
Usaha Azka untuk membujuk Unni berbicara banyak ternyata tidak membuahkan hasil, Unni masih bersikap seperti sebelumnya. Begitu pula dengan ke tiga putranya, belum ada yang bisa membujuknya untuk kembali seperti biasanya. Dan mereka pun belum mempunyai keberanian untuk mengungkapkan jati diri mereka kepada sang mommy, karena takut jika wanita berhati lembut itu akan kembali terluka.
Disaat semuanya telah pergi untuk aktivitasnya, Unni terlihat sedang berdiam diri dengan menatap halaman yang terdapat berbagai tanaman bunga disana. Tiba-tiba saja ia teringat dengan gadis yang sudah membuat putranya salah sangka, Aira.
Sebelumnya Unni sempat meminta nomor ponsel milik Aira, dan kini ia mencoba menghubunginya. Lalu mereka membuat janji akan bertemu, setelah mengakhiri pembicaraannya. Unni bermaksud untuk kembali ke kamarnya, namun ia merasakan pandangannya sedikit kabur dan rasa sakit pada lambungnya. Tidak dipungkiri, sejak peristiwa tersebut. Ia tidak bisa istirahat dan makan dengan baik.
"Sepertinya asam lambung." Gumam Unni yang menganggap dirinya tidak apa-apa.
Sedangkan di perusahaan, Azka dan Varo sedang berhadapan satu sama lain. Mereka membahas sebuah kontrak kerjasama dengan salah satu klien, namun klien tersebut mempunyai catatan buruk dan juga merupakan saingan keduanya dalam dunia bawah.
Kontrak kerjasama itu telah terjadi, dengan pemalsuan dari pemilik perusahaan yang menutupi siapa sesungguhnya yang mengendalikan mereka.
"Daddy harap, kamu bisa mengatasinya bang."
"Entahlah dad, sampai saat ini belum ditemukan kesalahan apapun dari mereka. Jika kontrak dihentikan, ini akan berdampak besar untuk semuanya." Hela Varo yang terlihat sudah begitu berantakan.
"Apa perlu daddy yang menyelidikinya?" Tawaran Azka untuk membantu.
"Sama saja itu akan membuatku tidak berguna dad, masih memanfaatkan kekuasan dan berlindung pada ketiak daddy." Protes Varo.
Dibalik wajahnya, Azka memberikan senyuman untuk putra sulungnya itu.
"Jangan lupakan adik-adikmu, gunakan kelebihan mereka jika kamu ingin menemukan peluang besar."
Seketika mendengarkan ucapan Azka, Varo nampak berpikir dengan keras. Bagaimana ia bisa melupakan jika memiliki dua adik yang bisa dimanfaatkan dan diajak bekerja sama, hal itu kini menjadi tujuan utama dari Varo. Membawa kedua adiknya untuk bergabung dalam satu tempat, dimana kekuatan mereka akan semakin tidak tertandingi jika bergabung bersama.
"Tapi dad, bagaimana dengan mommy?"
__ADS_1
Azka yang sedang menyandarkan punggungnya kini seketika tersentak bangun, ia melupakan istrinya dalam hal ini. Lalu ia bergegas menggunakan jas nya yang diletakkan pada sandaran kursi kerjanya, membawa beberapa benda penting miliknya lalu menuju pintu keluar.
"Pulang, jika tidak ada lagi yang kamu kerjakan. Pulanglah."
Perkataan Azka cukup mengganggu pikiran Varo, dalam kepalanya seakan membenarkan ucapan dari daddy nya. Karena beberapa hari ini, mommy mereka terlihat tidak baik-baik saja setelah kejadian sebelumnya. Bahkan pagi sebelum ia berangkat bekerja, sang mommy terlihat begitu pucat.
"Sial! Kenapa jadi seperti ini, ah mom. Maafkan abang." Varo pun bergegas mengikuti langkah Azka meninggalkan perusahaan.
Seakan-akan mereka mempunyai ikatan batin yang begitu kuat, bahkan si kembar juga kini dalam perjalanan pulang.
.
.
.
.
"Tidak apa-apa nak, bagaimana kabarmu?" Unni memeluk Aira selayaknya Putri ia sendiri.
"Alhamdulillah baik tante, tangan tante panas. Tante sakit?" Kening Aira berkerut saat kedua tangan Unni menggenggam tangannya, terasa begitu hangat.
"Tante baik-baik saja, mungkin tadi habis berjemur di taman belakang dan jadinya panas. Ayo masuk." Unni melepaskan tangannya dari Aira, ia tidak ingin membuat gadis itu berpikiran lebih tentang dirinya.
Kedua masuk dan kini berada di ruangan utama dari mansion, Unni meminta kepala pelayanan bagian dapur untuk menyediakan minuman untuk tamu mereka. Dan tak lama kemudian terdengarlah suara mobil berhenti dan disusul oleh mobil kedua dan juga suara motor yang cukup Unni kenal.
"Assalamu'alaikum. "
__ADS_1
Tidak direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja ke empat pria penghuni mansion itu tiba disaat yang bersamaan.
"Wa'alaikumussalam. "Unni merasa kaget mendapati mereka pulang lebih awal dari biasanya.
Melihat keberadaan Aira disana, membuat pria pria tersebut cukup kaget. Namun kemudian menjadi biasa saja, hanya Varo yang masih berpikiran tentang wanita itu.
"Kamu duduk saja dulu ya nak, kebetulan tante belum sholat dhuha. Tidak apa-apakan?" Unni merasa tidak enak jika Aira menunggunya.
"Tidak apa-apa tante, Aira bisa menunggu disini."
Mendapatkan jawaban tersebut, lalu Unni melangkahkan kakinya menuju kamarnya di atas. Menyusul pula Azka dari arah belakang, mengikuti istrinya. Sorot mata Azka menangkap sesuatu yang berbeda dari istrinya, namun semuanya menghilang saat Unni masuk ke dalam kamar mandi.
Sepeninggalan kedua orangtuanya, Varo seakan mengerti akan maksud dari ucapan sang mommy. Melepaskan jas yang ia kenakan dan duduk ikut menemani Aira di ruang utama, sedangkan Andre dan Andra. Mereka memilih masuk ke dalam kamarnya masing-masing,
"Apa kabar?" Suara Varo memecah kesunyian.
"Baik tuan." Aira pun merasa canggung dan masih ada sesuatu yang menganjal atas apa yang terjadi.
"Mommy memintamu datang?"
" Iya tuan."
Keduanya pun kembali diam dalam posisinya sendiri-sendiri, begitu pula pada Aira. Jika harus memilih, ia lebih baik tidak mengenal dan terlibat dalam keluarga orang terpandang seperti ini.
"Maaf, maaf atas semuanya yang telah terjadi."
"Hah."
__ADS_1