
Semenjak kejadian tidak sadarnya Unni, ke empat pria itu masih tidak mendapatkan respon apapun dari Unni. Interaksi itu hanya terjadi di antara Unni dan Aira, bahkan mereka terlihat seperti anak dan ibu. Saat Unni membuka mata, ia hanya mau bersama dengan Aira.
"Bang, siapa wanita itu? Sepertinya, dia sudah mengambil tempat kita deh." Andra bertanya pada Varo yang bersikap acuh.
"Benar, jangan-jangan. Eh bang, kita harus hati-hati. Bisa saja , wanita itu berniat untuk mengambil harta kita. Dengan wajah polosnya, pasti menyimpan sesuatu siasat." Andre dengan pikiran yang terlalu menduga.
Plak!
Plak!
"Sakit!" Teriak keduanya yang membuat ruangan tersebut menjadi riweh.
Unni hanya miliriknya sesaat, lalu mengabaikannya kembali. Aira bahkan dibuat bingung dengan keluarga itu, terlihat sangat konyol.
"Berhenti untuk bermain-main, kalian berdua lanjutkan kuliah. Berlama-lama disini, membuat otak kalian beku." Tegas Azka kepada si kembar yang selalu rusuh.
"No dad, kita mau jagain mommy." Keduany bersamaan.
"Jagain? Yang ada kalian malah menjadikan ruangan ini tempat membolos." Varo dengan gaya santai membuka kedok adik kembarnya.
"Bang!"
Tanpa mereka sadari, Unni mendengarkan semuanya yang dibicarakan. Berbicara sesuatu kepada Aira, laku Aira berjalan menuju ke empat pria tersebut.
"Tuan, tante bilang. Jangan membuat gaduh dirumah sakit, tidak ada kata bolos apalagi berbohong." Aira menyampaikan dengan kepala menunduk.
"Hah? Mampus kita." Andra dan Andre bersamaan menutup wajahnya.
.
.
__ADS_1
.
.
Satu minggu sudah berada di rumah sakit, banyak sekali kejadian yang Unni dengar dan saksikan pada suami dan anak-anaknya. Unni kini sudah kembali ke mansion, namun tetap saja masih dalam diamnya.
"Nak, kamu tinggal disini saja ya." Pinta Unni kepada Aira.
Perlahan-lahan, Aira kini memahami apa yang dirasakan oleh Unni. Kesepian, itu adalah hal yang paling utama ia rasakan. Namun Aira tidak bisa untuk egois dalam hal tersebut.
"Tante, jika nanti ada waktu luang. Tante bisa mengunjungi atau Aira yang akan mengunjungi Tante." Aira menggenggam tangan Unni dan mengusap punggung tangannya dengan perlahan.
"Hem, kamu benar sayang." Ada guratan kekecewaan yang Unni rasakan, namun memang ia tidak bisa untuk memaksakan kehendaknya tersebut.
Keduanya asik dalam obrolannya sendiri, tidak melupakan kewajiban yang harus mereka kerjakan. Saat matahari mulai menenggelamkan dirinya, Aira pu berpamitan untuk undur diri pada Unni.
Menghantarkan menuju pintu utama, meminta akepada supir mansion agar dapat menghantarkan Aira pulang. Disaat keduanya akan berpisah, Varo tiba-tiba muncul dari balik punggung Unni.
"Biar abang saja yang mengantarnya."
"Maafkan kami semuanya, mom. Kami hancur dengan keadaan ini, kembalilah seperti dulu mom."
Melepaskan kedua tangannya dan secepat mungkin Varo menghapus air yang telah menetes dari kedua matanya, berbalik arah dan menghampiri Aira.
"Assalamu'alaikum, mom."
Baik Varo maupun Aira sudah berada di dalam mobil yang melaju meninggalkan mansion, kedua mata Unni pun berembun.
