Muslimah Untuk Mafia Psychopath

Muslimah Untuk Mafia Psychopath
68.


__ADS_3

"Baby twins."


"Apa?!" Azka kaget dan hampir saja kursi yang ia gunakan jatuh.


"Hubby." Unni merasa takut jika suaminya akan marah, karena sikap Azka suka tidak bisa dibaca.


"Ya, coba lihat. Ini ada dua kantung kehamilan, keduanya sama-sama terdapat bakal janin. Usianya diperkirakan memasuki lima minggu." Sovia menjelaskan dengan begitu jelas.


"Sayang, anak kita kembar. Kita akan mempunyai anak lagi, dua." Rona bahagia terlihat begitu jelas pada wajah Azka.


Sedangkan Unni, ia tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur atas kebahagian yang telah diberikan kepada keluarga kecilnya. Namun seketika, ia teringat akan putra sulungnya. Semenjak kejadian dimana ia dibawa oleh Azka masuk ke dalam mansion, sejak saat itu juga ia tidak melihat keberadaan sang putra.


Pemeriksaan telah selesai, mendapatkan nasihat untuk kedua kalinya. Dengan keadaan kandungan yang sama dengan kehamilan pertamanya, jika Unni harus bedrest total dengan kehamilan kembar ini.


"Ingat, ini sangat beresiko. Karena kali ini, ada dua janin yang akan tumbuh. Jadikan kehamilan sebelumnya sebagai pelajaran untuk lebih waspada, dan kau Azka. Sebaiknya, tempatkan istrimu ditempat yang tidak terjangkau oleh para rivalmu yang selalu mengincar nyawanya." Sovia menegaskan untuk keselamatan Unni.


"Terima kasih dokter, atas nasihatnya. Nanti akan aku bicarakan dengan suamiku, jika ditanya saat ini. Dia tidak akan bisa menjawabnya." Unni mengusap tangan Azka, menandakan jika dirinya tidak ingin suaminya itu menjadi larut dalam pikirannya saat ini.


"Baiklah, banyakan asupan nutrisi kalian bertiga ya. Jangan sungkan untuk menghubungiku."

__ADS_1


"Baik, terima kasih dokter."


Saat mereka akan keluar dari ruang periksa, Azka menahan Unni untuk berhenti melangkah. Meminta Unni untuk menunggu sebentar, dimana Azka berbicara kepada Sovia dalam bahasa asing yang tidak Unni ketahui artinya.


Melanjutkan langkah untuk pulang kembali ke mansion mereka, didalam perjalanan. Tangan Azka tak henti-hentinya menggenggam tangan Unni, bahkan sesekali ia mencium punggung tangan mungil tersebut.


"Hubby, kamu kenapa?" Unni menangkap sesuatu dari wajah suaminya.


"Hem, tidak ada apa-apa." Ucapan yang tidak biasanya Azka ucapkan kepada Unni.


" Baiklah, oh ya. Kamu melihat Varo? Aku merindukannya."


"Ada di mansion, dikamarnya. Kalau tidak, dia akan bermain dengan dua hewan itu."


.


.


.

__ADS_1


.


Di lain tempat dan negara yang berbeda, sebuah perusahaan yang cukup besar sedang sibuk melakukan transaksi pelelangan produk dari setiap perusahaan yang ikut berpartisipasi dalam sebuah acara amal.


"Baiklah tuan-tuan sekalian, kita akan segera mengumumkan pemenangnya." Pembawa acara dengan sangat antusiasnya mengumumkan kepada para peserta.


Kasak kusuk dari kegelisahan orang-orang yang berada disana, mereka sangat berharap dapat memenangkan pada hari itu. Dan saat yang paling mendebarkan, yaitu ketika nama sang pemenang akan disebutkan.


"Dan pemenangnya adalah... Atas nama, Antasa!"


Suara gemuruh dari Pembawa acara, membuat seluruh isi ruangan tersebut seperti ikut menjadi saksi akan peristiwa saat itu.


"Untuk pemilik dari nama tersebut, kami mohon untuk menaiki podium dan memberikan sedikit ucapannya. Untuk yang dimaksud, waktu dan tempat kami persilahkan."


Semua orang menunggu untuk melihat siapa yang menjadi pemenangnya, karena mereka masih terlalu asing dengan nama tersebut.


Dalam keheningan, terdengar suara langkah kaki yang berjalan menaiki podium. Saat mereka melihat wajahnya dari sang pemenang, betapa kagetnya mereka semua.


Orang tersebut memperkenalkan dirinya dengan menggunakan nama, Wiryantama Antasa. Cukup menarik jika melihat penampilannya, gagah dan tidak terlalu tua. Namun, memikat beberapa hati wanita yang ikut berada disana.

__ADS_1


"Terima kasih semuanya, percayakan semuanya pekerjaan ini pada kami. Maka kalian tidak akan menerima yang namanya kekecewaan, melainkan kepuasan dalam hasil pekerjaan. Tidak akan ada yang berani untuk melawan hasil dari pekerjaan kami, jika itu terjadi. Kami hilang, atau lawan melayang."


Ucapan tersebut sangat menyentuh dan terdengar begitu menyakinkan, bahkan setelahnya. Suara tepuk tangan hampir membuat telinga menjadi berdenging. Namun mereka tidak menyadari, jika orang tersebut sangatlah berbahaya.


__ADS_2