Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
38.


__ADS_3

Rasa nyaman yang ada, ditambah dengan aroma vanili yang sangat ia kenal. Membuat Unni menatap orang tersebut.


"Tuan."


"Kamu tidak apa-apa?" Raut wajah Azka yang begitu khawatir.


Mendapati pria yang begitu ia cintai berada dihadapannya, membuat Jenie merubah sikapnya dengan cepat. Membenarkan posisi tubuhnya agar terlihat baik didepan Azka, bahkan wajah itu berubah menjadi manis sekali.


"Azka! Ah, aku merindukanmu." Jenie merentangkan kedua tangannya seakan ingin memeluk Azka.


Bugh!


Tubuh Jenie tiba-tiba terhuyung dan terhempas jatuh ke lantai, rupanya Azka mengayunkan salah satu kakinya sehingga membuat Jenie seperti itu. Jenie berteriak dan tidak terima dengan sikap Azka pada dirinya, lalu ia menatap tajam pada Unni.


"Hanya demi wanita seperti ini, kau berani membuatku terluka! Aku tidak menerimanya!" Jenie berteriak dan mengambil senjata dari salah satu pengawalnya.


Mengarahkannya pada Unni yang masih berada didalam pekukan Azka, dengan itu semakin Jenie murka.


Dor!


Seringai itu muncul pada wajah Jenie, setelah menembak ia segera lari dari sana dengan halauan dari pengawalnya.


"Tu tuan, tuan tidak apa-apa?" Kini Unni yang dilanda kekhawatiran.


Tembakan itu mengarah pada Azka dan juga Unni, namun Azka menghadangnya dengan tubuhnya. Dimana hal itu membuat tubuhnya kembali terluka, tepat mengenai lengannya.


"Tidak apa-apa, lebih baik kita segera pergi dari tempat ini." Terlihat jika mereka menjadi pusat perhatian oleh banyak orang.


Dalam rangkulannya, Azka segera membawa Unni untuk pulang. Sedangkan Putri dan Mawar ikut bersama para anggota lainnya.


Dalam perjalan menuju mansion, Unni memperhatikan Azka. Sorot matanya mencari sesuatu yang ia khawatirkan, lalu hal tersebut mendapat respon balik dari Azka.


"Jangan menatap ku seperti itu." Ujar Azka yang masih fokus mengemudikan mobilnya.


"Terima kasih, anda sudah menyelamatkan saya." Dengan gugup Unni mencoba menetralkan detak jantungnya.

__ADS_1


"Hem."


Jawaban yang cukup singkat untuk Unni, namun wanita itu masih sangat merasa tidak nyaman. Ia tahu jika Azka sedang menghindarinya, atas pertanyaan dan ucapan yang sebelumnya ia berikan pada Azka.


Hingga mobil itu berhenti, dimana mereka telah sampai di mansion. Saat Azka berjalan mendahului Unni, terlihat jelas ada cairan merah yang menetes dari sisi bagian tangan Azka.


Tanpa bertanya, Unni menahan Azka dan membawanya untuk duduk. Sangat panik yang Unni rasakan, ia segera mencari obat untuk mengobati luka itu. Namun saat hendak melangkah, Azka menahan tangan Unni.


"Tidak perlu."


"Tapi, luka itu." Ucapan Unni terbata-bata.


Azka beranjak dari tempatnya, ia tahu jika Unni khawatir dengan apa yang ia alami. Berniat untuk kembali menuju markas, Azka tidak ingin Unni melihat luka itu. Dimana ia masih menghindari wanita itu.


"Jangan pergi, maaf." Unni memeluk Azka dari arah belakang.


Azka terdiam, ia melihat kedua tangan wanita mungil itu melingkar pada tubuhnya. Pertanda apakah itu, dirinya tidak ingin terlalu jauh untuk mengkhayal mengenai perasaan yang ada diantara mereka berdua.


"Alasan apa yang membuat diriku harus menuruti ucapanmu?" Kali ini, Azka sengaja mengeluarkan kalimat tersebut untuk mengetahui isi hati Unni.


"Jangan memaksakan diri, masuklah."


Langkah kaki Azka berjalan perlahan menuju pintu utama, ia merasakan sesuatu yang berbeda jika terus berada disana. Takut akan pertahanannya goyah, maka dari itu ia lebih memilih untuk menjauh.


Brugh!


Tubuh Azka sedikit terhuyung karena tabrakan dari tubuh mungil itu, kembali ia melingkarkan tangannya pada tubuh Azka.


"Aku, aku menerima pinanganmu tuan." Unni membenamkan wajahnya pada punggung Azka dari arah belakang.


Degh!


Degh!


Degh!

__ADS_1


Perkataan itu, benar-benar telah menyihir Azka menjadi bak sebuah patung. Ingin percaya atas apa yang dikatakan oleh Unni padanya, tapi di satu sisinya ia masih takut jika wanita mungil ini merasa terpaksa dengan dirinya.


"Pikirkan baik-baik, aku tidak mau jika ini membuatmu merasa terpaksa."


"Tidak! Tidak tuan, ini murni dari hatiku. Hanya saja, emh." Ucapan Unni terhentikan.


Karena ucapan Unni tidak sempurna dan kedua tangan mungil itu terlepas dari tubuhnya, membuat Azka membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Unni.


"Hanya apa?" Azka sedikit berjongkok dihadapan Unni.


Menantikan jawaban yang sangat ia tunggu, berharap jika jawaban itu benar-benar membuatnya bahagia.


"Hanya saja, restu kakakku yang utama."


Kaki Azka seakan lemas dan tidak bertenaga, ia menyangka jawaban yang Unni berikan akan membuatnya bergelut dengan perasaan. Namun ternyata, sungguh luar biasa di luar dugaan.


"Restu itu sudah aku dapatkan, benarkah ini semua jawaban nyata untukku?"


"Hem." Dengan tersipu malu, Unni menyakinkan kebenaran akan ucapannya kepada Azka.


Sungguh hati Azka seakan mendapatkan hembusan angin yang sejuknya sangat mendamaikan, keduanya kini larut dalam perasaan tersendiri.


"Argh!" Azka meringgis dengan luka yang ada.


"Tuan, sudah dibilangin tadi kan. Ngeyel terus." Ketus Unni yang membantu Azka untuk duduk pada kursi di ruang utama.


"Tadi tidak terasa sakit, tapi sekarang sakitnya baru terasa." memicingkan matanya, yang ternyata hanya bualan Azka saja.


"Kita kerumah sakit saja ya, atau meminta dokter Mark kemari?" Unni memeriksa luka yang terdapat pada lengan Azka.


Membuka jas yang digunakannya, baju kemeja itu sudah berubah warna pada bagian lengannya. Luka itu akibat dari anak peluru yang menggores lengan Azka, hanya saja Azka membuatnya seperti luka besar untuk mendapatkan perhatian.


"Tidak! Aku malas jika anak itu ada disini, ambilkan saja kota obatnya. Nanti, aku akan membersihkannya sendiri." Ujar Azka yang sudah mulai membuka kancing baju kemejanya.


Menuruti ucapan itu, Unni segera mengambilnya dan tak lupa dengan ai hangat beserta handuk kecil untuk membersihkan luka.

__ADS_1


__ADS_2