Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
61.


__ADS_3

Pergerakan yang sangat cepat, hampir seluruh sisi dari tempat yang mereka susuri telah terkepung. Dengan persiapan yang cukup, bahkan persenjataan yang sudah mereka bawa. Strategi yang sudah mereka persiapkan sebelum melaksanakannya, dalam hitungan detik siap untuk melakukan penyerangan.


"Bersiaplah, tidak ada kata ampun. Habisi yang kalian lihat dan temui, jangan kasih celah sekecil apapun." Eiger memimpin alur penyerangan.


Kini, semuanya sudah siap. Menggerakkan tangannya sebagai tanda untuk menyerang, semua pasukan serentak bergerak.


Dor!


Dor!


Dduuaarr!!


Suara letusan senjata api dan beberapa bom yang mereka gunakan sudah terdengar, menandakan jika kehadiran mereka sudah mengepung seluruh tempat tersebut.


Satu persatu mereka mulai bisa melumpuhkan lawannya, pertarungan tersebut sangatlah menguras tenaga. Mereka merupakan lawan yang cukup seimbang, namun tidak untuk dibagian persenjataan.


Brakh!


"Peter!" Eiger mendobrak salah satu pintu ruangan yang sangatlah tertutup dan dijaga oleh beberapa orang.


Mendapati tubuh Peter yang sudah tidak berdaya, Eiger segera membebaskan kedua kaki dan tangannya dari jeratan yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas.

__ADS_1


"Hei! Kau masih hidup kan?" Eiger mengguncang tubuh Peter agar membuka matanya.


"Iya, aku masih hidup. Kau berharap aku mati, hah!" Peter memposisikan tubuhnya untuk bersandar.


"Lukamu cukup serius, kita harus segera mengobatinya." Tegas Eiger.


Memahami keadaannya yang sudha tidak berdaya, Peter segera mengikuti arahan Eiger kepadanya. Terlihat jika masih banyak anggota mereka melakukan perlawanan dengan pihak musuh, suara dentuman senjata yang mereka berikan sangat dahsyat.


Dalam hitungan menit, musuh sudah dapat teratasi. Walaupun masih ada beberapa sisi yang bertarung, namun mereka kembali gagal mendapatkan otak dari semua kekacauan yang terjadi.


.


.


.


.


"Apa ini? Bagaimana keadaannya?" Azka masih begitu panik.


"Tanda tangan saja, kau ini merepotkan." Desis Mark yang sudah begitu marah.

__ADS_1


Sruth!


Tangan kekar Azka menarik kerah pakain yang digunakan Mark, hingga dirinya ikut tertarik mengikuti arah tangan itu. Melihat keduanya saling bersitegang, Kenzo berusaha melerainya.


"Kalian ini, apa-apaan. Hentikan!" Bentak Kenzo.


Membaca isi dari kertas yang berada ditangan Mark, membuat kedua mata Kenzo membulat. Lalu ia memandangi kedua pria yang masih keras kepala, membuat dirinya menggelengkan kepala.


"Apa yang terjadi?" Tanya Kenzo.


"Usia kandungannya tidak cukup bulan, anak kalian terpaksa harus dilahirkan. Jika tidak, nyawa keduanya tidak akan selamat." Jawab Mark dengan menatap Azka sangat tajam.


"A apa." Azka hampir terjatuh jika saja tidak Mark menahannya.


"Ish, aku paling tidak suka posisi ini. Cepatlah Tanda tangan, kau ini lamban sekali."


Karena Azka yang shock, hal itu semakin membuat Mark marah dan jengkel. Lalu ia merampas kembali kertas tersebut, tangannya sendiri yang pada akhirnya mengukir goresan tinta disana.


"Jika tahu begini, lebih baik aku tidak menemuimu. Huh, sana. Badanmu berat sekali, makanya diet." Mark melepaskan tangannya yang menahan tubuh Azka, lalu kembali masuk ke dalam ruang tindakan.


Dengan bergetar, Azka berusaha untuk berdiri. Dibantu oleh Kenzo yang disampingnya, air mata itu mengalir begitu saja. Kenzo hanya bisa menepuk pundak Azka pelan, ia tahu jika Azka sangat menyesali mengenai apa yang terjadi.

__ADS_1


"Beraninya dia mengusik kehidupanku, kali ini tidak akan kubiarkan dia bisa bernafas dengan tenang. Tunggu saat waktunya tiba, kau akan habis di tanganku sendiri." Erang Azka mengepalkan dua tangannya.


__ADS_2