Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
57.


__ADS_3

"Argh, sial!" Baron mengerang dengan sangat keras.


Mengetahui jika kekalahan yang kembali ia terima, merasa tidak puas akan apa yang telah ia lakukan. Ia kembali mengatur siasat untuk segera membalas apa yang sudah terjadi, ia kini mengetahui apa yang menjadi titik lemah dari lawannya. Akan tetapi, ia tidak ingin terlalu terburu-buru lagi dalam bertindak, dan satu lagi. Ia mendapatkan kunci kelemahan dari titik lemah seorang Azka.


"Lihat saja nanti, kau akan aku balas."


.


.


.


.


Kondisi Unni kian membaik, dimana Sovia mengizinkan dirinya untuk bisa pulang.


"Ingat sayang, tidak ada alasan apapun untuk kamu melakukan hal-hal yang bisa membuat kelelahan." Menenami Unni beristirahat di dalam kamar, Azka pun ikut merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


"Akan membosankan jika terus-terusan di tempat tidur seperti ini, hubby." Protes Unni atas perintah Azka padanya.

__ADS_1


"Tidak, tidak, dan tidak. Ingat baby sayang, aku tidak mau kalian kenapa-kenapa. Ayo istirahat."


Memutar kedua bola matanya dengan sangat malas, Unni sudah bisa menebak. Akan percuma saja berdebat dengan suaminya itu, dapat dipastikan jika dirinya akan kalah.


Berita mengenai kehamilan Unni, membuat seluruh penghuni mansion maupun markas menjadi bahagia. Karena mereka akan segera mempunyai tuan muda, sang pewaris dari tuannya saat ini.


Membawa Unni untuk tinggal di mansion lainnya, pada akhirnya. Azka memutuskan untuk menghancurkan mansion lamanya, yang kini sudah rata dengan tanah. Tidak ingin membuat istrinya mengingat akan kejadian tersebut, dan memilih memulai kehidupan yang baru serta suasana baru juga.


"Sayang, aku akan pergi sebentar. Tidak apa-apakan jika aku tinggal?" Azka mengenakan pakaian seperti biasanya yang ia kenakan saat bekerja.


"Iya Hubby, disini juga sudah banyak yang menjaga. Emm, nanti boleh titip beli sesuatu tidak?"


"Asinan buah."


"Hah, apa? Makanan apa itu sayang? Jangan makan yang aneh-aneh. Nanti kamu dan baby kenapa-kenapa. Yang lain saja ya."


Menghela nafas beratnya, Unni mengambil ponsel dan mencari tahu apa itu asinan buah. Lalu ia memperlihatkannya pada Azka.


"Oh, ini toh makanannya. Tapi sayang, ini tidak sehat. Nanti biar Mawar yang buatkan, lebih terjamin kebersihannya."

__ADS_1


"Tapi,..."


"Tidak ada tapi-tapian, ini semuanya demi kalian. Oke."


Memberikan kecupan singkat pada puncak kepala Unni, dan mencium perut ya g masih terlihat rata itu dengan lembut.


"Daddy pergi sebentar ya, jangan membuat mommy merasa lelah dan kesakitan baby." Azka berbicara dihadapan perut Unni.


"Iya daddy, hati-hati dijalannya dan cepat kembali." Lalu Unni mencium punggung tangan kanan Azka dan melepas suaminya itu untuk bekerja.


Baru saja berada diujung pintu kamar, Azka membalikkan kembali tubuhnya. Bergaya seperti memberikan kesan yang lucu, agar istrinya itu tertawa. Dan itu berhasil, membuat Unni tertawa terpingkal-pingkal.


Setelah Azka pergi, Unni menggerakkan tubuhnya untuk sekadar berjalan menuju balkon kamarnya. Menghirup udara yang cukup segar disana, ia pun dapat melihat mobil yang Azka gunakan masih berada di teras depan mansion.


"Sayang!" Azka berteriak saat mendapati Unni berdiri di balkon.


"Hanya sebentar, jangan khawatir." Balas Unni dari atas balkon.


"Tidak, masuk dan beristirahatlah!" Suara keras itu kembali terdengar.

__ADS_1


Tidak ingin membuat suara itu semakin menjadi kerasnya, Unni segera masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia merasa geli sendiri dengan sikap Azka yang semakin berubah, tidak kaku dan dingin berlebihan seperti dulu.


__ADS_2