
Entah mengapa, Azka begitu tenang saat mendengarkan suara itu. Diantara kamar utama dan kamar milik Unni, ruangan itu dipertemukan dalam satu balkon besar disana.
Disanalah Azka berada, duduk menghadap pemandangan yang selalu menemaninya.
Srakh!
Srakh!
Suara seperti pergerakan dari orang tersembunyi, menyadarkan Azka dari keheningannya. Ia bergerak untuk mencari tahu hal tersebut, keadaan terlihat cukup tenang dan seperti tidak ada sesuatu apapun.
"Awas!"
Crash!
Mendapatkan seorang penyusup yang menghampiri dan juga melukai dirinya, dengan cepat Azka memberikannya balasan bertubi-tubi. Azka melupakan keberadaan Unni disana, ia harus menyaksikan kembali seorang Azka dalam melenyapkan mangsanya.
Saat itu juga, para keamanan dan anggota yang lainnya mendapatkan penyusup lainnya yang berjumlah empat orang. Semuanya dalam keadaan tewas, pada saat mereka ditangkap. Dalam keadaan sudah tak berdaya, mereka tiba-tiba saja tewas seketika.
" Tuan, anda tidak apa-apa?" Kenzo berlarian menghampiri Azka.
" Hem, perketat keamanan. Jangan sampai ini semuanya terulang lagi, jangan lupa selidiki siapa mereka." Berkacak pinggang, Azka menatapi para penyusup tersebut.
Menganggukan kepala, Kenzo mendapati Unni yang duduk terdiam pada sisi dibelakang tubuh Azka. Kenzo segera memberikan kode kepada Azka, agar dia melihatnya. Namun Azka tidak menyadarinya, yang pada akhirnya membuat Kenzo harus memanggil nama itu.
"Nona Hafsah, anda tidak apa-apa?"
Azka tersadar dengan nama tersebut, ia langsung menghampiri Unni yang masih terdiam.
"Kami tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?" Azka begitu tampak khawatir dan cemas.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, tangan itu terluka lagi. Sebaiknya segera di obati."
"Tunggu." Azka menahan Unni dengan menarik tangannya.
"Ada apa?" Unni berbalik dan tersenyum.
"Maafkan aku, kau harus melihatnya kembali." Azka sadar jika Unni pasti menyaksikan aksinya.
"Hem, ayo. Lukanya harus segera di obati." Unni melepas tangan Azka dari tangannya, berjalan terlebih dahulu untuk masuk.
Menatap tangannya yang terlepas, Azka merasa jika dirinya terlalu tinggi untuk mencapai Unni yang terlihat begitu sempurna untuk dirinya.
Berjalan dengan perlahan sambil menghela nafas beratnya, Azka masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Kenzo, kembali menjadi saksi untuk dua manusia yang sedang jatuh cinta itu.
.
.
.
Tanpa ada penolakan, Azka menuruti semua perkataan Unni padanya. Disaat tangan mungil itu mulai menyapu tangannya yang terluka, Azka menatapi wajah sang pemilik tangan mungil tersebut.
Tidak ada percakapan apapun diantara mereka berdua, sampai Unni telah selesai dengan mengobati luka Azka. Mereka hanya diam, karena tidak ingin berlama-lama disana yang takutnya akan menimbulkan sebuah fitnah untuk keduanya. Unni segera pamit untuk kembali ke kamarnya, hal tersebut tidak pula Azka tahan.
Beranjak dari tempatnya, saat bertepatan di depan pintu kamar Unni. Azka berhenti sejenak, namun setelahnya ia melanjutkan langkah kakinya menuju markas.
Setibanya ia disana, melihat Peter dengan nafas yang bergemuruh menghajar beberapa orang penyusup yang masih sempat di selamatkan. Berjalan sangat cepat, Azka menghentikan aksi Peter.
"Kita masih butuh mereka." Azka menarik bahu Peter dan menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Bagaimana adikku?"
"Dia tidak apa-apa, amankan mereka." Azka mengintruksi anggotanya untuk membawa tawanan mereka.
Keduanya lalu membicarakan mengenai peristiwa ini, dalam ruangan yang cukup tertutup. Azka mengajak Peter untuk berbicara mengenai kedatangan Jenie, bahkan ia bisa menebak jika peristiwa tersebut bisa saja berkaitan dengan wanita itu.
"Kau mencurigainya? Itu tidak mungkin terjadi, darimana dia bisa mendapatkan kerjasama dengan salah satu klan yang ada?" Peter tidak percaya dengan ucapan Azka.
"Itu semuanya masih harus diselidiki dulu, hanya saja perasaanku berat ke arah sana."
"Mansionmu sudah tidak aman Ka, sebaiknya aku mencari tempat untuk keamanan adikku."
"Tidak! Kalian akan tetap berada disana, jangan pernah mengambil kesimpulan rendah seperti itu. Kau ingin membahayakan dirinya, haha!" Rahang Azka mengeras mendengar Peter seperti itu.
"Aku berhak untuk mengambil keputusan, karena dia adikku. Kau tidak bisa menghalanginya!" Bentak Peter yang terlalu khawatir dengan keadaan Unni.
"Pikirkan baik-baik, aku tidak akan memaksamu. Hanya saja, aku akan melindungi wanita yang sudah aku yakini menjadi milikku."
"Kau!" Erang Peter yang tidak suka.
"Kau sudah mengetahui seorang Jenie, tidak menutup kemungkinan jika dia menggunakan kelebihan dalam dirinya untuk mendekat pada seseorang." Jelas Azka yang kemudian dicerna oleh Peter.
Dalam diamnya, Peter membenarkan ucapan Azka. Dirinya saja bisa terbuai dalam ucapan manis dan juga sikap dari seorang Jenie, hanya saja rasa ketakutan dan khawatirnya kepada sang adiknya terlalu berlebihan.
"Hah, maafkan aku."
"Jangan mudah terlalu terpedaya oleh emosimu, kakak ipar." Ejek Azka sambil menepuk pundak Peter.
"Kau." Peter kembali dibuat emosi oleh Azka.
__ADS_1