Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
59.


__ADS_3

"Hei, ada suara dari dalam sana." Salah satu dari orang-orang tersebut berbisik pada temannya.


Lalu temannya itu berjalan mengendap mendekati, dimana ia mendapati Unni yang sedang menghubungi seseorang. Dengan cepat orang tersebut menyingkirkan benda pipih itu, dan mereka berhasil membuat Unni kaget.


Tidak ingin ada yang membocorkan apa yang telah mereka lakukan, membuat orang-orang tersebut mau menghabisi hawa Unni. Dengan keadaan seperti itu, membuat Unni kesulitan untuk menghindar.


"Habisi saja, jangan sampai dia membocorkan semuanya."


"Ja jangan, tolong jangan." Unni memohon agar tidak melakukan apapun kepada dirinya.


Tanpa mengucapkan apapun, orang-orang tersebut mendorongnya dengan begitu kuat. Membuat dirinya terhempaskan ke lantai, tidak sampai disana. Mereka juga menampar wajahnya berulang kali, dimana sudut bibirnya sudah mengeluarkan cairan merah dan juga memar.


Menarik kedua kakinya dan menyeretnya keluar dari ruangan tersebut, tidak ada sedikitpun mereka merasa iba kepada wanita itu.


"Hei, tinggalkan saja dia. Kita harus pergi!" Teriakan dari temannya menghentikan semuanya.


Karena waktu mereka telah habis, jika terlambat sedikit saja. Maka mereka akan berhadapan dengan leader Red Dragon, maka dari itu mereka segera menghilang. Akan tetapi, sebelum mereka benar-benar menghilang.


Dor!


Suara tembakan membuat semuanya berakhir, para penyusup tersebut telah menghilang.


Tap!


Tap!


Langkah besar itu semakin mendekat, betapa kagetnya melihat ruangan yang sebelumnya ia tinggalkan dalam keadaan sudah berantakan.


"Sayang!"

__ADS_1


"Sayang, apa yang terjadi!" Azka meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Cari tahu semuanya ini!! Cepat!" Teriak Azka memerintahkan kepada para anggotanya untuk segera melacak dan menemukan penyusup tersebut.


"Sa sakit, hubby sakit!" Erang Unni merasakan perutnya yang seperti di aduk.


"Kita kerumah sakit, bertahanlah. Ku mohon, sayang." Kepanikan penuh kekhawatiran Azka mendapati Unni dalam keadaan yang cukup mengenaskan baginya.


Kenzo segera melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, saat berada didalam mobil. Unni terus meringgis dengan memegang perutnya, hingga kepanikan itu menjadi bertambah. Dimana pakaian yang dikenakan Unni telah berubah warna pada bagian bawahnya, wajah pucat itu pun semakin melemah.


"Tidak sayang, kumohon bertahanlah." Air mata telah membasahi wajah Azka.


"Hu hubby, aku sudah tidak kuat. Ini sangat sakit." Erang Unni dengan mata tertutup.


"Bertahanlah sayang, kamu pasti kuat."


Namun tubuh mungil itu terus melemah, dengan cairan berwarna merah terus mengalir. Kenzo yang selalu berwajah datar, tapi saat ini ia sangat tegang. Bahkan dirinya merutuki laju mobil yang ia kemudikan, terkesan sangat lamban baginya.


"Tidak, tidak sayang. Bangun, bangunlah. Sebentar lagi kita akan sampai dirumah sakit, kumohon bangun!" Azka mengguncang tubuh mungil itu agar meresponnya kembali.


"Bangun! Buka matamu, buka sayang!"


Hal tersebut membuat Kenzo semakin panik, laju mobil itu semakin tak terkendalikan melesat diatas jalan beraspal. Dalam kepanikan tersebut, Kenzo menghubungi Mark,


"Siapkan dokter nona di pintu darurat, sekarang!" Singkat Kenzo dngan salah satu tangannya yang masih fokus untuk mengemudikan laju kendaraan.


"..."


"Siapkan saja, cepat. Nona sudah hilang kesadarannya!"

__ADS_1


"..."


"Bre***k kau!" Pembicaraan itu terhentikan, dan Kenzo kembali fokus untuk segera sampai.


Dalam suasana yang cukup tegang, tim alpa bersama David dan Eiger bergerak mencari pelaku yang sudah membuat kekacauan tersebut. Sebelumnya, Azka dan Kenzo sudah mencurigai klien itu. Tiba-tiba saja ingin bertemu dan memutuskan kesepakatan kontrak kerja yang sudah berjalan, tentu saja membuat Azka murka.


Namun ternyata, semuanya itu sudah terencana. Sehingga kini, ia harus mengalami kejadian yang tidak di inginkan.


.


.


.


.


Saat itu, Mark baru saja selesai dari tugasnya menghadapi pasien di ruang operasi. Melepas penatnya dengan beristirahat di dalam ruangannya, tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar.


"Huh, bisakah aku tenang sebentar saja hari ini? Sungguh melelahkan." Walau dengan menggerutu, ia tetap menerima panggilan masuk yang ternyata dari Kenzo.


"..."


"Apa-apaan! Jangan bermain-main Kenzo, aku sangat lelah. Kenapa juga aku harus menyiapkan dokter untuk istri pria batu itu."


"..."


"Apa?! Apa yang terjadi? Kalian selalu seperti ini, menyebalkan!"


"..."

__ADS_1


"Seharusnya kalian tidak melibatkannya, kenapa tidak kalian saja hah!" Mark mengerutu akan kejadian yang baru saja ia dengar.


Pada awalnya ia tidak terlalu menanggapi ucapan Kenzo, namun ketika menyebutkan nama dari orang yang cukup ia segani. Membuat dirinya berputar balik untuk segera menyiapkan apa yang akan diperlukan, tentunya ia menarik Sovia yang sedang dalam keadaan mengoperasi pasiennya. Menggantikannya dengan dokter lainnya, kini mereka sudah menunggu.


__ADS_2