
Semenjak ancaman yang Azka berikan padanya, membuat hidup Unni seperti patung hidup yang hanya bisa bergerak atas perintah tuannya.
"Ni, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali." Jihan merasa ada yang aneh pada temanya.
"Tidak ada apa-apa, aku sedang puasa sunnah."
"Ya ampun, maaf ya Ni. aku tidak tahu kalau kamu sedang puasa, aduh kamu sih nggak bilang." Jihan merasa tidak enak karena sudah memaksa Unni untuk ikut ke kantin.
"Sudah, tidak apa-apa kok. Lagian aku akan bosan jika sendirian di ruangan." Jawab Unni yang tidak ingin membuat temannya menjadi merasa bersalah.
Saat kembali dari kantin, Unni diminta oleh Azka kembali ke ruangannya. Jihan yang melihat ekspresi wajah temannya itu menjadi iba, ia tahu jika tuannya pasti akan memberikan pekerjaan yang berat.
"Sabar ya Ni, nanti biar aku yang ngerapiin kerjaan kamu."
"Terima kasih ya, aku ke ruangan pimpinan dulu."
Jihan melihat Unni berjalan dengan tidak berdaya, banyak sekali pertanyaan yang terlintas di dalam kepala Jihan atas perlakuan bos mereka pada Unni. Apa karena penampilannya yang berbeda dari yang lain atau ada permasalahan?
"Selamat siang. Assalamu'alaikum. " Ucap Unni dengan sangat pelan.
"Duduk." Titah Azka dengan suara yang begitu penuh penekanan.
Tidak ingin membuat suasana gaduh, Unni segera duduk mengikuti perkataan tersebut. Namun, hatinya merasa tidak nyaman dengan keadaan saat itu, karena mengingat sikap Azka padanya yang sudah sungguh di luar batas.
" Selesaikan laporan ini, sekarang." Melemparkan berkas kepada Unni.
Tanpa persiapan, menangkap berkas tersebut. Cukup lumayan berat untuk dirasakan, Unni harus menghela nafasnya saat tahu jika hal tersebut adalah akal-akalan dari pria dihadapannya. Ingin ia memberontak dan menolak, tapi itu akan sia-sia saja karena setiap perintah darinya tidak akan pernah bisa ditolak.
__ADS_1
"Baiklah tuan, apa ada lagi?"
"Tidak ada, keluarlah." Menggerakkan tangannya dan tidak menatap lawan bicaranya.
...Ya Allah, manusia ini terbuat dari apa hatinya? Seenaknya saja memberikan perintah tidak masuk akal seperti ini, ini kan laporan yang sudah direvisi bulan lalu. Apa dia tidak melihat tanggalnya? Aneh....
Berjalan keluar dari ruangan yang terasa seakan membuat Unni sesak, membawa berkas yang beratnya sama seperti sekarung beras. Betapa teganya, membiarkan wanita membawanya sendirian.
...Ada apa dengan dia, tida, seperti biasanya menurut dan wajahnya sedikit pucat? Ah, kenapa aku jadi memikirkannya. Sialan....
Berkas tersebut segera Unni kerjakan, Jihan dan teman lainnya hanya menatap iba padanya. Jihan hendak membantu Unni, namun mendapatkan peringatan keras dari Azka langsung bahwa tidak ada yang boleh membantu Unni sedikitpun. Peringatan itu tidak main-main, hukuman yang akan mereka terima sangatlah besar.
Pada saat jam kantor telah usai, Jihan menghampiri Unni. Memastikan jika ia akan baik-baik saja.
"Unni, ini. Dijamin halal, untuk kamu berbuka puasa nanti. Seandainya aku bisa membantumu, pasti akan cepat terselesaikan." Jihan mengerutu akan pekerjaan yang diberikan kepada Unni.
"Huh, baiklah. Nanti kalau kamu perlu apa-apa, telfon aku ya. Aku akan segera datang, oke."
"Ia insyaa Allah, terima kasih ya."
Semua karyawan telah pulang, hanya ada beberapa saja yang masih berada di perusahaan karena pekerjaan yang harus diselesaikan. Begitu juga dengan Unni, menikmati makanan yang diberikan oleh Jihan. Membantunya untuk berbuka puasa, lanjut dengan menunaikan kewajibannya dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang masih sangat banyak.
Hal itu tak luput dari penglihatan Azka dari ruangannya, perasaan itu mengalir begitu saja. Bahkan ia mengabaikan Eiger yang meminta dirinya agar datang ke markas milik mereka, kali ini ia begitu betah berada di dalam ruangannya dengan menatapi layar monitor didepannya.
"Sedang apa dia? Makan pada waktu seperti ini, apa itu tidak akan merusak pencernaannya?" Azka terus mengomentari setiap pergerakan yang dilakukan oleh Unni.
Tak henti-hentinya mulutnya berbicara dengan layar monitor didepannya, jika orang lain melihatnya akan mengatakan dirinya seperti orang bo**h. Beberapa kali ia melihat wanita berhijab itu memijat keningnya, sempat berpikir jika dirinya telah berlebihan memberikannya pekerjaan.
__ADS_1
Terdengar suara dari interkom di ruangan Unni, memintanya untuk segera datang ke ruangan sang pimpinan. Dengan tenaga yang sudah sangat menipis, Unni berjalan dengan membawa pekerjaan yang baru saja ia selesaikan sebagian.
Pintu ruangan itu sudah terbuka, memudahkan bagi Unni untuk masuk ke sana. Terlihat Azka yang sudah menunggu dirinya dengan duduk pada kursi kerjanya, bersandar dan menyilangkan kedua tangannya.
"Permisi tuan, saya baru sebagian menyelesaikannya." Meletakkan berkas tersebut ke atas meja.
"Karyawaan sepertimu memang harus diberi hukuman, sangat tidak profesional dalam bekerja."
"Huh, terima kasih atas pujiannya tuan."
"Apa kau bilang, hah?! Pujian? Bahkan aku tidak sudi mempunyai karyawaan sepertimu ini."
Perasaan Unni semakin tidak menentu, kepalanya berdenyut begitu hebat. Jika harus menanggapi setiap ucapan Azka padanya, yang ada dirinya akan semakin pusing. Berlama-lama disana membuatnya bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.
"Mau kemana kau, hah?! Aku masih bicara, kalau begini. Dari awal aku tidak akan menerimamu menjadi karyawaan di perusahaan ini." Terlihat jika Azka tersulut emosinya dan ia mengejar Unni serta menutup pintunya.
Brakh!
"Apa yang anda lakukan? Buka pintunya!" Unni pun tidak kalah untuk meluapkan emosinya.
"Beraninya membentakku!"
Menarik tangan Unni dengan kuat, menghempaskannya hingga bertabrakan dengan meja kerjanya. Seringai Azka berikan.
"Kali ini kau tidak akan bisa lepas, sudah cukup aku bersikap baik padamu."
Sorot mata Azka memerah, aura keji terlihat begitu nyata. Menarik bagian tangan kemejanya sangat ke siku, mencengkran rahang dengan kuat. Bahkan ia tidak membiarkan adanya jarak pada wajah mereka, kembali melakukan hal yang sangat Unni benci.
__ADS_1