Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
80.


__ADS_3

Setelah selesai dengan bekal makan siang untuk suaminya, masih ada waktu untuk berisitirahat sejenak. Entah mengapa kaki itu mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar kedua putra kembarnya, terlihat tidak ada yang aneh. Namun, naluri seorang ibu tidak akan pernah bisa ditipu.


"Apa ini?" Unni menemukan sebuah benda yang cukup membuatnya berpikir keras, karena benda itu berkaitan seperti dunia yang selama ini suaminya jalani.


Begitu pun pada kamar yang berikutnya, Unni tidak menemukan benda seperti di kamar sebelumnya. Namun, saat ia membuka laci kecil pada bagian dibawah meja. Betapa kagetnya ia menemukan beberapa buku tabungan, dengan atas nama sang anak. Dan jumlahnya juga tidak bisa dikatakan masuk logika untuk anak seusia mereka, sedangkan Unni tahu betul pengeluaran yang ia berikan untuk anaknya.


"Astaghfirullah, apa mataku tidak salah lihat?" Unni meneliti satu persatu buku tabungan tersebut.


Saat jam makan siang akan segera tiba, ia bergegas untuk menuju perusahaan sang suami. Seperti biasa, Unni akan masuk melalui pintu khusus yang Azka sengaja buatkan agar istrinya itu nyaman. Masih dengan pendiriannya yang tidak ingin dikenal oleh publik, apalagi semenjak kejadian yang hampir menghilangkan nyawa istrinya. Azka semakin bertindak protektif, semakin bertambah usianya maka semakin bertambah pula rasa cinta dan sayangnya kepada wanita tersebut.


"Assalamu'alaikum dad." Unni mencium punggung tangan Azka yang menyambutnya dengan begitu hangat.


"Wa'alaikumussalam, aku sholat dulu ya. Kamu sudah sayang?" Azka menerima bekal yang Unni bawa dan meletakkannya di atas pantry diruangannya.


"Sudah dad, sholat saja dulu. Biar makanannya aku siapin ya."


Dengan cepat Azka menyegerakan kewajibannya yang sudah mulai rutin ia kerjakan, perubahan kecil yang diberikan oleh sang istri kepadanya.


Lalu mereka dengan penuh keceriaan menikmati makan siang bersama, dengan masakan yang Unni masak sendiri. Karena Azka tidak menyukai masakan di luar sana, kalau tidak karena terpaksa.


Setelah selesai, Unni pamit untuk pulang. Namun pada awalnya, Azka menahannya untuk pulang bersama. Akan tetapi, Unni memahami sifat sang suami. Dimana jika dia berada disana, yang ada kerjaan akan semakin menumpuk.


Menyimpan dengan baik, beberapa benda yang ia temukan. Tidak ingin gegabah dalam mengambil sikap, akhirnya Unni berpikir untuk mencari waktu yang pas agar bisa berbicara pada anak-anaknya.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


"Permisi nona, ada seseorang yang ingin menemui tuan muda. Namun sudah kami katakan jika tuan muda tidak ada. Dia masih tetap menunggu, nona." Kepala pelayan tersebut memberitahukan kepada Unni dan memperlihatkan CCTV dari tablet yang berada ditangannya.


Kening Unni nampak berkerut, seorang wanita?!


.


.


.


.


Wanita itu tampak kaget saat melihat Unni yang menemuinya, ia tidak bisa berkata apa-apa, karena merasa dirinya begitu jauh berbeda.


"Ayo duduk dulu, tidak baik berdiri lama-lama." Unni tersenyum lalu meraih lengan wanita tersebut untuk mengajaknya duduk bersama di dalam mansion.


Meminta kepada pelayannya untuk membuatkan minuman dan makanan untuk tamu mereka, Unni melihat jika wanita tersebut sedikit bingung dan tubuhnya bergetar.

__ADS_1


"Nama kamu siapa?"


"Eee, eee sa saya Aira nyonya." Jawabnya dengan kepala tertunduk dan juga terbata-bata.


"Cukup tante saja sayang, kamu mau menemui Varo?"


"Iya nyo, tan te."


Saat minuman telah datang, Unni mempersilahkannya untuk menikmati terlebih dahulu suguhan yang ada.


"Assalamu'alaikum, mom." Suara Varo yang baru saja tiba dan langsung menghampiri sang mommy untuk mencium punggung tangannya.


"Wa'alaikumussalam, tumben pulang lebih awal?"


"Ingin saja mom, belum ada pekerjaan yang berat. Uncle Ady masih bisa menghandle nya." Varo ikut duduk disamping Unni dan belum menyadari kehadiran seseorang disana.


"Jangan dibiasakan memberikan uncle kalian pekerjaan yang berat, mereka juga butuh waktu untuk istirahat. Ada yang mau bertemu denganmu bang."


Ucapan Unni menyadarkan Varo yang sempat memejamkan kedua matanya untuk melepas lelah, lalu ia menatap Unni dengan penuh tanda tanya. Dengam cepat Unni memberikan isyarat dengan gerakan matanya, dan Varo mengikutinya.


"Kamu!"


Sontak saja kedua mata Varo melebar dan ia tidak percaya jika wanita tersebut berani menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2