"Wa'alaikumussalam. "
Mata Unni berkaca-kaca, memasuki kamar dan berjalan menuju balkon. Unni duduk sejenak disana, menikmati udara sore hari yang perlahan mulai terasa dingin. Dalam pikirannya, ia masih terbayang akan ucapan yang Varo katakan padanya. Akan tetapi pada sisi lainnya hatinya masih terasa sakit akan kebohongan yang terjadi, menghembuskan nafas beratnya berulang-ulang kali hingga dadanya tidak terasa sesak.
__ADS_1
Merasa dirinya sudah mulai tenang, Unni segera masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri untuk bersiap-siap menunaikan kewajiban di waktu magrib, langkah kaki itu pun berhenti saat mendapati keluarganya yang lengkap sudah menunggu dirinya di ruang khusus yang mereka buat menjadi ruang ibadah (musholla).
Disambut dengan senyuman dari ke empat pria disana, ada rasa bersalah dalam diri Unni yang mengabaikan keluarga kecilnya ini. Membalas senyuman itu dengan senyuman kembali, lalu mereka bersama menunaikan kewajibannya.
Selesai dengan kewajiban tersebut, Unni akan beranjak dari tempat tersebut dan bermaksud akan menyiapkan makan malam untuk keluarganya.
"Masih marah?" Tiba-tiba saja, Azka memeluk Unni dari arah belakang.
"Jangan marah lagi mom, ini sangat membuat kami tersiksa." Andra ikut memeluk Unni.
"Andre janji, akan selalu menceritakan semua yang Andre kerjakan pada mommy. Tapi, mommy jangan mendiami kami lagi ya. Maafkan kami mom."
Tidak menutupi perasaannya, Unni pun merasakan hal yang serupa dengan apa yang keluarganya rasakan. Hanya saja, ia butuh waktu untuk menerima semuanya. Setelah beberapa saat bersama Aira, Unni bisa mengungkapkan semua yang ia rasakan pada wanita itu. Dan Aira pun menjadi tempat curahan yang nyaman bagi Unni, seperti dengan anaknya sendiri.
Untuk Varo, ia hanya berdiri dihadapan Unni dengan wajah tertunduk. Sebelumnya, ia sudah menyampaikan semua perasaannya saat akan mengantarkan Aira.
"Hah! Bagaimana bisa mommy bicara, kalau kalian memeluknya sangat erat."
Kedua pria yang memeluk Unni sontak saja kaget mendengar ucapan tersebut, rasa bahagia bercampur kaget menyerang mereka. Dan seketika itu juga tangan mereka terlepas, dan memberikan sedikit ruang agar Unni bisa bernafas.
"Dad, tangannya." Unni protes karena Azka tidak melepaskan tangannya.
"Kenapa? Tangan ini sudah menganggur selama beberapa hari untuk memelukmu mom, jangan melepaskannya." Azka merasa sangat bahagia, tatkala istrinya membuka jalan untuk mereka berdamai dengan permasalahan yang ada.
Melihat Azka tidak melepaskan tangannya dari memeluk Unni, si kembar pun tidak mau kalah. Mereka kembali memeluk dengan erat mommy mereka, gelak tawa tidak bisa dihindari lagi. Hanya saja, satu pria yang masih berdiam diri dihadapan mereka.
" Mommy belum memaafkan semuanya, kalian masih banyak harus menjelaskan pada mommy."
"Iya iya mom, kami janji akan menceritakannya semua pada mommy. Mommy mau dengar dari bagian yang mana?" Dengan cepat Andre menyatakan maksud hatinya.
"Sayang, nanti saja penjelasannya. Lebih baik kita istirahat saja, ini sudah malam." Dari ucapan yang Azka berikan, ada maksud tersendiri yang dimengerti oleh pasangan tersebut.
__ADS_1
"No no dan no." Protes si kembar.
Aksi konyol itu membuat Unni menggelengkan kepalanya, namun perhatiannya masih tidak beranjak dari putra sulungnya.