
"Maaf, maaf atas semuanya yang telah terjadi." Varo membuka suaranya dan membuat sebuah pengakuan.
"Hah." Aira menjadi kaget atas ucapan yang Varo katakan, apakah itu ditujukan pada dirinya atau orang lain.
Yang Aira tahu, jika Varo adalah pria yang menjadi pemimpin di perusahaan tempat ia bekerja merupakan manusia begitu dingin, kejam dan bisa dibilang bukan manusia jika sedang menghukum para karyawaannya jika melakukan kesalahan.
Bahkan Aira pernah memergoki Varo di dalam ruang pantry karyawa, ia menghajar habis-habisan dua orang karyawan yang tidak becus bekerja. Hanya karena mereka ceroboh dan kabarnya membuat kerugian pada beberapa sektor pekerjaan mereka, Aira hanya tahu sampai disana beritanya. Karena dia bukan tipe manusia yang ingin tahu semua dengan berita yang ada, dan kebenarannya adalah kedua orang tersebut telah menyelewengkan dana proyek yang ada di beberapa sektor . Sehingga menyebabkan kerugian sangat besar untuk perusahaan, walaupun angka kerugian bagi Varo hanya seujung kukunya.
"Jangan terlalu tegang, kembalilah bekerja. Aku tidak akan memecatmu." Dengan arogannya, Varo berkata kepada Aira.
"Terima kasih tuan, tapi saya sudah tidak berminat lagi untuk bekerja. Saya akan mengundurkan diri dan mencoba untuk membuka..."
"Tidak! Tidak ada pengunduran diri, besok! Aku tahunya kamu sudah mulai bekerja!" Varo berjalan menuju dapur, menghindari bertatapan langsung dengan Aira kala itu.
Dalam keterdiamannya, Aira sangat begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Varo kepadanya. Biasanya pria itu begitu ketus dan selalu saja membuat percekcokkan diantara mereka, bahkan orang lain mengatakan seperti Tom dan Jerry setiap hari kepada keduanya.
.
.
.
__ADS_1
.
Disaat melakukan rakaat terakhir sholatnya, Unni merasakan kepalanya begitu sakit dan tubuhnya pun seperti tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Setelah mengucapkan salam, berusaha untuk berdiri dengan meraih dinding sebagai tumpuan.
"Sayang!" Azka yang menyadari akan istrinya yang seperti itu, langsung saja ia meraih tubuh mungil tersebut.
Brugh!
Dalam keadaan setengah sadar, Unni mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Kamu kenapa, sayang!" Azka membawa Unni ke atas tempat tidur.
"Sayang! Sayang bangun, sayang!" Menepuk-nepuk pipi Unni, Azka menyakinkan dirinya akan keadaan sang istri.
Tubuh itu tidak memberikan respon apapun terhadap usaha yang Azka upayakan, dalam keadaan panik. Tanpa melepaskan mukenah yang ia gunakan, Azka membawa tubuh itu keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat.
"Varo! Andre! Andra!" Teriak Azka memanggil ketiga anaknya, dengan langkah kaki terus menuruni anak tangga.
Saat nama mereka disebut dengan keras, membuat semua berlari berhamburan mencari sumber suara tersebut. Mereka pun menjadi kaget melihat kedua orang tuanya dalam posisi seperti itu.
"Mom!" Ketiganya berteriak bersamaan dan segera berlari menghampiri Azka.
__ADS_1
"Ke rumah sakit, cepat!" Ucap Azka dengan sangat tegas.
Aira yang saat itu menjadi ikut panik, menjadi serba salah dalam posisinya. Namun ada hal yang terjadi begitu spontan, tubuhnya tertarik sangat kuat. Ternyata tangan Varo yang sudah menarik tangannya, dengan hal itu ia menjadi ikut bersama keluar besar Azka.
Laju kendaraan mereka sangat membuat pengguna jalan lainnya mengumpat, begitu juga dengan para petugas keamanan yang sedang berjaga. Namun mereka mengurungkan niat untuk menangkap pelaku kerusuhan dijalan tersebut, mengetahui siapa yang sedang berada di dalam mobil itu.
Pada akhirnya, mereka harus mengawal dan membuka jalan agar ke tiga mobil tersebut dapat melaju dengan lancar.
"Rumah sakit!" Andre dengan sifat bar-bar nya berteriak ketika kaca mobil yang ia kendarai terbuka.
Hal tersebut mempermudah perjalan mereka untuk sampai di rumah sakit, dan ketika mereka tiba disana. Azka segera turun dari mobil sambil menggendong Unni menuju ruang tindakan, lalu dengan cepat para medis melakukan pertolongan kepada pasien.
Menunggu di luar ruangan, membuat para pria tersebut terlihat seperti anak kecil yang sedang ketakutan ketika melakukan kesalahan. Benar-benar tidak sesuai dengan wajah sifat aslinya, dengan hal itu membuat Aira berpikir jika wanita yang sedang berada di dalam ruang tindakan itu begitu sangat istimewa.
"Ini semua gara-gara kita, mommy jadi sakit seperti ini." Andra mengusap wajahnya dengan kasar.
Tidak ada yang menanggapi ucapan dari Andra, dimana ketiga pria lainnya itu berpikiran yang sama. Namun semuanya tidak mengungkapkan hal tersebut, hanya fokus untuk menunggu hasil dari pemeriksaan kepada sang mommy .
"Kalian semua, kenapa ada disini?"
Suara itu membuat semuanya mengalihkan pusat perhatian mereka kepada sumber suara, terlihat jika Azka begitu malas untuk menatapnya.
__ADS_1