Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
50.


__ADS_3

Menyelesaikan dengan cepat apa yang kini membuat seorang Azka harus melakukannya sendiri, dengan hal tersebut banyak sekali yang ia dapatkan.


"Apa istriku menanyakan Peter?" Tanya Azka yang kini sedang dalam perjalanan pulang.


"Tidak ada, sepertinya istrimu sangat istimewa." Ujar Kenzo yang memang benar adanya.


Dugh!


Kaki jenjang itu menendang kursi kemudi yang Kenzo tempati, Azka sangat tidak suka jika ada orang lain yang memujinya. Terlebih lagi mereka adalah laki-laki, Azka tidak akan sudi jika itu terjadi.


"Jangan pernah membuatku murka." Ketus Azka.


"Iya iya, sorry." Kenzo segera mengakhiri ucapannya, ia sadar jika Azka tidak menyukai jika miliknya diganggu.


Pada akhirnya mobil itu berhenti, Azka segera turun dan masuk ke dalam mansion. Langsung mencari keberadaan sang istri, dimana ia dapatkan jika Unni sedang terlelap di atas tempat tidur.


"Dasar, kau memang sangat berharga sayang. Aku tidak rela jika harus mendengar orang lain memuji dirimu, apakah ini Alasanmu untuk tidak mau dikenal oleh banyak orang?" Azka larut dalam pemikirannya sendiri dan akhirnya ia ikut terlelap bersama Unni.


Saat terbangun, Unni merasakan pinggangnya sangat kaku dan tidak bisa bergerak. Ketika kedua matanya terbuka lebar, mendapati lengan kokoh itu melingkar disana. Baru menyadari jika suaminya ikut terlelap bersama dirinya, perlahan ia menyingkirkan tangan itu.


Sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas Unni melaksanakan ibadah sunnahnya dan kewajibannya, setelah semuanya selesai. Menyempatkan waktu luangnya untuk bertilawah, semuanya itu terhentikan saat mendengar suara ketukan dari pintu kamar mereka. Segera Unni melepaskan kain mukenahnya dan menggantinya dengan menggunakan hijab.


"Siapa?" Ujar Unni dari dalam.


" Ini saya Mawar, nona."

__ADS_1


Membuka pintu perlahan, Unni tidak ingin menganggu waktu istirahat suaminya. Ia keluar dan menemui Mawar, saat mereka berhadapan. Unni merasa ada sesuatu yang sangat penting, karena terlihat dari wajah Mawar yang cukup tegang.


"Iya Mawar, ada apa ya?"


"Mmm, itu non. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan tuan."


"Siapa?" Unni pun merasa curiga, tidak ada tamu yang datang kerumah orang pada waktu sperti ini.


"Saya tidak tahu nona, namun ia bilang ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada tuan."


Tidak mungkin untuk membangunkan Azka saat ini, suaminya itu terlihat begitu tenang. Jarang sekali Azka mendapatkan ketenangan dalam berisitirahat, Unni memutuskan untuk menemuinya.


"Biar saya saja yang menemuinya, kamu temani saya ya."


"Baik nona, tapi. Apakah tidak apa-apa nantinya, nona." Mawar takut akan kemarahan tuan mereka.


Unni menarik tangan Mawar agar mereka bergegas, entah mengapa hati Unni seperti merasakan ada yaang tidak beres. Ketika Hugo sudah bersama mereka, kemudian menemui tamu yang tidak mereka ketahui siapa.


"Paman." Unni meminta Hugo untuk menyapa orang tersebut.


"Tuan, anda siapa?" Hugo tanpa berbasa-basi untuk segera menyakan hal tersebut.


Seorang pria dengan perawakan yang cukup baik, mengenakan pakain formal seperti hendak bekerja. Saat pria itu membalikkan tubuhnya, mereka semua dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas.


"Ady!" Gumam Unni.

__ADS_1


"Unni!"


Mereka berdua sama-sama bergumam, tidak menyangka jika keduanya saling mengenal. Hal tersebut membuat Hugo maupun Mawar menjadi bingung, karena keduanya saling menyebutkan nama.


"Nona, anda mengenalnya?" Bisim Mawar.


"Nona." Hugo pun demikian meminta pernyataan dari Unni.


Melepaskan nafas leganya, Unni menganggukkan kepalanya sebgaia tanda jika ia mengenal orang tersebut. Lalu ia mengajak Mawar untuk menemainya berbincang-bincang pada tamunya itu, Hugo pun kembali untuk bersiap-siap dengan tugasnya.


Bersama Mawar, Unni mencoba mendekati Ady. Berbagai banyak pertanyaan sudah berada di dalam pikiran Unni saat ini.


"Apa kabarmu, Ni?" Ady membuka suara.


"Alhamdulillah baik, maaf sebelumnya. Ini masih terlalu pagi, apakah ada kepentingan yang cukup mendesak?" Unni takut jika terlalu banyak bicara pada pria, dapat menimbulkan kecemburuan pada suaminya.


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Kamu, kenapa bisa disini?" Ady merasa heran dengan keberadaan Unni di mansion milik tuannya.


Tidak ada jawaban yang Unni berikan, ia ragu untuk menyampaikan mengenai apa yang ditanyakan oleh Ady padanya. Putri hadir dengan membawakan minuman untuk mereka, lalu Unni juga menahannya agar menemani dirinya bersama Mawar.


Rasa penasaran dalam benak Ady sangatlah besar, bagaimana bisa Unni yang dimana merupakan temanya saat di panti asuhan bisa berada disini. Namun rasa penasaran itu belum menemukan jawaban dan harus tertahankan.


"Sayang! Sayang!" Suara teriakan yang cukup keras terdengar dari lantai atas.


"Nona, tuan memanggil anda." Putri berbisik pada Unni.

__ADS_1


Belum sempat menjawab panggilan tersebut, Azka sudah mendapati dirinya dari lantai atas. Dengan cepat langkah kaki jenjang itu menuruni anak tangga untuk menghampiri Unni, karena Azka melihat ada pria yang berada disana.


__ADS_2