadi kekhawatiran dari semua orang yang berada disana, terima Kenzo.
Srack!
Semuanya terdiam seketika, terpesona atau pun kaget dengan apa yang terjadi saat itu. Azka memandangi benda tajam yang sudah basah oleh cairan berwarna merah, lalu benda itu melayang setelah Azka melemparkannya begitu saja dan tergeletak di lantai.
Benda tersebut adalah sebuah katana yang telah dipersiapkan sebelumnya, pria tersebut adalah Leo. Dia adalah penyusup dan juga otak dari kerugian yang dialami perusahaan di negara C, dana tersebut ia gunakan untuk menyuplai berbagai bahan amunisi untuk sebuah kelompok klan yang belum diketahui dalam jumlah cukup besar.
"Bereskan semuanya, setelah ini kalian harus bekerja keras untuk mendapatkan orang tersebut. Atau kalian akan menebusnya dengan nyawa kalian sendiri, paham!" Tegas dan juga penuh dengan penekanan dalam kalimat tersebut.
Berjalan meninggalkan semuanya, dan disaat kaki itu akan melangkah. Anggota tubuh dari Leo yang baru saja Azka pisahkan dan bertepatan menghalangi langkahnya, dengan tanpa beban kaki itu menyingkirkannya seperti sedang bermain sepak bola.
"Kau terlalu kejam, nona Hafsah pasti merinding melihat sisi gelapmu ini." Sindir Kenzo yang mengiringi langkah Azka.
Tanpa tanggapan apapun, Azka terus melangkahkan kakinya. Jika ia terpancing dengan ucapan Kenzo, sama saja dia sudah kalah dalam mengendalikan emosinya.
Kembali ke perusahaan, dimana Azka harus memeriksa kembali semuanya. Suasana perusahaan begitu tegang, apalagi mendapati CEO mereka telah datang secara langsung dan turun tangan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.
__ADS_1